Kerasulan Kaum Awam , bagian I: Pengantar dan bagian Kitab Suci

KERASULAN KAUM AWAM: MENDALAMI DEKRIT APOSTOLICAM ACTUOSITATEM

Pengantar

Tujuan pembicaraan tentang kerasulan kaum awam ini adalah: memahami bagaimana kaum awam juga warga Gereja yang penuh, bukan warga Gereja kelas dua di bawah biarawan dan imam, yang memiliki hak dan kewajiban untuk melakukan karya kerasulan. Untuk itu pembicaraan tentang dekrit kerasulan kaum awam ini dibagi menjadi beberapa bagian: pertama, bagian Kitab Suci: melihat bahwa setelah kebangkitan, semua oran yang percaya kepada Yesus menjadi muridNya, dengan martabat yang sama dan fungsi pelayanan yang berbeda. Bagian kedua adalah sejarah singkat, bagaimana kaum biarawan/rohaniwan mendapatkan posisi yang lebih baik di mata kaum awam. Bagian ketiga membahas martabat dan derajat kaum awam menurut dekrit Konsili Vatikan II dan bidang-bidang kerasulannya.

Bagian Pertama: Berkaca pada Kitab Suci, Dari Pengikut menjadi Murid[1]

Yang disebut Murid Yesus sebelum kebangkitanNya

Pada mulanya, Yesus bermaksud membawa seluruh bangsa Israel bertobat, melakukan silih atas dosa-dosa mereka, dan menyambut Kerajaan Allah yang Ia bawa. Namun demikian, Yesus dan pesanNya mengalami baik penolakan maupun disalahtafsirkan. Para imam kepala, ahli-ahli Taurta,dan orang-orang Farisi menolak Yesus dan pesanNya. Lebih banyak lagi orang yang menafsirkan Yesus sebagai Mesias politis yang datang untuk membebaskan bangsa Israel dari penjajahan Romawi. Oleh karena itu, dari antara banyak orang yang mengikutiNya, Yesus memilih beberapa orang sebagai muridNya. Maka ada perbedaan antara mereka yang percaya dan mengikutiNya dan para murid pilihanNya. Tidak semua yang percaya dan mengikutiNya menjadi muridNya: Lazarus, Marta dan Maria dekat dengan Yesus tetapi tampaknya mereka tidak menjadi muridNya dan tettap tinggal di Betania (Yoh. 11:1-44); orang yang disembuhkan di Gerasa ingin mengikuti Yesus tetapi keinginannya itu tidak dikabulkan (Mrk. 5:19); orang muda yang kaya raya gagal menjadi murid Yesus karena enggan meninggalkan kekayaannya (Mat. 19:16-22). Oleh karena itu, para murid adalah mereka yang dipilih di antara kerumunan orang yang mengikuti Yesus.

Bahkan di antara para muridpun ada perbedaan dalam hal kedekatan dengan Tuhan. Ada lingkaran luar yang terdiri dari pria dan wanita, yang beberapa di antaranya dapat kita sebut namanya, yaitu Kleopas (Lk. 24:18), Yusuf dari Arimatea (Yoh. 19:38), dan Yosep Barsabas dan Matias (Kis. 1:23). Kemudian, lingkaran agak lebih dalam lagi adalah ke 72 murid yang diutus Yesus dalam Lk. 10:1-16. Lantas, ada juga 120 murid yang berkumpul di lantai atas di seputar Bunda Maria, Petrus, dan kesebelas rasul dalam bab awal Kisah Para Rasul. Dari antara para murid ini, kelompok 12 adalah kelompok inti dan mendapat tugas-tugas penting. Bahkan di antara 12 murid ini, ada lagi tiga murid, yaitu Petrus, Yakobus dan Yohanes, yang menemani Yesus pada saat-saat khusus. Dan dari antara ke 12 murid, satu nama selalu disebutkan paling awal: Petrus.

Bersama Yesus, para murid ini membentuk suatu masyarakat alternatif, komunitas tandingan, yang secara simbolis mewkili Israel yang diperbarui. Dengan gaya hidupnya yang mencolok, mereka menarik perhatian banyak orang pada masa itu, seperti sebuah kota yang terletak di atas bukit atau lentera di dalam kamar yang gelap gulita. Tujuan mereka adalah mengingatkan sesamanya akan nilai-nilai Kerajaan Allah yang melampaui segala hal yang bersifat duniawi semata. Gaya hidup dan peraturan yang diterapkan oleh kelompok ini cukup ketat. Mereka harus meninggalkan segalanya untuk kepentingan Kerajaan Allah; mereka tidak boleh menerima penghormatan sebagai guru maupun pemimpin; mereka tidak boleh menuntut balas; dan akhirnya, mereka pun harus menanggung sengsara Sang Guru untuk menyelamatkan dunia. Jalan Yesus adalah jalan para murid; menjadi murid berarti berjalan bersama Yesus.

Yang disebut Murid Yesus sesudah KebangkitanNya

Sesudah kebangitan dan kenaikan Yesus ke surga, gagasan tentang siapa yang menjadi murid Yesus mengalami perubahan. Dengan pencurahan Roh Kudus, kehadiran Yesus menjadi universal. Sekarang seseorang dapat mengikutiNya dengan iman, pujian, dan perubahan batin tanpa harus ke Yerusalem, Galilea, atau tempat-tempat khusus. Dalam Kisah Para Rasul, semua orang yang percaya pada Yesus dan dibaptis disebut muridNya. Gereja itu sendiri disebut sebagai komunitas para murid (Kis. 6:2). Dalam Perjanjian Baru, agama kristen adalah jalan untuk mengikuti Yesus (Kis. 9:2; 22:4). Dalam bab terakhir Injil Matius, kesebelas murid diutus oleh Yesus yang bangkit untuk menjadi semua bangsa muridNya. Maka, sebutan para murid sama artinya dengan mereka yang percaya pada Kristus. Dalam masa ini, belum ada perbedaan yang tajam antara para rasul sebagai kelompok inti para murid Yesus dan murid-murid Yesus lainnya. Awam-imam belum menjadi dua kutub yang bertentangan.


[1] Avery Dulles, Models of the Church, Doubleday, New York 2002, hlm. 199-205.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s