Kitab Suci: kata-kata manusiawi dan ilahi

Sebagaimana tercermin dari namanya, Kitab Suci memiliki dua segi yang saling berkaitan, yaitu segi manusiawi sebagaimana terkandung dari kata ‘kitab’ dan segi ilahi sebagaimana tercermin dari kata ‘suci’.

Sebuah buku berjudul Kitab Suci

Sebagai kitab atau buku, Kitab Suci berdimensi manusiawi karena beberapa alasan. Pertama-tama, Kitab Suci adalah sebuah benda nyata yang dapat kita lihat, kita raba, kita genggam, kita cium. Singkat kata, Kitab Suci menjadi objek yang berada di dalam genggaman kita.

Kitab Suci berdimensi manusiawi juga karena ia tampil sebagai sebuah objek tertentu yang kita kenal sebagai buku. Seperti buku-buku lainnya, Kitab Suci adalah cara dan sekaligus sarana komunikasi. Tujuan setiap komunikasi adalah terciptanya kebersamaan (communio) berkat pemahaman yang sama. Agar tujuan tersebut tercapai, setiap buku, termasuk Kitab Suci, menggunakan bahasa manusia, yaitu bahasa yang dapat dipahami oleh sekelompok orang dalam jaman dan budaya tertentu. Singkat kata, Kitab Suci ditulis untuk dipahami manusia dan karena itu ia menggunakan bahasa manusia.

Sebagai sarana komunikasi antar manusia, Kitab Suci ditulis oleh manusia untuk manusia-manusia lainnya. Sebagai buku, bahasa yang digunakan oleh Kitab Suci adalah bahasa tulis. Maka, ketika membaca Kitab Suci, kita berhadapan pertama-tama dengan tulisan, yaitu huruf yang bersatu menjadi kata, kata-kata yang kita lihat berjejeran membentuk kalimat dan kalimat berbaris membentuk alinea dan kumpulan alinea yang membentuk bab dst. Semuanya itu kita lihat. Kita tidak mendengarkan kata-kata pengarang. Kita tidak mendengarkan penjelasan penulis Kitab Suci. Kita membaca apa yang ada di depan mata kita, yaitu kata-kata tertulis.

Namun demikian, kita mengenal istilah yang tersurat dan yang tersirat. Yang tersurat adalah kata-kata yang tertulis, yang nyata, yang dapat kita tunjuk karena kata itu ada di sana. Yang tersirat adalah maksud dari kata-kata tersebut atau apa yang mau disampaikan oleh mereka. Yang tersirat tidak dapat kita tunjuk sebab ia tidak kelihatan; ia ada di kepala kita sebagai gambaran yang muncul berkat kata-kata yang tertulis, berkat yang tersurat.

Misalnya, kita membaca tulisan, ‘malam’. Yang kita baca adalah yang tersurat, yaitu jejeran huruf m-a-l-a-m. Akan tetapi, tulisan ‘malam’ menciptakan bayangan di benak kita yang jauh lebih kaya dari jejeran huruf semata. Itulah yang tersirat.

Masalahnya adalah bayangan yang kita punya tidak selamanya sama dengan gambaran yang dimiliki oleh orang-orang yang sezaman dengan penulis Kitab Suci. Misalnya, kita mungkin akan heran, mengapa kata ‘salib’ begitu jarang muncul di dalam Kitab Perjanjian Baru. Total jenderal, kata ‘salib’ hanya muncul 27 kali dalam seluruh PB. Mengapa?

Karena, bagi orang di jaman itu, kata salib adalah kata yang tabu untuk diucapkan sebab istilah salib menimbulkan gambaran yang terlalu kejam, sadis: tubuh manusia terhukum, telanjang, terpancang di kayu, dibiarkan mati tersiksa dan bangakinya tergantung di sana menjadi santapan burung.

Sebaliknya, untuk orang jaman sekarang, kadar skandal dan kengerian yang muncul dari kata ‘salib’ sudah jauh berkurang. Kita menemukan patung salib di banyak tempat, tergantung di gedung gereja, di kamar kita. Bahkan, salib menjadi perhiasan atau aksesoris bagi siapa saja yang mau mengenakannya.

Inilah alasan terakhir mengapa, sebagai buku, Kitab Suci berdimensi manusiawi: ada jarak antara jaman di mana kita berada dan jaman ketika Kitab Suci ditulis. Segala yang manusiawi dibatasi ruang dan waktu. Demikian juga Kitab Suci. Ia datang dari waktu tertentu, dari komunitas tertentu, yang berbeda budaya dan bahasanya dengan jaman kita.

Kitab Suci: buku umat beriman

Kitab Suci hanya akan menjadi sebuah buku di antara jejeran buku lainnya kalau kita tidak menggali arti kata sifat suci yang melekat padanya. Kitab Suci berdimensi manusiawi sekaligus ilahi. Ia memang buku tetapi buku suci. Mengapa?

Karena Kitab Suci lahir dari dan di dalam komunitas orang beriman. Imanlah yang membuat Kitab Suci yang kita miliki bersifat ilahi. Membaca Kitab Suci dengan mata iman berarti percaya bahwa Allah berbicara kepada setiap orang beriman yang membaca Kitab Suci melalui sarana manusiawi, yaitu sebuah buku, sebuah kitab. Kita bisa membaca secara demikian karena kita tumbuh dalam sebuah komunitas beriman. Kitab Suci bukanlah buku pribadi. Ia buku jemaat, buku komunitas. Maka hanya berkat belajar dari komunitas beriman, Kitab Suci menjadi suci, artinya menjadi sarana komunikasi tidak saja antar manusia tetapi juga antara Allah dan manusia.

Dengan demikian, Kitab Suci mengandung kata-kata manusia sekaligus kata-kata Allah. Bagaimana bisa memahaminya?

Bagian-bagian berikutnya akan mengupas jawabannya langkah demi langkah.

Antek Asing

Ada postingan menarik dari Calon Gubernur DKI usungan partai Gerindra. Melalui laman instagramnya, Sandiaga Uno menyampaikan rasa terima kasihnya kepada sang ketua partai atas pencalonannya: “Terima kasih Pak @prabowo atas dukungannya. Sesuai arahan Bapak, saya siap untuk berjuang membela rakyat kecil. Jakarta milik semua golongan!”

Dalam cuplikan tersebut, Prabowo berseru lantang: “Jadi, saya harapkan kalau kau kau hormat sama Prabowo, kalau kau cinta sama Prabowo, kalau kau setia sama Prabowo, bantulah Sandiaga Uno.” Setelah jeda sejenak, mantan petinggi komando pasukan khusus itu berlanjut, “Yang tidak dukung Sandiaga Uno antek asing, saudara-saudara!”

Sulit diterka konteks langsung pidato Prabowo dalam cuplikan video tersebut. Tidak ada tanggal, tempat dan keterangan pasti yang dapat dihubungkan dengannya. Satu-satunya petunjuk adalah waktu video itu diposting: sehari sebelum Hari Raya Kemerdekaan RI. Jadi, yang bisa dibuat adalah menghubungkan semua informasi yang dalam laman instagram itu dengan perayaan suci 17Agustus. Info apa saja yang bisa ditarik dari laman sang calon gubernur?

Info pertama adalah ungkapan Sandiaga Uno sendiri : Sesuai arahan Bapak, saya siap untuk berjuang membela rakyat kecil. Jakarta milik semua golongan. Artinya, menurut  Prabowo, kemenangan Sandiaga Uno nantinya adalah kemenangan rakyat kecil, artinya partai Gerindra mengutamakan kesejahteraan rakyat kecil. Kemudian, Sandiaga menambahkan : Jakarta milik semua golongan. Artinya, tidak ada lagi golongan khusus yang mendapat keistimewaan di Jakarta. Itulah visi dan misi yang dipercayakan Prabowo kepada calon gubernur pilihannya. Apa hubungannya dengan 17 Agustus? Jelas, Prabowo melalui Sandiaga Uno ingin menempatkan pertarungan Pilkada 2017 sebagai sebuah re-aktualisasi perjuangan para pahlawan. Seperti halnya para pahlawan membela rakyat Indonesia yang ditindas penjajah, demikian pula nantinya Sandiaga Uno sebagai gubernur harus menjadi pahlawan wong cilik yang membebaskan mereka dari pembedaan perlakuan berdasarkan golongan atau status tertentu dalam masyarakat. Singkat kata, Sandiaga Uno diberi tugas mewujudkan keadilan bagi rakyat kecil di Jakarta sesuai cita-cita para pejunag ’45.

Yang menarik, untuk menguatkan visi dan misi tersebut, Sandiaga Uno menautkan cuplikan video Prabowo. Cuplikan tersebut memperkuat penafsiran di atas karena dengan tegas disebutkan bahwa penjajahan masih berlangsung melalui kehadiran mereka yang disebut antek asing. Apa hubungannya dengan perayaan 17 Agustus? Artinya, kemerdekaan dihayati sebagai perjuangan melawan segala yang berbau asing. Kemerdekaan adalah bebas dari asing. Jadi, sekali lagi, Sandiaga Uno hendak menegaskan bahwa pencalonannya adalah perpanjangan dan kelanjutan dari perjuangan para pahlawan kemerdekaan.

Adalah hak beliau untuk menafsirkan pencalonannya secara demikian. Yang jadi tugas para pembaca kompasiana adalah menilai apakah cara berargumennya tepat sasaran. Saya menawarkan suatu evaluasi atas hal tersebut. Ada dua titik penting yang hendak saya tawarkan. Pertama, berkaitan dengan struktur pidato Prabowo dan kedua berhubungan dengan relasi antara asing dan kemerdekaan RI.

Pertama, struktur pidato Prabowo dan definisi asing:

Siapakah para antek asing tersebut? Untuk mendapat jawabannya, mari kita cermati struktur pidato Prabowo.

Pertama disebutkan: “kalau kau kau hormat sama Prabowo, kalau kau cinta sama Prabowo, kalau kau setia sama Prabowo, bantulah Sandiaga Uno”

Kemudian diserukan:”Yang tidak dukung Sandiaga Uno antek asing, saudara-saudara!”

Simpulannya: “Antek asing adalah mereka yang tidak mendukung Sandiaga Uno. Dan mendukung Sandiaga Uno berarti menghormati, mencintai dan setia pada Prabowo. Maka antek asing adalah mereka yang tidak hormat, tidak cinta dan tidak setia pada Prabowo.”

Argumen semacam ini dikenal sebagai argumen berdasarkan otoritas, artinya, kebenarannya datang bukan dari penalaran logis-kritis tetapi berdasarkan karisma dan kuasa pihak yang mengatakannya. Di hadapan argumen semacam ini, kita tidak bisa bertanya, mengapa yang tidak mencintai Prabowo dapat disamakan dengan antek asing. Dia tidak menuntut penjelasan logis. Dia meminta kebenarannya diterima, tanpa tanya. Karena yang berkata itu orang benar, orang berkuasa, orang berkarisma, maka perkataannya pasti benar.

Dari sisi lainnya, argumen ini juga bisa disebut argumen ad hominem, artinya, argumen pribadi lainnya dianggap tidak benar karena dia bukanlah orang yang berkarisma, bukan orang yang punya kuasa. Kita pun tidak bisa bertanya, mengapa mereka yang bersebrangan dengan Prabowo adalah pihak yang salah alias antek asing. Tidak ada alur logis dalam argumen ini. Yang ada adalah otoritas yang hanya bisa diamini.

Dengan demikian, struktur pidato Prabowo tidak menambah informasi apapun mengenai pihak asing yang dimaksud. Pidato itu tidak bisa dibantah ataupun diterima secara nalar. Ia bersandar pada otoritas yang lebih menyangkut pada rasa dan rasa tidak bisa didiskusikan.

Walau tidak bisa dibantah maupun disetujui secara logis, argumen semacam ini berbahaya karena menyentuh perasaan atau sentimen. Ada nada fanatisme di sana dan fanatisme itu buta. Maka, patut disayangkan kalau seorang figur sepenting Prabowo lebih memilih cara berargumen yang membakar fanatisme daripada cara kritis yang menambah wawasan.

Kedua, pemahaman relasi asing dan kemerdekaan. Patut dilihat kembali, kemerdekaan Indonesia bukan sekedar bebas dari penjajahan Belanda tetapi bebas untuk membangun dirinya sendiri dan bergabung dengan kemanusiaan semesta. Penjajahan yang dimaksud bukan sekedar yang datang dari luar, tetapi juga yang datang dari dalam. Tanpa yang disebut asing, Indonesia pun tidak bisa merdeka. Ia butuh pengakuan dunia internasional. India dan Australia adalah negara-negara asing pertama yang mengakui RI sebagai sebuah entitas politik yang merdeka. Vatikan bahkan sudah mengakui RI sebagai sebuah negara berdaulat dua tahun sebelum dunia internasional mengakuinya pada tahun 1949.  Jadi, nasionalisme Indonesia bukanlah nasionalisme sempit anti-asing tetapi nasionalisme kemanusiaan universal.

Dunia yang sudah jengah dengan nasionalisme sempit ala Nazi Jerman, fasis itali atau fasis Jepang, mencari sesuatu yang menyatukan segala bangsa, yaitu kemanusiaan universal. Tidak heran, kalau sila kedua Pancasila berbunyi: kemanusiaan yang adil dan beradab. Ia diletakkan persis setelah sila pertama, Ketuhanan yang maha esa. Artinya, kebangsaan, keindonesiaan, harus diletakkan sebagai perwujudan kemanusiaan yang diciptakan oleh Tuhan yang Esa, yang satu, untuk semua orang.

Dengan demikian, dialektik yang diajukan Sandiaga Uno dan Prabowo, yaitu dialektik asing vs Indonesia, kurang pas. Dialektik yang pas adalah penindasan vs kemanusiaan. Siapapun yang menindas kemanusiaan, yang mencuri hak orang kecil, yang membatasi kebebasan, adalah penjajah, entah dia orang asing atau orang pribumi.

Ville de lumière, 17 Agustus 1945.

Pengalaman Cuma-cuma

15 Agustus 2006…

Barisan putra-putri altar mengawali iringan para imam memasuki gedung gereja St. Bartolomeus, Galaxy, Bekasi. Seiring asap dupa nan wangi, alunan doa dalam nada membumbung ke angkasa, mengantar asa seisi jemaat ke hadiratNya: “Ke depan altar, aku melangkah…” 

15 Agustus 2016…. (10 tahun kemudian)

Melangkah sendiri ke halaman gereja St. Joseph artisan, diri ini disambut senyum dan sapa seorang tentara yang berjaga di muka gerbang gereja:”Bonjour et bonne fête” (Selamat pagi dan selamat berpesta). Selanjutnya, bersama 9 suster dari konggregasi Servantes des pauvres dan seorang ibu, di dalam kapel biara mereka yang mungil, kami merayakan ekaristi, mendalami misteri iman terangkatnya Bunda Maria ke surga.

Apa kesamaan antara 15 Agustus 10 tahun yang lalu dan 15 Agustus hari ini? 

Satu pengalaman ditawarkan oleh kenangan tahbisan 10 tahun yang lalu dan senyum sapa seorang tentara serta kesederhanaan hidup para suster yang kuterima hari ini: pengalaman akan yang “cuma-cuma.”

Imamat adalah pemberian cuma-cuma Allah melalui GerejaNya; senyum sapa seorang tentara adalah pemberian cuma-cuma; kesaksian para suster biara adalah pemberian cuma-cuma. Semuanya mewujudkan pengalaman akan yang cuma-cuma, yang gratis, yang melampaui perhitungan untung rugi, melampaui logika berguna atau tak berguna.

Orang Latin menamakan yang cuma-cuma sebagai gratis, dari gratia, rahmat. Artinya: pemberian ilahi yang mendahului logika pantas tidak pantas menurut hukum dunia.

Orang Yunani tidak jauh dari pengertian yang sama ketika menamai keindahan dengan istilah charis, yaitu pengalaman estetis berkat perjumpaan dengan segala yang indah dalam seni, di alam ciptaan, dst.

Maka, imamat adalah rahmat sekaligus keindahan. Ia menjadi tanda kehadiran sisi kehidupan yang cuma-cuma, kehidupan sebagai anugerah, sebagai hadiah. 

Di tengah arus logika untung rugi dan perhitungan praktis yang menyempitkan identitas manusia modern sebagi homo economicus, imamat, seperti halnya senyum sapa seorang tentara dan kesaksian hidup para suster biara, merupakan undangan untuk menyelami kehidupan manusia sebagai misteri rahmat sekaligus keindahan.

Tidak semuanya bisa disimpulkan dalam logika menang kalah, untung rugi, berguna atau sia-sia. Ada dimensi kehidupan yang hanya bisa diterima: 

Pengelana tidak akan bertanya mengapa mawar merah berada di sana. Ia akan terpukau akan keindahan sang mawar dan menerimanya sebagai hadiah semesta

Paris, 15 Agustus 2016

Hari Raya Bunda Maria diangkat ke surga

Membedah Wawancara Ahok Tentang Trotoar yang Berujung Kisruh 

Media sosial dihebohi perkara “Surabaya hanya Jakarta Selatan” yang terucap dari mulut seorang Ahok. Bu Risma, sang Wali Kota Surabaya sampai gelar jumpa pers. Tujuan jumpa pers, seperti terungkap dari Ibu Risma sendiri, untuk meredam kemarahan warga Surabaya. Salah Surabaya apa sampai diserang sedemikian rupa oleh Ahok, demikian kira-kira gundah gulana seorang Ibu Wali Kota. Tetapi benarkah Ahok menyerang Surabaya dengan pernyataannya? Menafsirkan memang perkara pribadi. Tetapi, menafsirkan bukan berarti seenaknya. Ada kaidah-kaidah tertentu yang menentukan bagaimana sebuah penafsiran dapat dikatakan mendekati kebenaran atau sekadar ngawur. Kaidah paling kuat adalah memahami struktur penyataan itu dan konteksnya. Maka, saya mengundang sidang pembaca untuk memahami konteks dan struktur pernyataan Ahok yang membalut sumber kisruh Risma-Ahok tadi. Saya mengambil video wawancara Ahok seperti dapat dilihat di bawah ini sebagai sumber utama. 

video

Video diawali dengan pertanyaan seorang wartawan yang membandingkan kondisi trotoar di Jakarta dan di Surabaya yang lebih teratur. Jawaban Ahok, “Memang. Makanya kita mau belajar dari Bu Risma. Bu Risma menata itu butuh waktu yang lama.” Lantas Ahok menguraikan jenjang karir bu Risma yang memang tidak jauh dari penataan Kota Surabaya: dari Kepala Dinas Taman, lalu bapeda, lalu Wali Kota, “Itu sudah di atas sepuluh tahun…. Kasih saya waktu, saya beresin.” Menanggapi jawaban Ahok, wartawan yang sama bertanya lagi, “Butuh dua periode?” Ahok tidak menjawab secara langsung butuh berapa lama tetapi memberi sinyal kalau akan ada perubahan penampakan trotoar di jalan-jalan utama Jakarta. 

Analisis Bagian Pertama 

Ini bagian pertama dari video yang mengaitkan Jakarta-Surabaya, Ahok-Risma. Saya menamakan bagian ini: Bangun Trotoar Butuh Waktu. Bagian ini bisa dibagi dua: pertama, pengakuan Ahok bahwa trotoar di Surabaya sudah bagus (memang…) dan keberhasilan itu tidak bisa dilepaskan dari usaha perempuan pertama yang menjabat Wali Kota Surabaya (Makanya kita mau belajar dari bu Risma). Bagian kedua: pernyataan Ahok kalau membangun itu butuh waktu. Seperti halnya Bu Risma berhasil menata Surabaya tidak hanya sebagai wali kota tetapi juga sedari awal karirnya sebagai PNS di Surabaya (Bu Risma menata itu butuh waktu lama… Itu sudah di atas sepuluh tahun), demikian juga Ahok meminta warga Jakarta untuk memberinya waktu membangun trotoar Jakarta (kasih saya waktu). 

Analisis Bagian Kedua 

Kalau di bagian pertama, tema relasi Surabaya-Jakarta datang dari pertanyaan wartawan, di bagian kedua ide ini keluar dari jawaban Ahok sendiri ketika seorang wartawan perempuan bertanya tentang pembangunan trotoar di perkampungan. Jawaban Ahok, “Total yang mau kita beresin itu bisa 2700 Km. Dua kali Jakarta-Surabaya, Surabaya-Jakarta. Surabaya-Jakarta kan kira-kira 1300 kilometer kan kira-kira, itu begitu. Memang masalah trotoar kita. Kita beresin.” Bagian kedua ini saya beri judul: Trotoar Jakarta Panjang dan Bermasalah. Kota Surabaya disebut Ahok untuk memberi gambaran betapa panjangnya trotoar yang harus dibenahi.  Dari bagian kedua ke bagian ketiga, terentang waktu yang cukup panjang yang diisi oleh permasalahan lain menyangkut BPN dan aset-aset Pemprov Jakarta yang harus dilindungi. 

Analisis Bagian Ketiga 

Seperti halnya bagian pertama, bagian ketiga tema Surabaya-Jakarta muncul dari pertanyaan wartawan, “Lalu soal Risma semakin gencar nih Pak ke Jakarta…” Jawaban Ahok, “Kamu tanya sajalah, susah sih omongnya. Yang pasti, Jakarta membutuhkan banyak orang yang sudah terukur, teruji, supaya kalian gak membeli kucing dalam karung.” Lalu Ahok membayangkan debat ideal bagi para calon Gubernur Jakarta. Mengambil tema pertama, soal trotoar di Surabaya dan di Jakarta, Ahok berujar, “Ini Jakarta bagaimana, kok beda amat sama Surabaya. Surabaya trotoarnya sudah rapi kok Jakarta belum. Nah itu yang sehat.” 

Jadi, Bagaimana Maksudnya? 

Ahok menganggap perbandingan program daerah atau hasil program daerah sebagai debat yang sehat karena kemudian bisa membuka wawasan masyarakat akan permasalahan penataan kota, “Kita akan jelaskan kepada masyarakat, Surabaya itu cuma Jakarta Selatan. Ini (Jakarta) bukan cuma Jakarta Selatan.” Dengan demikian, masyarakat diundang untuk mengenal Kota Jakarta sebagai sebuah Daerah Khusus Ibu Kota. Memang Jakarta sebuah kota, seperti halnya Surabaya. Tapi, Jakarta itu kota yang khusus, yang tata kelola administrasinya berbeda dari Surabaya. Oleh karena itu, Ahok pun tidak bisa menyombongkan Jakarta Pusat yang megah sebagai cermin Jakarta, karena Jakarta Pusat tidak sama dengan Jakarta. Kemudian Ahok mengharapkan banyak kepala daerah datang ke Jakarta karena Ibu Kota memang membutuhkan penanganan yang khusus. Ahok pun menjelaskan apa yang sudah terjadi selama dia memerintah Jakarta, baik sebagai Wakil Gubernur maupun sebagai Gubernur: soal prioritas penataan sungai, soal e-budgeting dan kisruh dengan DPRD, soal pembelian tanah, soal permainan-permainan kotor dalam lelang, dan seterusnya. Program dan pelaksanaannya itulah yang akan dibeberkan Ahok dalam debat cagub nanti, “Tinggal kamu pilih yang mana.” Dengan demikian, masyarakat terbuka wawasannya tentang tugas seorang kepala daerah, soal tata kelola daerah, hingga dapat memilih pemimpin daerah yang benar. Bagian ketiga ini saya beri judul: Debat Program Calon Kepala Daerah sebagai pendidikan politik masyarakat.  

Ahok tidak menghindar kalau situasi Jakarta dibandingkan dengan situasi kota lain. Perkara trotoar di Surabaya diambil sebagai contoh karena sudah dibicarakan jadi lebih mudah dipahami oleh para wartawan. Contoh itu ditempatkan Ahok dalam sebuah debat ideal antara para calon pemimpin daerah, termasuk ucapan Ahok yang membuat senewen Bu Risma, “Surabaya itu cuma Jakarta Selatan.” Mungkin Bu Risma tidak akan semarah itu seandainya menempatkan ungkapan Ahok itu dalam struktur yang tepat. 

Sebelum mengatakan, “Surabaya itu cuma Jakarta Selatan,” Ahok mengungkapkan perdebatan program sebagai perdebatan yang sehat (Jakarta membutuhkan banyak orang yang sudah terukur… itu yang sehat). 

Lalu, Ahok memberi contoh debat yang sehat itu, yaitu soal trotoar Surabaya dan Jakarta hingga muncul perbandingan Surabaya dan Jakarta Selatan. 

Setelah itu, Ahok menutup kembali dengan pernyataan debat program itu debat sehat demi membuka wawasan masyarakat (Tinggal kamu pilih yang mana). Dengan demikian, pernyataan Ahok soal Surabaya dan Jakarta Selatan jauh dari pernyataan yang melecehkan. Struktur pernyataan Ahok memperlihatkan itu. Orang menyebut struktur demikian dengan istilah: sandwich, artinya sebuah pernyataan mendapat makna berkat dua pernyataan yang mengapitnya. Dua pernyataan yang mengapit “Surabaya itu Jakarta Selatan” adalah debat sehat para calon kepala daerah.  

Yang bisa dipetik dari kasus ini adalah pentingnya konteks bagi pemaknaan sebuah pernyataan. Bukan kata yang memberi makna sebuah pernyataan tetapi konteks pernyataan itu. Misalnya, istilah volume punya potensi makna beragam tergantung konteksnya. Kalau dikaitkan dengan konteks perbukuan, volume punya makna nomer atau edisi atau bagian dari kumpulan buku. Tetapi, kalau dikaitkan dengan ilmu fisika, volume memberi arti yang berbeda. 

Maka, kita sudahi kegaduhan ini. Bu Risma dan Ahok itu orang kepercayaan masyarakat. Mari kita bantu mereka berdua menjalankan kepercayaan dengan baik dan bukannya mendorong mereka untuk beradu emosi.  

Salam persatuan 

Ville de lumière, subuh, panca hari jelang Hari Suci Republik


Selengkapnya : http://m.kompasiana.com/triantoseverus/membedah-wawancara-ahok-tentang-trotoar-yang-berujung-kisruh_57ad230f8223bd0d0a247bef

Kautahu Tuhan KucintaKau

Kis. 25:13b-21; Mzm. 103:1-2,11-12,19-20ab;Yoh. 21:15-19.

image

“Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?”

Sebelum sengsara dan wafat Tuhan, Petrus menjawab pertanyaan di atas dengan lantang: ” Biarpun yang lainnya menyangkalMu, aku akan menyerahkan nyawaku untukMu”.

Kini, setelah kebangkitan Tuhan, Petrus tidak lagi membandingkan dirinya dengan para murid yang lain. Tidak lagi merasa lebih baik dari mereka. Ia kini meletakkan semuaNya ke dalam hati Tuhan dan GuruNya, Sang Gembala yang mengenal setiap domba-dombaNya: ” Kautahu Tuhan, kucintaKau”.

Siapa dapat menilai kedekatan dengan Tuhan? Aku jauh Engkau jauh, Aku dekat Engkau dekat, senandung Bimbo. Tuhan adalah  Penyair Agung. Ia sanggup menggubah untaian peristiwa hidup setiap pribadi yang dianggap tak berarti menjadi sebuah syair murni. Detik-detik terakhir penyamun di salib diubahNya jadi pintu masuk ke surga. Penyangkalan Petrus dibuatNya jadi awal pertobatan dan perutusan.

Tuhan Yesus memberkati dan Bunda Maria melindungi

Paris 13 Mei 2016, Jumat

Kemuliaan Allah dan Persatuan Gereja

Kis. 22:30; 23:6-11; Mzm. 16:1-2a,5,7-8,9-10,11;Yoh. 17:20-26.

Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu

a1

Setidaknya ada tiga arti kata doxa, kemuliaan, dalam bahasa Yunani. Arti pertama adalah penilaian manusia. Arti kedua, keagungan Allah yang tercermin dalam ciptaanNya. Arti ketiga, keagungan Allah itu sendiri. 

Sumber kesatuan para murid dalam doa Yesus di atas adalah keagungan yang diterima Yesus dari Allah Bapa dan diberikanNya kepada para muridNya di sepanjang zaman. Apa wujud keagungan Allah yang menjadi sumber pemersatu itu?

Keagungan itu adalah diri Yesus sendiri, Allah Putra yang menampilkan wajah Allah Bapa yang tidak kelihatan. Puncak keagungan itu terjadi di atas kayu salib: dari kayu salib Yesus menarik semua orang yang percaya kepadaNya. Dengan kata lain, keagungan Allah nampak dalam cintaNya yang total kepada manusia, yang tercermin dalam Diri Yesus.

Cinta berarti relasi, berarti berani tidak  memutlakkan diri, pikiran dan pendapat sendiri, agar muncul tempat bagi yang lain. Karena itu, cinta selalu kreatif, artinya penciptaan: dengan menyangkal diri sebagai pusat dunia, muncul dunia yang dihuni sesama.

Cinta yang penuh, yang terjadi di kayu salib, menciptakan kebebasan yang sejati: diri kita diberi tempat oleh Allah, di hadapanNya. Inilah sumber persatuan kita. Masing-masing dari kita tidak perlu berebut tempat, berebut perhatian, menjadi yang paling dalam segala hal menurut penilaian manusia.

Ketika memandang salib, merenungkan kemuliaanNya, kita sadar kalau kita sudah punya tempat, yaitu tempat di hadapanNya, perhatianNya.

Tuhan Yesus memberkati dan Bunda Maria melindungi,

Paris, Kemis 12 Mei 2016

Matinya Seekor Kecoak

Ketika kau menghakimi orang lain, kau menghakimi dirimu sendiri…  

Kemarin malam, aku membunuh seekor kecoak. Saat itu pukul sebelas malam lewat sedikit. Suara gledek menembus kaca jendela dan melesat sampai ke kamar mandi. Ya, di luar sana, hujan deras sedang bercengkerama dengan kegelapan malam. Aku sendiri sedang di depan cermin, di kamar mandi, sedang bersiap menggosok gigi. Sementara pasta gigi kuoleskan ke atas bulu-bulu sikat gigiku, melesat keluar dari kolong lemari baju di sebrang kamar mandi satu wujud kecoklat-coklatan. Mulanya, mahluk itu merayap lurus ke arah kamar mandi yang terbuka. Tapi kemudian, tanpa mengurangi kecepatan, ia berbelok masuk ke bawah bibir pintu kamar mandi dan lenyap di dalam kegelapan antara pintu kamar mandi dan tembok koridor kamarku. Tingkah polah mahluk coklat itu menghentikan niatku menyikat gigi. Aku sudah curiga kalau mahluk yang barusan melintas tadi itu adalah kecoak. Tapi dari mana dia datang? Bukankah baru tadi siang kusapu dan kemudian kupel lantai kamarku dengan air hangat bercampur karbol aroma pohon pinus? 

Didorong rasa ingin tahu bercampur sedikit rasa jengkel, kuberanjak dari depan cermin wastafel dan melangkah keluar kamar mandi, ke koridor kamar. Cahaya lampu menyapu kegelapan area di balik pintu ketika perlahan kujauhkan pintu dari tembok koridor. Dan di sana, di ujung sana, di bawah terang lampu, di dekat engsel pintu, tampak seekor kecoak diam terpaku. Kecoak itu berukuran sedang, tidak begitu besar maupun kecil. Mungkin dia kecoak remaja batinku. Yang menarik perhatianku adalah sikap diam sang kecoak remaja: dia tidak bergerak, diam terpaku di sudut antara daun pintu kamar mandi dan tembok koridor. Kugerak-gerakkan pintu kamar mandi dengan bayangan dia akan paling tidak beringsut lebih ke pojok. Tetapi, gerakan pintupun tidak membuatnya berpindah posisi. Kucoba gerakan mengancam yang lebih nyata dengan menghentak-hentakkan kakiku sambil mendenguskan bunyi,”Huusss!” Namun, jangankan berpindah tempat, menggerakkan sungutnya pun tidak. Gila! Batinku. Masih remaja saja sudah tidak kenal takut, gimana kalau sudah jadi kecoak beneran nanti. 

Pada saat itulah kuteringat sepupu perempuanku yang begitu takut akan kecoak. Rasa takutnya akan kecoak begitu hebat sampai membuatnya menjerit histeris dan berlompatan demi menyaksikan seekor kecoak yang melantai di depannya. Meski sudah berusia lebih dari 20 tahun, sepupu perempuanku ini masih memelihara ketakutan yang sama. Pernah kutanya padanya, kenapa seekor kecoak bisa membuatnya menjerit histeris sejadi-jadinya. Dia pun menjawab, karena kecoak itu binatang kotor, menjijikkan. Kubalas, kalau begitu, kenapa mesti harus menjerit dan melompat ketakutan; hajar saja dia dengan sapu atau sandal atau semprotkan obat nyamuk biar mampus. Saudara sepupuku menjawab, begitu ketakutan dan begitu jijiknya dia sampai- sampai tidak bisa melakukan itu semua.

Memang, biasanya, kalau sepupuku ini berpapasan dengan seekor kecoak, dia akan menjerit dan memanggil entah mbaknya entah mamanya untuk membunuh mahluk menjijikkan dan jahanam itu. Kasus sepupu perempuanku, sejauh yang kutahu, adalah sebuah contoh yabg sangat bagus akan kekuatan perasaan yang muncul dari prasangka, praduga, prapikir atau segala hal yang diam di bawah sadar. Baginya, seekor kecoak mewakili dunia yang berbeda, dunia yang kotor, yang dapat menularkan kekotoran cukup dengan kehadirannya saja. Bisa jadi, dia membawa milyaran kuman, bakteri, virus, dan segala bibit penyakit yang bertengker di kedua sungut-sungutnya, di sekujur badannya, dan juga di deduri kecil yang menyelimuti seluruh kaki-kakinya. Begitu pernah ia ucapkan. Bayangan ini membuatnya lumpuh dan histeris di depan kehadiran seekor kecoak…

Ingatan akan sepupuku perempuan membuatku sedikit takut juga di hadapan kecoak remaja yang memojok di bawah tatapanku. Bagaimana kalau dia membawa milyaran bakteri di sekujur badannya? Bagaimana kalau dia tiba-tiba terbang ke arahku dan membenamkan kakinya yang bersisik duri itu ke mulutku? Bayangan ini memperbesar rasa takut dan juga jijikku. Dari sana terbitlah sebuah niat: kecoak remaja ini harus kubunuh! Tapi bagaimana? Membunuh dengan menghantam dan meremukkannya bukanlah sebuah langkah yang bijak. Organ dalam tubuh kecoak yang berceceran akan menyebarkan milyaran bakteri ke dalam koridor kamarku ini.

Aku ada ide lain. Pertama, kecoak remaja ini akan kulumpuhkan dulu. Dengan apa? Dengan semprotan pengharum ruangan karena kutak terbiasa menggunakan obat nyamuk semprot. Pengharum ruangan biasanya mengandung alkohol dan mungkin, semprotannya, dalam kadar tertentu, dapat membuat kecoak remaja ini mabuk dan lebih mudah ditangani. Setelah itu, kecoak yang setengah mabuk ini akan kuserok dengan slembar karton dan secepatnya kulemparkan ke dalam jamban. Begitu tiba di kedalaman sana, akan kupencet tombol dan mengalirlah kau kembali ke kegelapan…

Puas dengan rencana pembunuhan ini, segera kubergerak cepat menarik peralatan pembantai: secarik karton yang kurobek dari kotak pembungkus minuman ringan; sebuah gelas plastik untuk mengurung kecoak remaja itu dan sekaleng semprotan pengharum yabg masih penuh. Perlahan, botol semprotan pengharum ruangan kudekatkan ke arah kecoak yang masih diam terpaku. Bantalan jempol kananku bersiap menekan tombol semprotan. Dan dia tetap diam di sudut sana. Muncul sebuah bayangan di benakku: kecoak itu menengok ke arahku dan menatapku langsung ke kedalaman kedua bola mataku. Lewat tatapan itu, ia hujamkan sebuah tanya: mengapa? Ya, mengapa kau, manusia ingin menghabisiku? Tolong jawab dulu pertanyaan ini sebelum kautuntaskan niatmu menghapus keberadaanku dari sudut koridor kamarmu ini. Apakah pembunuhan ini adalah tindakan yang perlu kaulakukan? Pernahkah melintas di benakmu bahwa akupun mahluk ciptaan Tuhan. Sebagai mahluk ciptaanNya, aku juga berhak hidup dan berada di dunia ini. Tolong kaurenungkan dulu makna keberadaanku ini sebelum kaulanjutkan tindakanmu. Apakah Tuhan menciptakanku hanya untuk dibunuh dan ditiadakan? Apakah aku hadir hanya untuk dilenyapkan? Jawab dengan jujur: mana yang lebih mendorongku melenyapkanku: bahaya yang nyata atau ketakutan dan rasa jijikmu yang luar biasa? Apakah kaumembunuhku hanya karena KITA BERBEDA? Diam kau…. coro! Seruan batinku menghancurkan gugatan batinku sendiri dan segera kutekan penyemprot pengharum ruangan. Seketika itu juga semburan cairan pengharuman ruangan mengalir deras mendorong kecoak itu ke sudut. Tak ada jalan keluar selain kematian baginya. Di depan mataku, ia meronta-ronta menerima terjangan semburan cairan yang keluar dari botol pengharum ruangan. Dalam hitungan detik, ia tenggelam dalam buih putih dan kemudian terjungkal dengan sisi perut menghadap ke atas akibat terpaan yang tiada henti. Pada saat itulah kuhentikan semburanku. Di tengah buih cairan pengharum ruangan, kecoak yang basah itu menggerak-gerakkan kakinya hendak bangkit dan menjejak kembali ke tanah dengan ketiga pasang kakinya itu. Namun usahanya itu jelas dijawab oleh kesia-sian belaka. Dalam situasi seperti itulah, kukuputuskan menyerok dia dengan kertas karton, mendorongnya masuk ke dalam gelas plastik, kumelangkah ke arah jamban dan dengan membalikkan gelas plastik, kukirim dia ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Plung! Diapun jatuh di sana dan mengapung sambil terus meronta, berjuang dengan seutas asa penghabisan mempertahankan keberadaannya di dunia mahluk hidup. Di bawah tatapan mataku, kulihat ia terus meronta dengan gerakan kakinya. Dan kutuntaskan misiku dengan menekan tombol flush dan sluruuup… arus airpun mengirimnya ke dunia bawah tanah: dari mana dia datang, ke sana dia berakhir.

Malam berikutnya aku tertidur berselimut keringat dingin di sekujur badanku. Di dalam tidurku, jutaan kecoak seukuran manusia mengepungku. Dengung dan suara gesekan jutaan pasang kaki mereka mengisi udara. Tiba-tiba tanah bergetar ditingkahi suara dentuman. Kemudian, dari balik kerumunan itu, tampil seekor kecoak perak. Ujung keenam kakinya berbentuk godam berwarna keperakan. Dia melangkah mendekatiku dan setiap kali kaki godamnya menyentuh bumi, tanah bergetar diringi suara dentaman. Ketika kepalanya tepat berada di hadapan wajahku, ia berhenti. Gambar diriku terpantul di dalam jutaan pixel matanya yang juga keperakan. Lalu ia mengepakkan sayap-sayapnya, dan perlahan tubuhnya terangkat menjauh dari tanah. Kaki-kaki godamnya terjuntai dan diayun-ayunkannya persis di depan mataku. Bau bahaya maut kucium di udara. Dan benar, salah satu kakinya mengayun dan menghantam batok kepalaku. Tengkorakku pecah oleh hantaman kaki godam peraknya dan dari sana berhamburan isi kepalaku: segala prasangka dan praduga, segala ketakutan dan penyakit jiwa lainnya; semuanya berhamburan dan menyebar di udara…

Ville-de-lumiere, Rabu dini hari, 14 Oktober 2015  

Selengkapnya : http://fiksiana.kompasiana.com/triantoseverus/matinya-seekor-kecoak_561d7716919773870ffa0f47