Ajarilah Kami Berdoa

Matius 6:5-15

Janganlah doamu bertele-tele seperti orang yang tidak mengenal Tuhan….

Merenungkan sabda Yesus di atas, terlintas dalam benakku sebuah buku yang sempat sangat populer dua atau tiga tahun yang lalu: The Secret. Inti buku ini satu: pikiran dan kata-kata adalah kekuatan. Raihlah mimpimu dengan melatih energi positif dalam pikiran dan kata-katamu. Memang benar, bahwa pikiran dan kata-kata yang baik, yang tertata dan terfokus akan membantu kita mewujudkan keinginan kita. Tetapi, seperti diajarkan Tuhan Yesus, ini belum sebuah doa. Ini baru wujud kekuatan manusia yang memang Tuhan sendiri anugerahkan. Maka, kalau dengan melatih pikiran dan kata-kata, kita dapatkan mewujdukan apa yang kita inginkan, hal itu tidak dapat dilepaskan dari rancangan Tuhan. Tuhan memang memberikan setiap manusia kekuatan itu. Akan tetapi, sekali lagi, itu belumlah menjadi sebuah doa.

Tetapi, bila kamu berdoa, katakanlah: Bapa Kami yang ada di surga….

Mari kita simak sebuah kisah: Seorang anak SD tampil memainkan pinao di atas panggung di aula sekolah. Seluruh ruangan hening. Hanya bunyi dentingan piano yang mengisi seluruh ruangan: kadang mengalun, kadang melompat-lompat lincah, juga menghentak untuk kemudian melembut dan selesai. Begitu sang anak berdiri dan memberi hormat, semua hadirin memberikan tepuk tangan meriah. Sambil masih berdiri di atas panggung sendirian, di tengah riuh rendah tepuk tangan, mata sang anak menyapu para hadirin yang memenuhi ruangan itu, mencari dua wajah yang begitu ia cintai. Dan begitu tatapannya menempel pada kedua wajah ini, yang sambil bertepuk tangan, sempat menyeka air mata, yaitu wajah ayah-ibunya, mekarlah senyum si anak. Seluruh tepuk tangan gemuruh ruangan tidak akan berarti tanpa kehadiran kedua orang tuanya.

Kisah ini akan membantu kita memahami perbedaan antara kekuatan pikiran dan kata-kata yang Tuhan berikan dengan doa. Kekuatan pikiran dan kata-kata yang dilatih ibarat anak SD yang dapat memainkan piano dengan ciamik setelah berlatih keras. Akan tetapi, kebahagiaan anak itu tidak pertama-tama terletak pada kemampuannya bermain piano, keberhasilannya membuat seluruh hadirin berdiri dan bertepuk tangannya untuknya. Kebahagiaannya justru tercipta berkat kehadiran orang-orang yang dikasihinya, yaitu kedua orang tuanya. Dengan kata lain, anak ini menjadi bahagia karena adanya relasi yang mesra dengan orang tuanya. Demikian halnya dengan doa: bukan perkara kekuatan kata dan pikiran, tetapi relasi, kehadiran pribadi yang satu di hadapan pribadi yang lain. Kehadiran dan relasi ini dapat saja mendorong pikiran dan kata-kata yang baik, yang selanjutnya mewujudkan harapan orang. Akan tetapi, tetap saja, yang utama adalah relasi, adalah hadir bagi dan di hadapan pribadi tertentu. Doa berarti berelasi dengan Allah dan hidup di hadirat Allah. Maka, tepat kalau Tuhan Yesus membuka ajaranNya tentang doa dengan sebuah sapaan: Bapa. Dari mana doa muncul? Dari mana relasi ini lahir? Ia lahir dari kemampuan mendengarkan seruan Bapa yang menyapa kita sebagai puteraNya, seperti yang dilakukanNya pada saat Yesus dibaptis: Inilah Anak KesayanganKu. Kata-kata itu ditujukan juga kepada setiap orang. Kita bisa berdoa kalau kita bisa mendengarkan Allah yang menyapa kita sebagai anak-anakNya. Baru setelah itu kita mampu menyapa Dia secara penuh sebagai Bapa. Bagaimana kita mampu mendengar sapaan itu: dalam dan melalui Tuhan Yesus, Sang Putera. Kitab Suci, doa-doa Liturgi adalah sarana-sarana yang dipakai Allah untuk menyapa kita, hingga dalam doa pribadi kita mampu membalas sapaanNya.

Kepada siapa lagi Tuhan

Aku berpaling

Dalam hening sepi kusebut namaMu

Walau susah sungguh

Padang gurun ini

Menghantarku pulang

Ke depan pintuMu

Sekali lagi

Di depan pintuMu

Aku mengetuk

Jangan biarkan aku hilang lagi Tuhan

Jaga dan peluk aku dalam cintaMu

Sebab Engkaulah Bapaku

(inspirasi: Chairil Anwar)

Satu pemikiran pada “Ajarilah Kami Berdoa

  1. Rahmat MU aku mohon tiada henti
    Agar batin dan kata terarah pada MU selalu
    Meski sering hati bisu, kata kelu
    Tak bisa mengucap sapa kepada Mu
    Tapi harapku hanya bersandar pada MU
    KAU tak kan pernah tinggalkanku
    Karena ENGKAU adalah BAPAku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s