Vonis Ahok dan Media Mancanegara

Bunyi ketokan palu PN Jakarta Utara yang mensahkan putusan bersalah atas Ahok dalam sidang perkara penistaan agama, bergema tidak saja ke seantero nusantara tapi sampai ke mancanegara. Terlalu lebay untuk mengatakan dunia dikejutkan oleh keputusan itu. Yang pasti, beberapa media internasional tidak mampu menahan diri untuk menafsirkan ulang wajah toleran kehidupan beragama di Indonesia dan menghubungkannya dengan pesta demokrasi DKI yang dianggap ternodai secara massif dan sistematis oleh perkara SARA.

Sumber gambar: www.straitstimes.com

The Straits Times Singapore misalnya, mengingatkan bagaimana putusan bersalah tadi dijatuhkan lebih kurang sebulan setelah kekalahan Ahok dalam Pilkada DKI kemarin. The Straits Times menegaskan pula bahwa putusan ini jauh lebih berat dari tuntutan jaksa. Di akhir berita yang menempati posisi top stories ini terungkap juga wawancara dengan beberapa pendukung Ahok. “Dua tahun itu terlalu lama… hal ini sungguh tidak dapat dipercaya,” ujar seorang pegawai bank yang datang di depan gedung Kementerian Pertanian untuk mendukung Ahok.

sumber gambar: www. aljazeera.com

Sepertid The Straits Times, kantor berita Aljazeera yang berpusat di Doha, Qatar, menempatkan putusan sidang ini sebagai berita utamanya, di atas berita tentang Pemilihan Presiden Korea Selatan dan berta tentang kemenangan Macron dalam Pemilihan Presiden Perancis. Dalam situs beritanya, Aljazeera lebih tegas lagi menekankan dampak putusan ini bagi kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. “… tidak dapat dibayangkan betapa mudahnya nanti menjatuhkan tuduhan penistaan agama atas mereka yang dianggap lawan, khususnya atas diri mereka yang dianggap kaum minoritas,” ungkap pewarta Aljazeera, Step Vaessen, di Jakarta.

Sementara itu, Time International meletakkan berita dari PN Jakarta Utara sebagai breaking news.

Situs berita CNN tidak kalah tegas. Ia mengutip pernyataan seorang pengamat politik Indonesia asal Australlia, Greg Fealy yang mengatakan, “…hukum penistaan agama telah menjadi suatu kutukan bagi demokrasi di Indonesia selama puluhan tahun… kenyataan bahwa Ahok menjadi terdakwa dan diputuskan bersalah merupakan buah dari demonstrasi besar-besaran yang menteror pemerintahan.” Lebih jauh, Fealy mengatakan bahwa, “…. Ahok adalah kasus khusus… putusan ini merupakan tamparan bagi toleransi beragama di Indonesia.” Di akhir artikelnya, CNN mengutip komentar The Jakarta Post atas Pilkada DKI kali lalu yang secara gamblang diwarnai oleh kampanya ” yang paling kotor dan memecah belah.”

Sumber gambar: www.bbc.com

Dan terakhir, situs berita BBC tidak mau kalah dalam memberitakan putusan PN Jakarta Utara atas Ahok. Lebih dari situs-situs berita lainnya, BBC tanpa ragu-ragu menyampaikan tafsirannya atas pilkada DKI kali lalu. Diungkapkan bahwa kesuksesan politik Ahok merupakan perkembangan yang sangat berarti bagi Indonesia setelah huru-hara 1998 ketika banyak warga Indonesia “keturunan” Tionghoa menjadi korban. Sebelum tuduhan dan penetapan terdakwa atas kasus penistaan agama, Ahok merupakan politikus yang diterima banyak pihak karena kelugasan dan sikap anti-korupsinya. Akan tetapi, dakwaan kontroversial menjatuhkan popularitasnya. Dengan kata lain, BBC mengakui kalau pesta demokrasi DKI kali lalu terciderai oleh masalah SARA.

Apa yang bisa ditarik dari mozaik breaking news yang diwartakan situs-situs berita mancanegara atas kasus Ahok ini? Sekilas, kita melihat bahwa dunia luar ternyata punya harapan pada Indonesia untuk menjadi duta toleransi bagi dunia. Namun, harapan itu harus dihadapkan pada putusan PN Jakarta Utara. Bukan putusannya itu sendiri tetapi keseluruhan proses mulai dari tuduhan sampai putusannya itu yang dipertanyakan. Oleh karena itu, situs-situs berita internasional itu pun bertanya, apakah mereka harus menyesuaikan pengandaian Indonesia negeri toleran dengan kenyataan yang tidak sesuai harapan?

Sebuah pertanyaan yang berlaku untuk kita juga….. saya rasa.

Bumi Batavia, 9 Mei 2017

Iklan

Kitab Suci: kata-kata manusiawi dan ilahi

Sebagaimana tercermin dari namanya, Kitab Suci memiliki dua segi yang saling berkaitan, yaitu segi manusiawi sebagaimana terkandung dari kata ‘kitab’ dan segi ilahi sebagaimana tercermin dari kata ‘suci’.

Sebuah buku berjudul Kitab Suci

Sebagai kitab atau buku, Kitab Suci berdimensi manusiawi karena beberapa alasan. Pertama-tama, Kitab Suci adalah sebuah benda nyata yang dapat kita lihat, kita raba, kita genggam, kita cium. Singkat kata, Kitab Suci menjadi objek yang berada di dalam genggaman kita.

Kitab Suci berdimensi manusiawi juga karena ia tampil sebagai sebuah objek tertentu yang kita kenal sebagai buku. Seperti buku-buku lainnya, Kitab Suci adalah cara dan sekaligus sarana komunikasi. Tujuan setiap komunikasi adalah terciptanya kebersamaan (communio) berkat pemahaman yang sama. Agar tujuan tersebut tercapai, setiap buku, termasuk Kitab Suci, menggunakan bahasa manusia, yaitu bahasa yang dapat dipahami oleh sekelompok orang dalam jaman dan budaya tertentu. Singkat kata, Kitab Suci ditulis untuk dipahami manusia dan karena itu ia menggunakan bahasa manusia.

Sebagai sarana komunikasi antar manusia, Kitab Suci ditulis oleh manusia untuk manusia-manusia lainnya. Sebagai buku, bahasa yang digunakan oleh Kitab Suci adalah bahasa tulis. Maka, ketika membaca Kitab Suci, kita berhadapan pertama-tama dengan tulisan, yaitu huruf yang bersatu menjadi kata, kata-kata yang kita lihat berjejeran membentuk kalimat dan kalimat berbaris membentuk alinea dan kumpulan alinea yang membentuk bab dst. Semuanya itu kita lihat. Kita tidak mendengarkan kata-kata pengarang. Kita tidak mendengarkan penjelasan penulis Kitab Suci. Kita membaca apa yang ada di depan mata kita, yaitu kata-kata tertulis.

Namun demikian, kita mengenal istilah yang tersurat dan yang tersirat. Yang tersurat adalah kata-kata yang tertulis, yang nyata, yang dapat kita tunjuk karena kata itu ada di sana. Yang tersirat adalah maksud dari kata-kata tersebut atau apa yang mau disampaikan oleh mereka. Yang tersirat tidak dapat kita tunjuk sebab ia tidak kelihatan; ia ada di kepala kita sebagai gambaran yang muncul berkat kata-kata yang tertulis, berkat yang tersurat.

Misalnya, kita membaca tulisan, ‘malam’. Yang kita baca adalah yang tersurat, yaitu jejeran huruf m-a-l-a-m. Akan tetapi, tulisan ‘malam’ menciptakan bayangan di benak kita yang jauh lebih kaya dari jejeran huruf semata. Itulah yang tersirat.

Masalahnya adalah bayangan yang kita punya tidak selamanya sama dengan gambaran yang dimiliki oleh orang-orang yang sezaman dengan penulis Kitab Suci. Misalnya, kita mungkin akan heran, mengapa kata ‘salib’ begitu jarang muncul di dalam Kitab Perjanjian Baru. Total jenderal, kata ‘salib’ hanya muncul 27 kali dalam seluruh PB. Mengapa?

Karena, bagi orang di jaman itu, kata salib adalah kata yang tabu untuk diucapkan sebab istilah salib menimbulkan gambaran yang terlalu kejam, sadis: tubuh manusia terhukum, telanjang, terpancang di kayu, dibiarkan mati tersiksa dan bangakinya tergantung di sana menjadi santapan burung.

Sebaliknya, untuk orang jaman sekarang, kadar skandal dan kengerian yang muncul dari kata ‘salib’ sudah jauh berkurang. Kita menemukan patung salib di banyak tempat, tergantung di gedung gereja, di kamar kita. Bahkan, salib menjadi perhiasan atau aksesoris bagi siapa saja yang mau mengenakannya.

Inilah alasan terakhir mengapa, sebagai buku, Kitab Suci berdimensi manusiawi: ada jarak antara jaman di mana kita berada dan jaman ketika Kitab Suci ditulis. Segala yang manusiawi dibatasi ruang dan waktu. Demikian juga Kitab Suci. Ia datang dari waktu tertentu, dari komunitas tertentu, yang berbeda budaya dan bahasanya dengan jaman kita.

Kitab Suci: buku umat beriman

Kitab Suci hanya akan menjadi sebuah buku di antara jejeran buku lainnya kalau kita tidak menggali arti kata sifat suci yang melekat padanya. Kitab Suci berdimensi manusiawi sekaligus ilahi. Ia memang buku tetapi buku suci. Mengapa?

Karena Kitab Suci lahir dari dan di dalam komunitas orang beriman. Imanlah yang membuat Kitab Suci yang kita miliki bersifat ilahi. Membaca Kitab Suci dengan mata iman berarti percaya bahwa Allah berbicara kepada setiap orang beriman yang membaca Kitab Suci melalui sarana manusiawi, yaitu sebuah buku, sebuah kitab. Kita bisa membaca secara demikian karena kita tumbuh dalam sebuah komunitas beriman. Kitab Suci bukanlah buku pribadi. Ia buku jemaat, buku komunitas. Maka hanya berkat belajar dari komunitas beriman, Kitab Suci menjadi suci, artinya menjadi sarana komunikasi tidak saja antar manusia tetapi juga antara Allah dan manusia.

Dengan demikian, Kitab Suci mengandung kata-kata manusia sekaligus kata-kata Allah. Bagaimana bisa memahaminya?

Bagian-bagian berikutnya akan mengupas jawabannya langkah demi langkah.

Antek Asing

Ada postingan menarik dari Calon Gubernur DKI usungan partai Gerindra. Melalui laman instagramnya, Sandiaga Uno menyampaikan rasa terima kasihnya kepada sang ketua partai atas pencalonannya: “Terima kasih Pak @prabowo atas dukungannya. Sesuai arahan Bapak, saya siap untuk berjuang membela rakyat kecil. Jakarta milik semua golongan!”

Dalam cuplikan tersebut, Prabowo berseru lantang: “Jadi, saya harapkan kalau kau kau hormat sama Prabowo, kalau kau cinta sama Prabowo, kalau kau setia sama Prabowo, bantulah Sandiaga Uno.” Setelah jeda sejenak, mantan petinggi komando pasukan khusus itu berlanjut, “Yang tidak dukung Sandiaga Uno antek asing, saudara-saudara!”

Sulit diterka konteks langsung pidato Prabowo dalam cuplikan video tersebut. Tidak ada tanggal, tempat dan keterangan pasti yang dapat dihubungkan dengannya. Satu-satunya petunjuk adalah waktu video itu diposting: sehari sebelum Hari Raya Kemerdekaan RI. Jadi, yang bisa dibuat adalah menghubungkan semua informasi yang dalam laman instagram itu dengan perayaan suci 17Agustus. Info apa saja yang bisa ditarik dari laman sang calon gubernur?

Info pertama adalah ungkapan Sandiaga Uno sendiri : Sesuai arahan Bapak, saya siap untuk berjuang membela rakyat kecil. Jakarta milik semua golongan. Artinya, menurut  Prabowo, kemenangan Sandiaga Uno nantinya adalah kemenangan rakyat kecil, artinya partai Gerindra mengutamakan kesejahteraan rakyat kecil. Kemudian, Sandiaga menambahkan : Jakarta milik semua golongan. Artinya, tidak ada lagi golongan khusus yang mendapat keistimewaan di Jakarta. Itulah visi dan misi yang dipercayakan Prabowo kepada calon gubernur pilihannya. Apa hubungannya dengan 17 Agustus? Jelas, Prabowo melalui Sandiaga Uno ingin menempatkan pertarungan Pilkada 2017 sebagai sebuah re-aktualisasi perjuangan para pahlawan. Seperti halnya para pahlawan membela rakyat Indonesia yang ditindas penjajah, demikian pula nantinya Sandiaga Uno sebagai gubernur harus menjadi pahlawan wong cilik yang membebaskan mereka dari pembedaan perlakuan berdasarkan golongan atau status tertentu dalam masyarakat. Singkat kata, Sandiaga Uno diberi tugas mewujudkan keadilan bagi rakyat kecil di Jakarta sesuai cita-cita para pejunag ’45.

Yang menarik, untuk menguatkan visi dan misi tersebut, Sandiaga Uno menautkan cuplikan video Prabowo. Cuplikan tersebut memperkuat penafsiran di atas karena dengan tegas disebutkan bahwa penjajahan masih berlangsung melalui kehadiran mereka yang disebut antek asing. Apa hubungannya dengan perayaan 17 Agustus? Artinya, kemerdekaan dihayati sebagai perjuangan melawan segala yang berbau asing. Kemerdekaan adalah bebas dari asing. Jadi, sekali lagi, Sandiaga Uno hendak menegaskan bahwa pencalonannya adalah perpanjangan dan kelanjutan dari perjuangan para pahlawan kemerdekaan.

Adalah hak beliau untuk menafsirkan pencalonannya secara demikian. Yang jadi tugas para pembaca kompasiana adalah menilai apakah cara berargumennya tepat sasaran. Saya menawarkan suatu evaluasi atas hal tersebut. Ada dua titik penting yang hendak saya tawarkan. Pertama, berkaitan dengan struktur pidato Prabowo dan kedua berhubungan dengan relasi antara asing dan kemerdekaan RI.

Pertama, struktur pidato Prabowo dan definisi asing:

Siapakah para antek asing tersebut? Untuk mendapat jawabannya, mari kita cermati struktur pidato Prabowo.

Pertama disebutkan: “kalau kau kau hormat sama Prabowo, kalau kau cinta sama Prabowo, kalau kau setia sama Prabowo, bantulah Sandiaga Uno”

Kemudian diserukan:”Yang tidak dukung Sandiaga Uno antek asing, saudara-saudara!”

Simpulannya: “Antek asing adalah mereka yang tidak mendukung Sandiaga Uno. Dan mendukung Sandiaga Uno berarti menghormati, mencintai dan setia pada Prabowo. Maka antek asing adalah mereka yang tidak hormat, tidak cinta dan tidak setia pada Prabowo.”

Argumen semacam ini dikenal sebagai argumen berdasarkan otoritas, artinya, kebenarannya datang bukan dari penalaran logis-kritis tetapi berdasarkan karisma dan kuasa pihak yang mengatakannya. Di hadapan argumen semacam ini, kita tidak bisa bertanya, mengapa yang tidak mencintai Prabowo dapat disamakan dengan antek asing. Dia tidak menuntut penjelasan logis. Dia meminta kebenarannya diterima, tanpa tanya. Karena yang berkata itu orang benar, orang berkuasa, orang berkarisma, maka perkataannya pasti benar.

Dari sisi lainnya, argumen ini juga bisa disebut argumen ad hominem, artinya, argumen pribadi lainnya dianggap tidak benar karena dia bukanlah orang yang berkarisma, bukan orang yang punya kuasa. Kita pun tidak bisa bertanya, mengapa mereka yang bersebrangan dengan Prabowo adalah pihak yang salah alias antek asing. Tidak ada alur logis dalam argumen ini. Yang ada adalah otoritas yang hanya bisa diamini.

Dengan demikian, struktur pidato Prabowo tidak menambah informasi apapun mengenai pihak asing yang dimaksud. Pidato itu tidak bisa dibantah ataupun diterima secara nalar. Ia bersandar pada otoritas yang lebih menyangkut pada rasa dan rasa tidak bisa didiskusikan.

Walau tidak bisa dibantah maupun disetujui secara logis, argumen semacam ini berbahaya karena menyentuh perasaan atau sentimen. Ada nada fanatisme di sana dan fanatisme itu buta. Maka, patut disayangkan kalau seorang figur sepenting Prabowo lebih memilih cara berargumen yang membakar fanatisme daripada cara kritis yang menambah wawasan.

Kedua, pemahaman relasi asing dan kemerdekaan. Patut dilihat kembali, kemerdekaan Indonesia bukan sekedar bebas dari penjajahan Belanda tetapi bebas untuk membangun dirinya sendiri dan bergabung dengan kemanusiaan semesta. Penjajahan yang dimaksud bukan sekedar yang datang dari luar, tetapi juga yang datang dari dalam. Tanpa yang disebut asing, Indonesia pun tidak bisa merdeka. Ia butuh pengakuan dunia internasional. India dan Australia adalah negara-negara asing pertama yang mengakui RI sebagai sebuah entitas politik yang merdeka. Vatikan bahkan sudah mengakui RI sebagai sebuah negara berdaulat dua tahun sebelum dunia internasional mengakuinya pada tahun 1949.  Jadi, nasionalisme Indonesia bukanlah nasionalisme sempit anti-asing tetapi nasionalisme kemanusiaan universal.

Dunia yang sudah jengah dengan nasionalisme sempit ala Nazi Jerman, fasis itali atau fasis Jepang, mencari sesuatu yang menyatukan segala bangsa, yaitu kemanusiaan universal. Tidak heran, kalau sila kedua Pancasila berbunyi: kemanusiaan yang adil dan beradab. Ia diletakkan persis setelah sila pertama, Ketuhanan yang maha esa. Artinya, kebangsaan, keindonesiaan, harus diletakkan sebagai perwujudan kemanusiaan yang diciptakan oleh Tuhan yang Esa, yang satu, untuk semua orang.

Dengan demikian, dialektik yang diajukan Sandiaga Uno dan Prabowo, yaitu dialektik asing vs Indonesia, kurang pas. Dialektik yang pas adalah penindasan vs kemanusiaan. Siapapun yang menindas kemanusiaan, yang mencuri hak orang kecil, yang membatasi kebebasan, adalah penjajah, entah dia orang asing atau orang pribumi.

Ville de lumière, 17 Agustus 1945.

Pengalaman Cuma-cuma

15 Agustus 2006…

Barisan putra-putri altar mengawali iringan para imam memasuki gedung gereja St. Bartolomeus, Galaxy, Bekasi. Seiring asap dupa nan wangi, alunan doa dalam nada membumbung ke angkasa, mengantar asa seisi jemaat ke hadiratNya: “Ke depan altar, aku melangkah…” 

15 Agustus 2016…. (10 tahun kemudian)

Melangkah sendiri ke halaman gereja St. Joseph artisan, diri ini disambut senyum dan sapa seorang tentara yang berjaga di muka gerbang gereja:”Bonjour et bonne fête” (Selamat pagi dan selamat berpesta). Selanjutnya, bersama 9 suster dari konggregasi Servantes des pauvres dan seorang ibu, di dalam kapel biara mereka yang mungil, kami merayakan ekaristi, mendalami misteri iman terangkatnya Bunda Maria ke surga.

Apa kesamaan antara 15 Agustus 10 tahun yang lalu dan 15 Agustus hari ini? 

Satu pengalaman ditawarkan oleh kenangan tahbisan 10 tahun yang lalu dan senyum sapa seorang tentara serta kesederhanaan hidup para suster yang kuterima hari ini: pengalaman akan yang “cuma-cuma.”

Imamat adalah pemberian cuma-cuma Allah melalui GerejaNya; senyum sapa seorang tentara adalah pemberian cuma-cuma; kesaksian para suster biara adalah pemberian cuma-cuma. Semuanya mewujudkan pengalaman akan yang cuma-cuma, yang gratis, yang melampaui perhitungan untung rugi, melampaui logika berguna atau tak berguna.

Orang Latin menamakan yang cuma-cuma sebagai gratis, dari gratia, rahmat. Artinya: pemberian ilahi yang mendahului logika pantas tidak pantas menurut hukum dunia.

Orang Yunani tidak jauh dari pengertian yang sama ketika menamai keindahan dengan istilah charis, yaitu pengalaman estetis berkat perjumpaan dengan segala yang indah dalam seni, di alam ciptaan, dst.

Maka, imamat adalah rahmat sekaligus keindahan. Ia menjadi tanda kehadiran sisi kehidupan yang cuma-cuma, kehidupan sebagai anugerah, sebagai hadiah. 

Di tengah arus logika untung rugi dan perhitungan praktis yang menyempitkan identitas manusia modern sebagi homo economicus, imamat, seperti halnya senyum sapa seorang tentara dan kesaksian hidup para suster biara, merupakan undangan untuk menyelami kehidupan manusia sebagai misteri rahmat sekaligus keindahan.

Tidak semuanya bisa disimpulkan dalam logika menang kalah, untung rugi, berguna atau sia-sia. Ada dimensi kehidupan yang hanya bisa diterima: 

Pengelana tidak akan bertanya mengapa mawar merah berada di sana. Ia akan terpukau akan keindahan sang mawar dan menerimanya sebagai hadiah semesta

Paris, 15 Agustus 2016

Hari Raya Bunda Maria diangkat ke surga

Membedah Wawancara Ahok Tentang Trotoar yang Berujung Kisruh 

Media sosial dihebohi perkara “Surabaya hanya Jakarta Selatan” yang terucap dari mulut seorang Ahok. Bu Risma, sang Wali Kota Surabaya sampai gelar jumpa pers. Tujuan jumpa pers, seperti terungkap dari Ibu Risma sendiri, untuk meredam kemarahan warga Surabaya. Salah Surabaya apa sampai diserang sedemikian rupa oleh Ahok, demikian kira-kira gundah gulana seorang Ibu Wali Kota. Tetapi benarkah Ahok menyerang Surabaya dengan pernyataannya? Menafsirkan memang perkara pribadi. Tetapi, menafsirkan bukan berarti seenaknya. Ada kaidah-kaidah tertentu yang menentukan bagaimana sebuah penafsiran dapat dikatakan mendekati kebenaran atau sekadar ngawur. Kaidah paling kuat adalah memahami struktur penyataan itu dan konteksnya. Maka, saya mengundang sidang pembaca untuk memahami konteks dan struktur pernyataan Ahok yang membalut sumber kisruh Risma-Ahok tadi. Saya mengambil video wawancara Ahok seperti dapat dilihat di bawah ini sebagai sumber utama. 

video

Video diawali dengan pertanyaan seorang wartawan yang membandingkan kondisi trotoar di Jakarta dan di Surabaya yang lebih teratur. Jawaban Ahok, “Memang. Makanya kita mau belajar dari Bu Risma. Bu Risma menata itu butuh waktu yang lama.” Lantas Ahok menguraikan jenjang karir bu Risma yang memang tidak jauh dari penataan Kota Surabaya: dari Kepala Dinas Taman, lalu bapeda, lalu Wali Kota, “Itu sudah di atas sepuluh tahun…. Kasih saya waktu, saya beresin.” Menanggapi jawaban Ahok, wartawan yang sama bertanya lagi, “Butuh dua periode?” Ahok tidak menjawab secara langsung butuh berapa lama tetapi memberi sinyal kalau akan ada perubahan penampakan trotoar di jalan-jalan utama Jakarta. 

Analisis Bagian Pertama 

Ini bagian pertama dari video yang mengaitkan Jakarta-Surabaya, Ahok-Risma. Saya menamakan bagian ini: Bangun Trotoar Butuh Waktu. Bagian ini bisa dibagi dua: pertama, pengakuan Ahok bahwa trotoar di Surabaya sudah bagus (memang…) dan keberhasilan itu tidak bisa dilepaskan dari usaha perempuan pertama yang menjabat Wali Kota Surabaya (Makanya kita mau belajar dari bu Risma). Bagian kedua: pernyataan Ahok kalau membangun itu butuh waktu. Seperti halnya Bu Risma berhasil menata Surabaya tidak hanya sebagai wali kota tetapi juga sedari awal karirnya sebagai PNS di Surabaya (Bu Risma menata itu butuh waktu lama… Itu sudah di atas sepuluh tahun), demikian juga Ahok meminta warga Jakarta untuk memberinya waktu membangun trotoar Jakarta (kasih saya waktu). 

Analisis Bagian Kedua 

Kalau di bagian pertama, tema relasi Surabaya-Jakarta datang dari pertanyaan wartawan, di bagian kedua ide ini keluar dari jawaban Ahok sendiri ketika seorang wartawan perempuan bertanya tentang pembangunan trotoar di perkampungan. Jawaban Ahok, “Total yang mau kita beresin itu bisa 2700 Km. Dua kali Jakarta-Surabaya, Surabaya-Jakarta. Surabaya-Jakarta kan kira-kira 1300 kilometer kan kira-kira, itu begitu. Memang masalah trotoar kita. Kita beresin.” Bagian kedua ini saya beri judul: Trotoar Jakarta Panjang dan Bermasalah. Kota Surabaya disebut Ahok untuk memberi gambaran betapa panjangnya trotoar yang harus dibenahi.  Dari bagian kedua ke bagian ketiga, terentang waktu yang cukup panjang yang diisi oleh permasalahan lain menyangkut BPN dan aset-aset Pemprov Jakarta yang harus dilindungi. 

Analisis Bagian Ketiga 

Seperti halnya bagian pertama, bagian ketiga tema Surabaya-Jakarta muncul dari pertanyaan wartawan, “Lalu soal Risma semakin gencar nih Pak ke Jakarta…” Jawaban Ahok, “Kamu tanya sajalah, susah sih omongnya. Yang pasti, Jakarta membutuhkan banyak orang yang sudah terukur, teruji, supaya kalian gak membeli kucing dalam karung.” Lalu Ahok membayangkan debat ideal bagi para calon Gubernur Jakarta. Mengambil tema pertama, soal trotoar di Surabaya dan di Jakarta, Ahok berujar, “Ini Jakarta bagaimana, kok beda amat sama Surabaya. Surabaya trotoarnya sudah rapi kok Jakarta belum. Nah itu yang sehat.” 

Jadi, Bagaimana Maksudnya? 

Ahok menganggap perbandingan program daerah atau hasil program daerah sebagai debat yang sehat karena kemudian bisa membuka wawasan masyarakat akan permasalahan penataan kota, “Kita akan jelaskan kepada masyarakat, Surabaya itu cuma Jakarta Selatan. Ini (Jakarta) bukan cuma Jakarta Selatan.” Dengan demikian, masyarakat diundang untuk mengenal Kota Jakarta sebagai sebuah Daerah Khusus Ibu Kota. Memang Jakarta sebuah kota, seperti halnya Surabaya. Tapi, Jakarta itu kota yang khusus, yang tata kelola administrasinya berbeda dari Surabaya. Oleh karena itu, Ahok pun tidak bisa menyombongkan Jakarta Pusat yang megah sebagai cermin Jakarta, karena Jakarta Pusat tidak sama dengan Jakarta. Kemudian Ahok mengharapkan banyak kepala daerah datang ke Jakarta karena Ibu Kota memang membutuhkan penanganan yang khusus. Ahok pun menjelaskan apa yang sudah terjadi selama dia memerintah Jakarta, baik sebagai Wakil Gubernur maupun sebagai Gubernur: soal prioritas penataan sungai, soal e-budgeting dan kisruh dengan DPRD, soal pembelian tanah, soal permainan-permainan kotor dalam lelang, dan seterusnya. Program dan pelaksanaannya itulah yang akan dibeberkan Ahok dalam debat cagub nanti, “Tinggal kamu pilih yang mana.” Dengan demikian, masyarakat terbuka wawasannya tentang tugas seorang kepala daerah, soal tata kelola daerah, hingga dapat memilih pemimpin daerah yang benar. Bagian ketiga ini saya beri judul: Debat Program Calon Kepala Daerah sebagai pendidikan politik masyarakat.  

Ahok tidak menghindar kalau situasi Jakarta dibandingkan dengan situasi kota lain. Perkara trotoar di Surabaya diambil sebagai contoh karena sudah dibicarakan jadi lebih mudah dipahami oleh para wartawan. Contoh itu ditempatkan Ahok dalam sebuah debat ideal antara para calon pemimpin daerah, termasuk ucapan Ahok yang membuat senewen Bu Risma, “Surabaya itu cuma Jakarta Selatan.” Mungkin Bu Risma tidak akan semarah itu seandainya menempatkan ungkapan Ahok itu dalam struktur yang tepat. 

Sebelum mengatakan, “Surabaya itu cuma Jakarta Selatan,” Ahok mengungkapkan perdebatan program sebagai perdebatan yang sehat (Jakarta membutuhkan banyak orang yang sudah terukur… itu yang sehat). 

Lalu, Ahok memberi contoh debat yang sehat itu, yaitu soal trotoar Surabaya dan Jakarta hingga muncul perbandingan Surabaya dan Jakarta Selatan. 

Setelah itu, Ahok menutup kembali dengan pernyataan debat program itu debat sehat demi membuka wawasan masyarakat (Tinggal kamu pilih yang mana). Dengan demikian, pernyataan Ahok soal Surabaya dan Jakarta Selatan jauh dari pernyataan yang melecehkan. Struktur pernyataan Ahok memperlihatkan itu. Orang menyebut struktur demikian dengan istilah: sandwich, artinya sebuah pernyataan mendapat makna berkat dua pernyataan yang mengapitnya. Dua pernyataan yang mengapit “Surabaya itu Jakarta Selatan” adalah debat sehat para calon kepala daerah.  

Yang bisa dipetik dari kasus ini adalah pentingnya konteks bagi pemaknaan sebuah pernyataan. Bukan kata yang memberi makna sebuah pernyataan tetapi konteks pernyataan itu. Misalnya, istilah volume punya potensi makna beragam tergantung konteksnya. Kalau dikaitkan dengan konteks perbukuan, volume punya makna nomer atau edisi atau bagian dari kumpulan buku. Tetapi, kalau dikaitkan dengan ilmu fisika, volume memberi arti yang berbeda. 

Maka, kita sudahi kegaduhan ini. Bu Risma dan Ahok itu orang kepercayaan masyarakat. Mari kita bantu mereka berdua menjalankan kepercayaan dengan baik dan bukannya mendorong mereka untuk beradu emosi.  

Salam persatuan 

Ville de lumière, subuh, panca hari jelang Hari Suci Republik


Selengkapnya : http://m.kompasiana.com/triantoseverus/membedah-wawancara-ahok-tentang-trotoar-yang-berujung-kisruh_57ad230f8223bd0d0a247bef

Kautahu Tuhan KucintaKau

Kis. 25:13b-21; Mzm. 103:1-2,11-12,19-20ab;Yoh. 21:15-19.

image

“Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?”

Sebelum sengsara dan wafat Tuhan, Petrus menjawab pertanyaan di atas dengan lantang: ” Biarpun yang lainnya menyangkalMu, aku akan menyerahkan nyawaku untukMu”.

Kini, setelah kebangkitan Tuhan, Petrus tidak lagi membandingkan dirinya dengan para murid yang lain. Tidak lagi merasa lebih baik dari mereka. Ia kini meletakkan semuaNya ke dalam hati Tuhan dan GuruNya, Sang Gembala yang mengenal setiap domba-dombaNya: ” Kautahu Tuhan, kucintaKau”.

Siapa dapat menilai kedekatan dengan Tuhan? Aku jauh Engkau jauh, Aku dekat Engkau dekat, senandung Bimbo. Tuhan adalah  Penyair Agung. Ia sanggup menggubah untaian peristiwa hidup setiap pribadi yang dianggap tak berarti menjadi sebuah syair murni. Detik-detik terakhir penyamun di salib diubahNya jadi pintu masuk ke surga. Penyangkalan Petrus dibuatNya jadi awal pertobatan dan perutusan.

Tuhan Yesus memberkati dan Bunda Maria melindungi

Paris 13 Mei 2016, Jumat

Kemuliaan Allah dan Persatuan Gereja

Kis. 22:30; 23:6-11; Mzm. 16:1-2a,5,7-8,9-10,11;Yoh. 17:20-26.

Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu

a1

Setidaknya ada tiga arti kata doxa, kemuliaan, dalam bahasa Yunani. Arti pertama adalah penilaian manusia. Arti kedua, keagungan Allah yang tercermin dalam ciptaanNya. Arti ketiga, keagungan Allah itu sendiri. 

Sumber kesatuan para murid dalam doa Yesus di atas adalah keagungan yang diterima Yesus dari Allah Bapa dan diberikanNya kepada para muridNya di sepanjang zaman. Apa wujud keagungan Allah yang menjadi sumber pemersatu itu?

Keagungan itu adalah diri Yesus sendiri, Allah Putra yang menampilkan wajah Allah Bapa yang tidak kelihatan. Puncak keagungan itu terjadi di atas kayu salib: dari kayu salib Yesus menarik semua orang yang percaya kepadaNya. Dengan kata lain, keagungan Allah nampak dalam cintaNya yang total kepada manusia, yang tercermin dalam Diri Yesus.

Cinta berarti relasi, berarti berani tidak  memutlakkan diri, pikiran dan pendapat sendiri, agar muncul tempat bagi yang lain. Karena itu, cinta selalu kreatif, artinya penciptaan: dengan menyangkal diri sebagai pusat dunia, muncul dunia yang dihuni sesama.

Cinta yang penuh, yang terjadi di kayu salib, menciptakan kebebasan yang sejati: diri kita diberi tempat oleh Allah, di hadapanNya. Inilah sumber persatuan kita. Masing-masing dari kita tidak perlu berebut tempat, berebut perhatian, menjadi yang paling dalam segala hal menurut penilaian manusia.

Ketika memandang salib, merenungkan kemuliaanNya, kita sadar kalau kita sudah punya tempat, yaitu tempat di hadapanNya, perhatianNya.

Tuhan Yesus memberkati dan Bunda Maria melindungi,

Paris, Kemis 12 Mei 2016