Oleh: Rm. Putranto Tri Hidayat, Carolus | Mei 2, 2010

Kerasulan Kaum Awam, Bagian III: Dekrit Kons Vat II

Bagian ketiga: Berkaca pada Konsili Vatikan II,  Kembali pada Permuridan setelah Paskah

Gerakan pembaruan dan emansipasi kebudayaan di Eropa menyeret pula kaum awam yang selama beberapa abad menjadi murid Yesus nomor 2. Beberapa pemikir Kristen yang datang dari kelas awam pun muncul kembali. Kebangkitan kembali peran serta kaum awam di dalam Gereja harus menyebutkan satu gerakan, yaitu Aksi Katolik, yang muncul di abad XX. Gerakan ini mendorong Gereja untuk semakin menyadari dan menerima tidak saja keterlibatan tetapi juga tugas kaum awam di dalam Gereja[1]. Pelan tapi pasti, gagasan bahwa murid Yesus yang sejati adalah kaum biarawan dan kelas imam semata, mulai dikoreksi. Konsili Vatikan II pun tidak membatasi bahwa hanya para imam dan biarawan yang pantas disebut para murid Yesus yang sejati. Dalam Presbyterorum Ordinis no 9, para Bapa Konsili mengingatkan para imam bahwa mereka berbagi derajat dan martabat yang sama dengan mayoritas mereka yang percaya pada Kristus.

Dekrit tentang Kerasulan Kaum Awam (Apostolicam Actuositatem)[2]

Dokumen ini adalah hasil perdebatan dan diskusi sepanjang lima tahun. Dekrit dapat dipahami dengan baik hanya dengan menghubungkannya terutama dengan dua dokumen konsili Vatikan II lainnya, yaitu Lumen Gentium dan Gaudium et Spes. Dalam dekrit ini, kaum awam tidak lagi didefinisikan secara negatif, yaitu sebagai ‘bukan imam’ (bdk. LG 31), melainkan secara positif, yaitu sebagai anggota aktif Umat Allah yang diutus untuk ambil bagian dalam rencana kesalamatan Allah bagi dunia (bdk. AA 1). Dengan demikian, kaum awam bukanlah warga Gereja kelas 2 atau juga sekedar pembantu hirarki.

Bab Pertama (AA 2-4) mendalami panggilan kaum awam untuk merasul. Ditandaskan bahwa:

  1. kaum awam menerima kewajiban dan haknya untuk merasul berdasarkan persatuan mereka dengan Kristus sang Kepala (Gereja), berdasarkan sakramen pembaptisan dan penguatan; bahkan mereka mendapatkan tugas ini dari Tuhan sendiri (AA 3; bdk. LG 31, 33). Tugas perutusan Gereja itu pada dasarnya satu, yaitu menyebarluaskan Keraajaan Kristus demi kemuliaan Allah Bapa dan tugas yang satu ini dilaksanakan dalam keragaman karya kerasulan (AA 2).
  2. Dua macam bentuk kerasulan awam dalam Gereja:
    1. Internal: dalam Gereja untuk mewartakan Injil dan menyucikan sesama
    2. Eksternal: dalam dunia untuk meresapi dan menyempurnakan dunia dengan nilai-nilai Injili (AA 2)

Bab kedua (5-8) membicarakan tujuan-tujuan yang harus dicapai. Tujuan kerasulan adalah penyelamatan umat manusia dan pembaruan seluruh tata duniawi. Cara mencapai tujuan ini: dengan mewartakan Kristus dan meresapkan tata duniawi dengan nilai Injili (AA 5). Salah satu kesulitan Gereja adalah adanya kebutuhan untuk menggarisbawahi tanggungjawab khusus kaum awam, yakni keterlibatannya di dalam dunia sekuler (AA 2), tanpa menjauhkan kaum klerus dan religius dari tugas-tugas kemasyarakatan mereka. Ketegangan ini nampak dalam artikel 8, di mana disebutkan bahwa semua warga Gereja dipanggil untuk melakukan karya karitatif bagi orang miskin sambil menyadari betapa umat awam memiliki keahlian teknologis di bidang ini. Disebutkan juga kriteria keadilan dan pencarian akar masalah penderitaan dalam melakukan karya amal kasih (AA 8).

Bab ketiga (9-14) membicarakan bidang-bidang kerasulan kaum awam. Bidang-bidang kerasulan itu adalah: jemaat-jemaat Gerejawi, keluarga, kaum muda, lingkungan sosial, tata nasional maupun internasional (AA 9). Bidang-bidang ini perlu diwujudkan di tingkat teritorial parokial maupun kategorial yang lintas paroki. Konsili mengingatkan:

  1. Kaum awam perlu membiasakan diri bekerjasama dengan para imam di paroki
  2. Membicarakan persoalan kemasyarakatan dan segala hal yang menyangkut kesejahteraan sesama dan mengambil langkah konkret secara musyawarah
  3. Terlibat aktif dalam kerasulan dan misi Gereja (AA 10)
  4. Penekanan khusus untuk kerasulan keluarga  dan kaum muda diundang menjadi rasul bagi sesamanya (AA 12)
  5. Betapa pentingnya kerasulan kaum awam sebab merekalah yang dapat meresapi tata dunia ini dengan nilai-nilai Injili (AA 13)

Bab keempat (15-22) membicarakan bentuk-bentuk kerasulan kaum awam. Kerasulan kaum awam dapat dilakukan secara individu maupun dalam perserikatan. Bentuk perserikatan yang dipilih harus memperhatikan beberapa hal:

  1. Perserikatan ini menyatukan iman dan praktek kehidupan sehari-hari (AA 19)
  2. Kaum awam memiliki hak untuk mendirikan perserikatan atau bergabung dengan perserikatan yang sudah ada asalkan tetap berhubungan dengan pimpinan Gereja (AA 19)
  3. Bila kaum awam bekerjasama dengan kerasulan hirarki, mereka harus tunduk dengan hirarki (AA 20)
  4. Suatu usaha dapat memakai nama Katolik bila diizinkan oleh pimpinan Gereja (AA 24)
  5. Khusus untuk para gembala Gereja: mereka harus memperhatikan kesejahteraan hidup jasmani dan rohani bagi kaum awam dan keluarganya yang menjadi karyawan di dalam lembaga-lembaga Gerejawi (AA 22)

Bab kelima  (23-27) berbicara tentang tata tertib menyangkut relasi kaum awam dan religius-klerus. Demi keberhasilan kerasulan, dianjurkan agar klerus dan religius bekerjasama dengan awam, bisa dalam bentuk sebuah dewan, di semua tingkat (AA 26). Sebab, hak merasul sama-sama dimiliki kaum awam dan klerus-religius (AA 25).

Bab keenam (28-32) membicarakan pembinaan merasul. Kerasulan yang baik menuntut pembinaan kaum awam yang terlibat di dalamnya, baik yang menyangkut kehidupan iman maupun profesinya. Konsili menekankan agar kaum awam memahami ajaran-ajaran Gereja (AA 32).

Penutup

Sangat diharapkan bahwa semakin ke depan, semakin banyak kaum awam yang menjadi tokoh utama dalam kerasulan, seperti pada zaman Gereja Perdana dan zaman para Bapa Gereja. Relasi dengan klerus-religius tetap harus dibina, mengingat merekalah yang dipilih Tuhan menjadi simbol pemersatu dan tanda kehadiranNya dalam liturgi. Dalam hal ini, klerus-religius berfungsi sebagai pelayan agar kerasulan kaum awam menemukan inspirasi dan kekuatannya.

Amin


[1] Rene Latourelle, Teologi Scienza della Salvezza: prospettive della sapienza cristiana, hlm. 197.

[2] Eddy Kristiyanto (ed), Konsili ta Vatikan II Agenda yang Belum Selesai, Obor, Jakarta 2006, hlm. 154-163


Responses

  1. Semoga semakin banyak orang yg menyadari tugas mereka ya..Mo.. bhw stelah dibaptis,bukan berarti tugas kita selesai dan cukup hanya ke misa setiap minggu, tp justru setelah dibaptislah kita memulai tugas utama kita untuk menjadi rasul terhadap sesama kita..
    Saya ingat pernah dengar dari seorang teman saya, dia menerangkan kenapa dalam Kisah Para Rasul, tidak ada kata/salam penutup seperti dalam kitab2 yg lain.. ternyata karena memang tugas merasul itu tidk berhenti hanya pd 12 rasul dan imam2 saja,tp kitapun sebgai kaum awam jg punya tugas utk menjadi rasul2 memberitakan Kerajaan Allah… Amien…
    Tks.. Mo.. atas tulisannya…
    TYM… BMM….

  2. yup. sebab semuanya, baik imam-biarawan-awam, adalah warga Gereja, Tubuh Mistik Kristus. Dan di dalam TubuhNya tidak ada kelas satu, dua atau tiga….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.041 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: