Kerasulan Kaum Awam, Bagian II: Sejarah Gereja

Bagian kedua: Berkaca pada Sejarah Gereja, Dari Sesama Murid sampai Murid Istimewa

Permuridan di zaman Pengejaran

Di abad-abad pertama, menjadi orang Kristen atau murid Yesus artinya hidup dalam kedisplinan tingkat tinggi dan penuh perjuangan. Para murid Yesus menjauhkan dirinya dari lingkungan yang tidak ramah: baik dari orang-orang Yahudi maupun orang-orang non Yahudi. Mereka tidak terlibat dalam peperangan, tidak menghadiri acara-acara hiburan populer seperti gladiator di koloseum, mereka tidak memakai rambut palsu atau pun perhiasan, mereka juga tidak ikut dalam mandi bersama di pemandian umum. Sebaliknya, mereka menampilkan praktek hidup penuh pelayanan bagi orang yang lemah: merawat orang miskin dan sakit, memberi tumpangan bagi pengembara, menjaga para janda dan anak yatim. Semuanya dilakukan sedemikian sehingga membuat penduduk Roma begitu kagum dan berucap: lihat bagaimana mereka saling mencintai. Gaya hidup alternatif ini bukannya tanpa perlawanan. Penduduk kekaisaran Roma merasa asing dengan para murid Yesus ini. Kemudian, muncul rasa takut karena kebiasaan orang Kristen tidak sama dengan kebiasaan penduduk Roma. Lantas, lahirlah sikap permusuhan sampai-sampai seseorang dapat dijebloskan ke penjara dengan satu alasan: dia mengaku Kristen. Maka, menjadi murid Kristus identik dengan penganiyaan, penjara, dan kematian. Uskup dan martir, Ignasius dari Antiokia pernah menulis: seorang martir adalah murid Yesus yang sejati. Patut dicatat: pada masa pengejaran ini, sebagian besar teolog Kristen justru datang dari kelompok yang kemudian disebut kaum awam. Misalnya: Yustinus martir, Tertulianus, Origines (baru kemudian dia menjadi imam)[1]. Maka, pembedaan awam-imam seperti yang kita temukan pada masa ini juga belum ada.

Permuridan di zaman Kekaisaran Romawi Kristen sampai dengan Keruntuhan Kekaisaran Romawi Barat

Ketika agama Kristen menjadi agama resmi kekaisaran Romawi, pengejaran atas para murid Yesus berhenti. Orang-orang Kristen mulai terlibat di dalam kehidupan sehari-hari masyarakat kekaisaran Roma. Pelan-pelan, gaya hidup radikal sebagaimana dipraktekkan para murid Yesus sebelumnya harus dikompromikan dengan gaya hidup masyarakat pada umumnya. Namun demikian, bukan berarti tuntutan etis yang keras bagi para murid Yesus lenyap. Masih banyak juga yang mempraktekkannya. Bahkan ada sekelompok orang yang menemukan jalan hidup sebagai murid Yesus secara radikal. Sudah sejak abad ke IV, ada sekelompok orang Kristen yang meninggalkan pemukiman untuk hidup secara keras di padang gurun. Tujuan mereka adalah menjalani kehidupan sebagai murid-murid Yesus dengan menghayati tiga nilai injili: kemiskinan, kemurnian, dan ketaatan. Inilah masa Bapa-bapa Padang Gurun. Gaya hidup mereka akan ditiru dalam bentuk kehidupan membiara. Dalam tradisi Gereja Katolik Roma, kehidupan semacam ini diperluas sampai kepada konsep imamat. Para murid Yesus yang sejati, menurut konsep ini, adalah mereka yang memeluk hidup religius: menjadi imam atau biarawan. Inilah benih-benih awal adanya perbedaan martabat di antara sesama murid Yesus, yang efeknya masih kita hidupi sampai saat ini dalam perbedaan antara imam dan awam. Perbedaan ini semakin terasa ketika Kekaisaran Romawi Barat jatuh. Orang-orang barbar memenuhi kota-kota yang sebelumnya diperintah oleh Roma. Kelompok yang tidak mengenal peradaban semaju Roma ini melihat pada dua kelompok elit masyarakat: para uskup, yang menjadi penopang masyarakat suatu kota, dan para rahib, yang menjadi penjaga kebudayaan dan kemajuan[2]. Perbedaan antara mereka yang religius dan non-religius semacam tajam. Menjadi biarawan bukan saja bentuk permuridan yang sejati, menurut pandangan ini, tetapi juga syarat untuk mendapatkan pengetahuan dan berbudaya.


[1] Rene Latourelle, Teologi Scienza della Salvezza: prospettive della sapienza cristiana, Cittadella editrice, Assisi, hlm. 196.

[2] Rene Latourelle, Teologi Scienza della Salvezza: prospettive della sapienza cristiana,hlm. 197.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s