Kasihilah Musuhmu

Matius 5:43-48

Kamu telah mendenar firman: kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu.

Hampir di setiap suku-suku primitif terdapat sebuah keyakinan bahwa yang dianggap manusia hanyalah anggota-anggota suku mereka. Setiap orang asing yang datang dari luar dianggap bukan manusia dan ditanggalkan kemanusiaannya. Oleh karena itu, orang asing dapat diperlakukan semaunya. Seperti hewan atau barang, orang asing tidak punya kenangan, tidak punya harapan, tidak punya rasa sedih atau gembira, tidak punya masa lalu atau masa depan. Maka, mematikan seorang asing tiada bedanya dengan memencet seekor nyamuk sampai pecah perutnya dan terhambur darahnya. Keyakinan dan sikap atas orang asing ini berakar dari rasa takut dan terancam. Bagi kebanyakan suku primitif, dunia adalah lingkungan ramah yang tidak lebih luas dari lingkaran wilayah yang mereka kenal. Jurang, samudera, gunung, menjadi batas wilayah itu. Di luar lingkaran ini, bukanlah dunia tetapi kegelapan tempat kelahiran mahluk-mahluk aneh pembawa bencana. Maka tidak mengherankan, kalau orang asing yang datang dari dunia antah berantah dianggap bukan sebagai manusia tetapi sebagai penebar ancaman dan maut.

Apa yang dibuat atas orang asing pada masa lalu, juga dibuat atas mereka yang dianggap musuh pada jaman Yesus dan masih juga pada jaman ini. Orang yang kita musuhi berhenti menjadi sesama manusia. Musuh kita tidak punya perasaan, tidak punya harapan, tidak punya kenangan, tidak punya relasi dengan manusia lainnya. Bagi kita, musuh hanyalah mahluk yang di dalam dirinya kita menemukan seonggok kenangan buruk: kesal, benci, dendam. Oleh sebab itu, musuh begitu menyebalkan karena hanya membangkitkan kenangan negatif tadi. Oleh sebab itu, musuh begitu menakutkan karena cukup dengan kehadirannya kita dapat kehilangan kendali atas pikiran-pikiran, emosi dan kesadaran kita, sebab musuh menghujam masuk ke inti hati kita, ke tempat kenangan pahit berada, dan mempermainkan kita dari dalam. Musuh berhenti menjadi manusia. Dia hanyalah ancaman dan kejengkelan. Inilah pandangan lama dan primitif yang dimaksud Yesus: kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Musuh boleh dibenci karena dia memang bukan manusia.

Tetapi Aku berkata kepadamu: kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi orang yang menganiaya kamu

Dan inilah keyakinan dan sikap baru yang Tuhan ajarkan: kasihilah musumu. Mengasihi orang asing yang berpotensi membawa bencana dan kematian? Mengasihi musuh yang hanya membangkitkan kenangan pahit? Bagaimana mungkin? Bagi Yesus menjadi mungkin kalau kita ingat akan kemanusiaan kita sendiri. Apa itu inti kemanusiaan? Intinya ada di ayat-ayat selanjutnya: karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu di surga…. Semakin tinggi kesadaran kita, semakin kita mampu untuk tidak begitu saja ditentukan oleh situasi-situasi di dalam maupun di luar diri kita. Semakin kita mampu menentukan sikap kita, semakin bebaslah kita. Dan semakin kita bebas, semakin kita menjadi manusia. Maka, manusia sejati pada dasarnya tidak punya musuh, sebab tidak ada lagi hal-hal, benda atau hewan atau orang lain, yang mengancam inti dirinya. Dua orang yang disakiti oleh suatu peristiwa atau seseorang dapat mengambil dua sikap berbeda: mendendam atau mengampuni. Sikap dendam melahirkan musuh dan sikap mengampuni melahirkan kemanusiaan. Manusia sejati merasa aman, sebab ia tidak membutuhkan dan tidak punya musuh. Mengapa ia aman? Sebab ia menjangkarkan harapannya bukan pada perkara-perkara yang dapat dirampok oleh perncuri dan dirusak oleh ngengat. Manusia sejati mengkaitkan kebahagiaannya pada perkara-perkara besar dan abadi: keheningan, doa, iman, kasih, pelayanan, damai, sukacita. Dari sudut pandang ini, mengasihi musuh, seperti sabda Yesus, bukanlah hal yang mustahil, tetapi rahmat yang dapat kita minta dan harapkan.

Tuhan Yesus Memberkati dan Bunda Maria Melindungi.

Iklan

Satu pemikiran pada “Kasihilah Musuhmu

  1. Mengampuni…
    sebuah kata yang gampang diucapkan.. tapi paling sukar untuk dilakukan..

    “Mengampuni dia…?? enak amat… emangnya lu gak tau gue sakit hati gini.. lu gak tau sich.. dia nyakitin gue kayak apa!!

    sering kita dengar orang berkata seperti ini ketika kita menyarankan untuk mengampuni seseorang..
    kita merasa ketika kita mengampuni orang, pengaruhnya lebih kepada orang yg kita ampuni,
    taapiii… apakah benar demikian??

    sebenarnya ketika kita mengampuni, pengaruhnya lebih kepada diri kita sendiri,
    yang lebih enak.. kita,
    yang lebih untung.. kita,
    yang lebih plong… kita,
    bukan orang yang kita ampuni..

    karena ketika kita menyimpan dendam, yang akan sakit yach.. diri kita sendiri,
    sementara orang yg telah menyakiti kita, belum tentu sadar telah nyakitin kita..

    tapi ketika mulai mengampuni dan kita lakukan sungguh2 dari hati kita.. maka hasilnya akan dahsyat.. karena akan membawa kelegaan dan damai yang luar biasa dalam hati dan hidup kita..

    Tks.. Mo..
    TYM… BMM…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s