Memilih Kegembiraan

Mungkin kedengarannya janggal mengatakan bahwa kegembiraan adalah akibat dari pilihan kita. Seringkali kita membayangkan bahwa orang yang satu lebih beruntung daripada yang lain dan bahwa kegembiraan atau kesedihannya tergantung pada situasi hidup mereka. Mereka sendiri tidak dapat menentukan situasi itu. Namun, sebenarnya, kita mempunyai pilihan, bukan pertama-tama menyangkut situasi hidup kita, tetapi dalam hal bersikap terhadap situasi itu. Dapat terjadi dua orang menjadi korban kecelakaan yang sama. Bagi yang satu, pengalaman itu dapat menjadi sumber kemarahan; bagi yang lain pengalaman itu menjadi sumber syukur. Situasi lahiriah sama, tetapi pilihan untuk mengambil sikap batin terhadapnya berbeda. Ada orang yang semakin tua, hidupnya semakin pahit. Yang lain, semakin tua malah semakin ceria. Mereka yang hidupnya semakin pahit tidak berarti menanggung beban kehidupan yang lebih berat daripada mereka yang semakin ceria. Perbedaan itu menunjukkan bahwa mereka telah menentukan pilihan-pilihan yang berbeda, yaitu pilihan batin. Penting untuk disadari bahwa pada setiap saat dalam hidup kita, kita mempunyai kesempatan untuk memilih kegembiraan. Hidup itu mempunyai banyak segi, yang menyedihkan atau menggembirakan. Oleh karena itu kita selalu mempunyai pilihan untuk menghayati saat ini sebagai sumber kemarahan atau sukacita. Bunda Maria mengerti bagaimana memilih sukacita sementara dunia hanya melihat beban dan duka dalam peristiwa yang sama. Mengandung dari Roh Kudus, tanpa suami manusiawi, adalah peristiwa iman. Di mata dunia, hal ini adalah sumber bencana. Tetapi dari kaca mata iman, dengan sikap seorang hamba Tuhan, Bunda Maria memilih peristiwa ini sebagai sumber kegembiraan. Hingga di hadapan Elizabet, Bunda menyanyikan Magnificat: Aku mengagungkan Tuhan, hatiku bersukaria karena Allah Juru Selamatku. Sebab Ia memperhatikan aku, hambanya yang hina ini. Mari kita memilih sukacita, karena kita sadar hidup kita di tangan Allah Pencipta yang memelihara kita. Amin.

2 pemikiran pada “Memilih Kegembiraan

  1. Selain pilihan, kita juga harus punya pikiran yang positif mungkin ya.. Mo..

    coz dengan pikiran yang positif, kita bisa melihat segala sesuatu dengan lebih baik dan jika kita sudah melihat itu, tentu kita akan lebih gembira.

    tapi jika kita mempunyai pikiran yg negatif, apapun akan kelihatan jelek, dan yang timbul ya.. kemarahan,kebencian dan kecemburuan atau yang sering Romo bilang egoisme..?

    Kita seharusnya punya pikiran seperti pikiran YESUS yang melihat segala hal dengan pikiran yang positif, sehingga apapun yang terjadi pada kita, kita tetap terus bisa mengucap syukur.

    Trims.. Mo… Renungan hari ini… dan pasti saya akan memilih sukacita..😀

    TYM… BMM….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s