Membanding-bandingkan

Selasa, 20 April 2010

Bac. I: Kis. 7:51-8:1a
Injil:6:30-35

Tidak ada orang yang suka dibanding-bandingkan. Seorang anak akan merasa sakit hati kalau orang tuanya membandingkan dirinya dengan saudara-saudarinya. Setiap pribadi adalah sebuah keunikan, seperti sidik jari. Tidak ada pribadi yang persis sama. Bahkan sepasang kembar identik pun tetap meninggalkan rongga perbedaan.

Hari ini, orang-orang Yahudi yang mencari roti mencoba membanding-bandingkan Yesus dengan Musa. Sangka mereka, dengan cara demikian gengsi Tuhan Yesus akan terusik, lantas Ia terpaksa melakukan penggandaan roti lagi, seperti yang dulu pernah dilakukan Musa di padang gurun. Inilah cobaan mengubah batu menjadi roti. Injil Lukas dan Matius, mengisahkan bagaimana identitas Yesus sebagai Anak Allah diusik oleh Iblis untuk membujuk Yesus supaya mengubah batu menjadi roti: Jika Engkau Anak Allah, ubahlah batu ini menjadi roti. Sekarang, orang-orang Yahudi mengambil tempat Iblis dengan mencobai Yesus: Jika Engkau sungguh layak dipercaya, buktikan bahwa DiriMu lebih hebat dari Musa yang dulu memberi kami roti manna. Apa tanggapan Yesus?

Baik terhadap cobaan dari Iblis maupun tantangan dari orang Yahudi, jawaban Yesus sama: mengembalikan semuanya kepada kuasa Bapa. Bukan Musa yang memberikan manna, tetapi Allah BapaNya. Lebih jauh dari itu, Yesus menyatakan DiriNya sebagai Roti Hidup. Dia tidak dapat dibandingkan dengan roti biasa, dengan orang biasa, sehebat apa pun dia, termasuk Musa, sebab Yesus datang langsung dari Bapa.

Pesan untuk kita: satu, jangan pernah membandingkan orang dan jangan pernah mau dibandingkan dengan orang lain. Setiap orang adalah unik dan berharga di mata Bapa. Kalau bahaya godaan membandingkan datang, kembalilah kepada asal muasal kita, yang bukan dari dunia dengan segala pujian dan cacinya, tetapi kepada Bapa Maha Kasih, yang selalu memberikan sabda berkatNya: Engkaulah PutraKU, Aku mencintaimu. Kedua, Yesus tidak dapat dibandingkan dengan barisan tokoh dunia. Yesus dari Nazaret bukanlah nabi biasa, manusia super, filsof paling hebat. Dia adalah Yang datang dari Bapa, sehakikat dengan Bapa. Ini inti iman kepercayaan kita. Jangan pernah mau digoyahkan.

Tuhan memberkati.

Iklan

Satu pemikiran pada “Membanding-bandingkan

  1. Terima kasih banyak renungannya mo…..

    Memang benar tidak ada seorangpun yang suka jika dibanding-bandingkan……
    Tuhan begitu adil dan tidak pernah membanding-bandingkan umatNya….
    Kita semua berharga bagiNya…..Tuhan begitu mengenal kita satu persatu ….
    Aku juga ingin belajar lebih menghargai setiap pribadi….dengan segala kelebihan dan kelemahan pada setiap orang….dan memandangnya dengan kasih…..

    Terima kasih Tuhan…..Amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s