GODAAN DAN KEKUATAN IMAM

Ada seorang imam yang baru saja menyelesaikan studi lanjut teologi. Dengan penuh semangat ia mulai berkarya di sebuah paroki. Banyak seminar teologi ia agendakan. Beragam pertemuan dan diskusi tentang iman ia buat untuk segala kalangan: kaum muda, para bapak-ibu, sampai para lansia. Beragam artikel  tentang iman katolik yang segar dan mencerahkan mengisi halaman demi halaman warta dan website parokinya. Semua berjalan indah, sampai suatu ketika, sehabis misa ia didatangi seorang ibu separuh baya. Kepada sang teolog muda ini, si ibu bertanya,”Romo, tolong, tunjukkan Tuhan kepada saya.” Sang imam pun termenung. Ibu ini jelas tidak membutuhkan segudang penjelasan tentang Tuhan. Ibu ini membutuhkan suatu pengalaman perjumpaan pribadi dengan Tuhan. Dan, imam muda ini justru tidak mampu memberikan pengalaman seperti itu. Ia sangat terpukul dengan kenyataan ini. Menurut yang empunya cerita, imam ini akhirnya menanggalkan jubahnya, karena merasa tidak mampu memberikan apa yang seharusnya diberikan seorang imam kepada umatnya: perjumpaan pribadi dengan Allah.

Kisah yang sudah lama saya baca ini, masih terekam kuat dalam ingatan saya karena kisah ini secara sangat ringkas menyajikan dua hal: godaan dan kekuatan seorang imam di zaman sekarang. Salah satu godaan ini, mengikuti refleksi Henry Nouwen, adalah godaan untuk menjadi relevan. Menjadi relevan berarti orang beriman pada umumnya dan para imam pada khususnya, digoda untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa jati dirinya ditentukan oleh apa yang dihasilkan. Menurut godaan ini, kita dipanggil untuk menjadi produktif dan efisien. Aku adalah apa yang aku capai dan aku hasilkan. Bekerja bagi dan di dalam Kerajaan Allah harus sama dengan bekerja bagi dan di dalam perusahaan-perusahaan terkemuka, supaya Gereja tetap punya martabat di mata dunia. Dalam Injil, godaan ini dilambangkan dengan bujukan setan kepada Yesus untuk mengubah batu menjadi roti (Mt 4:3 ). Dalam menanggapi godaan ini, Yesus tidak menyangkal pentingnya roti (dalam doa Bapa Kami, Yesus mengajarkan para muridNya untuk meminta roti kepada BapaNya), tetapi Ia merelatifkannya di hadapan kuasa sabda Allah. Bukan roti yang mampu memberikan makna hidup kepada manusia tetapi sabda Allah (Mt. 4:4). Seperti halnya manusia hidup bukan hanya dari roti, demikian juga makna hidupku tidak begitu saja ditentukan oleh prestasi dan efisiensi. Jati diriku, seperti diteladankan oleh Yesus, tidak ditentukan oleh apa yang kuproduksi, tetapi oleh sabda Allah, sumber segala hal yang relevan. Dalam kisah di atas, sang imam muda terjebak ke dalam godaan menjadi relevan. Mengikuti dinamika godaan ini, sang imam muda menghayati panggilan imamatnya sebagai rangkaian kesuksesan demi kesuksesan, pencapaian demi pencapaian, dengan dalih pelayanan. Padahal, seperti ditulis oleh Ibu Teresa dari Kalkuta, kita dipanggil bukan untuk menjadi sukses, tetapi untuk menjadi setia. Setia berkaitan dengan relasi antar pribadi. Dalam konteks ini, panggilan yang sejati dari seorang imam terletak dalam relasinya dengan Tuhan. Di dalam Injil, para murid Yesus pertama-tama dipanggil untuk berada bersamaNya (Yoh. 1:39) dan menyertai Dia (Mrk. 3:14 ) Salah satu disiplin yang harus dibuat seorang imam untuk membina relasinya dengan Tuhan adalah merenungkan SabdaNya.

Membaca dan merenungkan sabda Tuhan adalah hal yang mendasar bagi setiap orang yang ingin berada, menyertai, dan menerima perutusan Tuhan Yesus. Seperti halnya Kristus adalah Firman yang menjadi manusia, demikian juga dalam permenungan atas Kitab Suci, kita dapat membiarkan Sang Sabda kembali menjadi daging dalam hidup kita. Bagaimana caranya? Pertama, Kitab Suci adalah Firman Allah maka harus dibaca dengan sikap siap untuk mendengarkan Allah yang ingin berbicara dengan kita dan membentuk kita kembali. Kita tidak membaca Kitab Suci untuk mendapatkan informasi, inspirasi, atau kutipan-kutipan yang mendukung gagasan dan kotbah kita. Kita mengambil sikap sebagai seorang pendengar yang bersedia diciptakan kembali oleh Allah yang bersabda. Ada bahaya bahwa kita membaca Kitab Suci justru untuk menegaskan keinginan kita untuk menjadi relevan, dikagumi dan berkuasa. Kalau itu yang terjadi, Kitab Suci berhenti menjadi Sabda Tuhan. Ia tiada bedanya dengan ribuan buku yang membanjiri kita. Kalau Kitab Suci hanya menjadi sebuah buku dari sekian banyak buku, dan bukan menjadi buku dasar bagi seluruh perjalanan hidup kita, maka Kristus juga hanya menjadi satu dari sekian banyak tokoh sejarah terkemuka. Ia berhenti menjadi Raja dan Tuhan kita. Singkatnya, sebagai sumber kekuatan hidup beriman dan imamat, Kitab Suci harus dibaca pertama-tama dalam doa. Dan ini membawa kita pada hal yang kedua, yaitu meditasi. Meditasi artinya memusatkan perhatian. Bermeditasi atas Kitab Suci berarti kita menaruh segenap hati dan budi kita pada Firman Tuhan, menyingkirkan dari pikiran-pikiran kita keinginan untuk menjadi relevan, dikagumi, dan berkuasa yang berseru-seru mengeruhkan batin kita.  Dengan bermeditasi, kita mengunyah sabda hingga sabda tidak berhenti hanya di pikiran tetapi turun sampai ke hati. Hanya dengan cara demikian, Kitab Suci menjadi sumber kekuatan iman dan imamat.

Beberapa catatan dapat ditambahkan. Pertama, dengan menjadikan Kitab Suci sebagai buku doa, bukan berarti meremehkan kekayaan pengetahuan ilmiah tentang dunia Kitab Suci. Jika seseorang mencintai firman Tuhan, dia juga akan mencari tahu situasi ketika firman itu disampaikan. Informasi dunia Kitab Suci digali bukan semata-mata untuk memperkaya pengetahuan pribadi tetapi untuk membantu terjadinya peristiwa inkarnasi dalam permenungan Kitab Suci; untuk semakin mengalami keakraban dengan Yesus sendiri dan sambil bercermin dari dunia Kitab Suci semakin memahami situasi kita sendiri. Kedua, perlu dihindari bahaya sikap: sudah tahu. Setelah sekian puluh tahun mendengarkan, membaca, dan mengajarkan Kitab Suci, seseorang dapat merasa bosan dengan Kitab Suci. Perumpamaan yang satu dan perumpamaan yang lain sudah terlalu sering didengar dan dibaca. Maka, Kitab Suci tidak menarik lagi. Bahaya ini dapat mengancam setiap orang beriman, juga para imam. Untuk itu perlu memohon bantuan rahmat Tuhan, agar kita diberi karunia keberanian dan kekuatan untuk memandang Kitab Suci secara baru setiap hari. Tuhan memberkati.

4 pemikiran pada “GODAAN DAN KEKUATAN IMAM

  1. Wah.. sepertinya saya sudah terserang “bahaya” itu Romo… harus segera bertobat dan mohon rahmatNya nih.. Dan uraian yg Romo tulis berlaku jg buat semua umat ya Mo? Terimaksih atas pencerahannya.

    TYM-BMM

  2. Kitab Suci memang sumber kekuatan yg paling utama…..Kitab suci memang selalu relevan di sepanjang jaman, disetiap keadaan, disetiap situasi kehidupan dan selalu menjadi sumber inspirasi…..
    Masalahnya adalah…..bagaimana kita menumbuhkan niat kita untuk menyediakan waktu untuk melakukan meditasi kitab suci setiap hari…ada saja alasan untuk tidak mempunyai waktu…..

    1. Terimasih Emi dan Marita untuk tanggapannya. Memang Kitab Suci adalah salah satu kekuatan umat beriman. Ada sumber kekuatan lain, yaitu Liturgi Gereja dan doa pribadi. Ini saya kaitkan dengan 2 godaan lainnya, yaitu kuasa dan jd terkenal. Lain kali saya bahas ya.

  3. Mo… saya ud baca tulisan Romo ini sampai 4 kali..
    n gak tau knpa… apakah krn sayanya yg lg lemot or bahasannya yg berat.. coz saya agak kurang nangkap maksudnya.. ^___^

    Firman Tuhan dalam Kitab Suci adlah pegangan yg utama dlm hidup saya.. krn setiap kali saya terbentur pada suatu masalah.. Firman Tuhanlah yg memberikan kekuatan dan jawaban pada saya..
    entah itu melalui firman yg saya bca, melalui homili di setiap misa yg saya ikuti, melalui pengalaman orang2 di sekitar saya, melalui renungan2 seperti ini dan tentu saja melalui doa pribadi jg..
    MUngkin ini salah satu maksud renungan ini yach Mo…??
    Btw.. tks.. Mo…
    TYM.. BMM…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s