Apartheid di Indonesia

Ternyata, para saudaraku, politik memisah-misahkan orang berdasarkan warna kulit yang dulu sempat meraja di Afrika Selatan, pernah juga terjadi di negara kita, ratusan tahun yang lalu.  Secara lebih tepatnya, angka tahun 1830 menjadi awal kolonialisme Belanda atas Hindia Belanda atau Indonesia. Pada tahun itulah diterapkan juga pemisahan di antara masyarakatnya: orang Eropa adalah warga masyarakat kelas satu dengan perlakuan super VIP; orang Asia Timur Asing (orang CIna, India, Arab) adalah warga masyarakat kelas dua dengan perlakuan VIP; dan orang pribumi (orang Jawa, Batak, Sunda, Madura, Bugis, Minang, dan ratusan suku lainnya) yang adalah mayoritas, adalah warga masyarakat kelas tiga dengan perlakuan kelas kambing. Jadi, sejak tahun 1830, kalau kakek buyut kita misalnya mau naik kereta, dia harus duduk di gerbong kelas tiga. Sekaya apa pun kakek buyut kita, tiket kereta paling mahal yang bisa didapatnya adalah kelas tiga, karena kelas dua dan kelas satu diperuntukan bagi para pendatang CIna, India, Arab dan orang Eropa.

Itu belum semuanya. Di Batavia (nama jadulnya Jakarta), orang harus tinggal menurut suku asalnya. Orang Eropa tinggal di perkampungan Eropa, orang Cina di perkampungan Cina, orang Makasar di kampung Makasar, orang Ambon di kampung Ambon dan seterusnya (oleh sebab itu, di Jakarta ada daerah-daerah yang masih disebut Kampung Ambon di dekat Pulomas, Kampung Makasar di dekat Halim, dst). Sekarang bayangkan, kalau kakek buyut kita, yang orang Sunda, mau apel ke nenek buyut kita yang orang Cina, dia harus punya surat pas atau ijin masuk ke perkampungan Cina. Tambahan lagi, beberapa suku harus menampilkan ciri khas sukunya ketika tampil di depan umum. Orang Jawa harus berpakaian ala Jawa, orang Cina harus memelihari rambut panjang dengan pakaian Tionghoanya. Kalau mau tampil beda dari jati diri kesukuannya, harus minta ijin Gubernur Jenderal Hindia Belanda.

Gerakan emansipasi pertama yang hendak meruntuhkan tembok-tembok pemisah ini muncul justru dari warga masyarakat kelas dua, tepatnya dari masyarakat keturunan CIna di Jakarta. Sejak tahun 1900, mereka meminta Gubernur Jenderal untuk memberikan ruang gerak yang lebih leluasa kepada masyarakt Cina: orang Cina tidak lagi diwajibkan memiliki surat jalan kalau bepergian keluar perkampungan mereka, orang Cina diijinkan mengenakan pakaian gaya Eropa, dan terutama mereka meminta supaya dapat mendirikan sekolah khusus untuk orang Cina. Perjuangan ini pun membuahkan hasil. Pada tahun 1905, diskriminasi untuk orang Cina dihapuskan. Kini, mereka dapat berjalan bebas ke mana pun tanpa surat jalan. Pada tahun 1930, lahirlah sekolah pertama untuk orang-orang Cina dan juga partai orang Tionghoa. Bagai bola salju, gerakan emansipasi ini mendorong pemerintahan Kolonial Belanda untuk membuka juga sekolah khusus untuk orang-orang pribumi (HIS) supaya tidak lahir kecemburuan sosial.

Pelan namun pasti, politik apartheid ala Belanda digantikan oleh gerakan persamaan dan berujung pada tuntutan untuk sebuah Indonesia merdeka. Pertanyaan yang tersisa untuk kita: apakah di dalam otak kita mentalitas apartheid ini masih ada? Jangan-jangan, di antara sesama orang Indonesia, masih berlaku pemisahan lama. Bukan lagi berdasarkan warga negara, tetapi berdasarkan suku atau agama. Apakah aku masih takut menunjukkan identitasku sebagai orang Katolik, misalnya? Apakah penganut agama tertentu menjadi warga negara kelas satu  sementara penganut agama lainnya adalah warga negara kelas sekian? Jika masih ada pembedaan perlakuan, jangan ragu untuk memulai gerakan persamaan. Tuhan Yesus memberkati dan Bunda Maria melindungi.

Sumber: Ongkokham, Etnis Cina, komunitas Bambu, jogja, 2008

4 pemikiran pada “Apartheid di Indonesia

  1. Semua manusia sama berharganya di mata Tuhan…. semoga kitapun dapat memandang semua manusia sama berharganya tanpa membeda-bedakan….kita dapat belajar menghargai setiap pribadi dengan keunikannya masing-masing…..sehingga setiap pribadi tidak malu atau takut menunjukkan identitasnya sendiri…..karena setiap manusia sudah saling menghargai…….

    Thanks mo…..TYM n BMM

  2. Romo, bahkan kecenderungan yg terjadi sekarang adalah pengkotak-kotakan manusia bkn lg berdasarakan yg sudah disebut Romo di atas… tp berdasarkan kelompok2 yg dibentuk scra ekslusif tertutup, menganggap kelompok yg lain tdk sehebat kelompoknya. Bgmn usaha Gereja (Capital G) utk meredam kecenderungan ini?

    1. yup. itu juga sempat jadi bahan permenungan. ada kecenderungan orang memilih tempat tinggal di dalam kompleks yang seragam. lalu kompleksnya dijaga ketat oleh satpam, oleh tembok sekeliling, oleh pagar kawat berduri. inikan situasi ke zaman kolonial dulu, ketika orang dipisah-pisahkan tempat tinggalnya menurut suku asalnya. apa yang bisa Gereja buat? Gereja kan semua muring Kristus. jadi, ini gerakan bersama. para murid Kristus diundang memberi kesaksian hidup yang terbuka dalam sikap, pikiran dan perkataan. misalnya: jangan asyik dengan ajarannya sendiri, tapi kenalilah juga sejarah bangsa ini, kenalilah juga problem bangsa ini, ikut seminar diskusi tentang bangsa ini, libatkan diri dalam gerakan-gerakan kebangsaan. dst. ayo, cari bentuk lain keterbukaan kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s