Renungan Di Kamar Malam

Malam ini aku duduk terdiam, mempersiapkan diri untuk berdoa. Kubawa dalam ingatanku, bagaimana aku tadi berkendaraan di atas motor, melesat membelah jalan Raya MT Haryono, Gatot Subroto, sampai ke Grogol, Pluit, Muara Karang dan Pantai Indah Kapuk. Kuucapkan syukur atas keselamatan yang masih kualami hingga detik ini aku dapat kembali berada di dalam kamarku tanpa kekurangan apa-apa. Pada saat syukur kusebut, meluncurlah sebuah tanya dari dalam hati: kalau malam ini aku tidak selamat, apakah aku juga akan mengucapkan syukur? Apakah syukur itu dipanjatkan hanya ketika kita mengalami apa yang menurut kita baik dan kita ingini? Mampukah aku juga bersyukur kalau sesuatu yang tidak kuingini menimpa diriku, kecelakaan misalnya?

Aku pun menjawab gugatan batin itu: aku akan berupaya untuk tetap bersyukur walau terjadi kecelakaan, karena aku percaya pasti ada maksud dari setiap peristiwa, baik peristiwa yang diinginkan maupun tidak diinginkan.

Tetapi gugatan batin tidak berhenti. Dia terus mencecar aku dengan tanya: hah, masih percaya dengan yang namanya maksud hidup? Bukannya hidup itu sederhana, kalau selamat dalam perjalanan ya lagi nasib baik. Kalau kena kecelakaan, ya namanya nasib buruk. Gak usah mikir susah-susah soal makna hidup.

Nekad juga nih, pikirku. Aku pun membalas gugatan itu dengan jawaban ini: itu bedanya manusia dengan mahluk lain. Tanaman dan hewan gak ambil pusing dengan jalan hidup mereka. Mati atau hidup, memangsa atau dimangsa, sudah jalannya. Tetapi manusia, menurut seorang filsof, adalah mahluk yang mempertanyakan hidupnya sendiri. Atau mengambil ungkapan lain, manusia adalah mahluk penafsir. Segalanya harus ditafsirkan untuk mendapatkan makna. Ketika manusia berhenti mencari makna dan menafsirkan, ketika manusia berhenti mempertanyakan makna hidupnya, ia tiada bedanya dengan, maaf, seekor babi. Ini ungkapan Socrates, bapak filsof Yunani.

Nah loh, kena batunya sekarang. Batinku mulai berhenti menggugat. Tapi, jeda hanya berlangsung sebentar. Langsung dilontarkan gugatan baru; atas dasar apa orang bisa memberi tafsiran atas peristiwa hidupnya?

Aku jawab: atas dasar keyakinannya, atas dasar imannya.

Lalu, tanpa henti, batinku menggugat lagi: Tuhan, oh ya, Sang Pencipta itu ya. Nah sekarang, coba jawab ini, kalau Tuhan itu Maha Kuasa, Dia pasti mengatur semuanya. Kalau Dia mengatur semuanya, kenapa ada kemalangan, kenapa ada penderitaan, kenapa ada kesakitan? Bagaimana sebenarnya Dia mengatur ciptaanNya ini, kok malah kesannya gak teratur?….

Wuah, pertanyaan klasik, pikirku. Aku sekarang yang terdiam sejenak. Mungkin bagian batinku yang berperan sebagai penggugat yang sekarang gantian tersenyum senang. Terlintas dalam benakku sebuah kutipan dari Ibrani 1: setelah berulang kali dan dengan berbagai cara Allah berbicara dengan manusia melalui perantaraan para nabi…. Nah, lanjutku memecah keheningan, Allah mengatur ciptaanNya dengan memberi kebebasan kepada manusia dan menjadikannya rekan sekerja. Tanpa memberi kesempatan penggugat itu melontarkan lagi pertanyaan, kusemburkan penjelasan lagi: jadi, Dia tidak menciptakan manusia sebagai robot yang tinggal mengikuti program yang sudah Dia buat. Mana ada orang bicara dengan robot atau dengan mesin. Mengapa, sebab mesin tidak bisa diajak berdialog. Mesin dibatasi oleh program dan tujuan dia dibuat. Sementara, dalam kutipan tadi, Allah mengajak manusia berbicara, artinya, manusia punya kemampuan berkomunikasi dengan Allah karena manusia bukan robot. Dia punya kebebasan. In isyarat sebuah komunikasi, kebebasan. Kebebasan manusia bersumber dan mengarah pada komunikasi atau wawanbiacara dengan Allah. Dan Allah berbicara tidak saja melalui Kitab Suci dan Liturgi, tetapi juga melalui sejarah, melalui peristiwa, melalu alam semesta, melalui orang-orang. Oleh sebab itu, manusia punya dorongan untuk mencari makna atas setiap peristiwa: apa hikmah kejadian ini. Sebenarnya, dari kaca mata iman, pencarian hikmah atas setiap kejadian adalah wujud dari komunikasi manusia dengan Allah: Allah berbicara apa melalui peristiwa ini?

Batin penggugatku kembali terdiam. Tampaknya dia kehabisan amunisi pertanyaan. Atau dia menunggu saat yang tepat? Aku tidak tah

7 pemikiran pada “Renungan Di Kamar Malam

  1. Ini jg pernah ditanyakan oleh salah seorang murid katekumen saya Mo.. & saya jg pernah bertanya demikian.
    Dia bertanya: kalau Tuhan tau semua yg akan terjadi di dunia, Dia tau manusia akan menderita, tau manusia akan murtad, knp Tuhan masih menciptakan manusia?
    Terus terang pd saat itu saya bingung mau jawab apa & saya bilang ma dia, saya akan menjawab pertanyaan dia minggu depan.
    Dan bbrp hari saya mencoba utk bertanya ama Romo, tp saya gak pny kesempatan & kadang lupa🙂 , tp Puji Tuhan, Tuhan amat baik, Dia menunjukkan pd saya jawabannya.
    Saya diingatkan Kitab Kejadian 1 tentang penciptaan, bhw setiap kali Tuhan selesai dgn ciptaanNya, selalu mengatakan yang Dia ciptakan itu baik, tapi ktk menciptakan manusia Tuhan mengatakan amat sangat baik.
    Jadi Tuhan tidak pernah menciptakan yg buruk/jelek. & ktk menciptakan manusia, Tuhan begitu bermurah hati pd kita dgn memberikan kita kehendak bebas, krn kita bukan robot yg hanya jalan kalau diperintah. Tapi manusia sering mempergunakan kehendaknya ini dgn cara yg salah, akibatnya segala kemalangan yg terjadi di dunia, kemurtadan yg terjadi pd manusia, bukan kehendak Tuhan, tpi kehendak manusialah sampai hal itu terjadi.
    Tapi walau bagaimanapun keadaan dunia, karya penciptaan Allah pasti akan terus berlangsung karena Allah sangat mencintai kita.
    Saya menjawab semampu saya Mo.. tapi saya gak tau jawaban saya salah gak ya Mo..?
    Kalau salah tolong di koreksi yach Mo…

    Tks.. Mo.. renungannya..

    TYM.. BMM…

    1. Well, kita bisa pinjam kebijaksanaan ilahi dari kitabsuci untuk menjawab pertanyaan : kenapa di dunia ada penderitaan. Harus ditambahkan bahwa jawaban yg memuaskan tdk pernah ada. Ini yg disebut misteri penderitaan. Tuhan menjawabnya dgn merangkul penderitaan itu, sampai penghabisan: wafat di salib.

  2. Romoku……
    aku sangat terkesan dengan permenungan ini..
    Moga kita dapat melihat semua peristiwa yang kita alami dengan kacamata iman……

    TYM…BMM

  3. Tks.. Mo.. atas tambahan jawabannya..
    jadi nambah ilmu lg buat saya.. hehe…
    memang harus diterangkan dan ditekankan, disinilah peranan Yesus yang sangat luar biasa dalam hidup kita…
    TUHAN kita memang luar biasa…
    I LOVE U JESUS…

  4. Cara Allah berkomunikasi dg kita sering tak terduga dan unik. Berbeda, pribadi per pribadi… Tapi kadang kitalah yang memilih untuk tidak memperhatikan “sapaan” Allah.. Nah, Romo bagaiman kita mengasah kepekaan hati kita untuk senantiasa menyambut sapaan Allah, apapun cara NYA?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s