Berapa Tuan Kupunya?

Matius 6:24-34

Tidak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan…

Setiap tuan yang diabdi punya karakter yang berbeda. Dan para hamba yang mengabdi mau tidak mau akan mengikuti dan menjadi serupa dengan tuan yang diabdinya. Tuan yang satu, yang disebut Mamon, menyebar rasa cemas, kuatir, dan takut akan apa yang akan dimakan, diminum, dipakai. Rasa kuatir dan cemas ini dipakai oleh Mamon sebagai kain penutup yang menghalangi mata orang untuk dapat melilhat keindahan kehidupan, untuk dapat menghargai tubuh, untuk menjalin relasi dengan segala hal yang ada di luar diri kita. Contoh nyata ada dalam berita-berita: British Petroleum, perusahaan penambangan minyak lepas pantai milik Kerajaan Inggris Raya, tengah dilanda krisis akibat kebocoran pipa minyak lepas pantai di teluk Meksiko. Kerugian milyaran dollar masih akan terus bertambah. Yang tidak bisa dihitung dengan uang adalah dampak tumpahan minyak mentah itu bagi lingkungan hidup laut. Apa penyebab bencana ekonomi dan ekologi ini? Satu penyebab utamanya: keengganan perusahaan untuk mengikuti standard pemasangan pipa minyak demi penghematan. Inilah buah dari memilih untuk menjadi hamba Mamon: orang menutup mata bagi keindahan kehidupan, karena silau dengan pantulan keuntungan. Kehidupan laut nan indah tidak menjadi perhitungan. Keuntungan sesaat menjadi tujuan utama.

Sebaliknya, mengabdi kepada Allah menebarkan benih kedamaian, undangan untuk tidak perlu cemas dan kuatir. Sebab hidup jauh lebih kaya dan indah daripada yang kita duga dan pikirkan. Tubuh kita jauh lebih indah dan berharga daripada yang selama ini dunia tawarkan. Mengabdi kepada Allah membuat orang mampu menyusun daftar urutan beragam hal sesuai dengan tempatnya: hidup jauh lebih tinggi daripada keuntungan materi, tubuh jauh lebih penting dari pakaian sekaliber LV sekalipun. Relasi keluarga jauh lebih berharga daripada karir setinggi apa pun. Dan syarat menjadi seorang abdi adalah: taat. Dalam bahasa Latin, kata taat adalah abdire, dari akar kata: ab-audire, artinya: dari pendengaran. Maka, ketaatan lahir dari pendengaran. Untuk dapat menjadi abdi Allah, syaratnya adalah mendengarkan Dia. Sudahkah aku menyediakan waktu untuk mendengarkan suaraNya, dengan bantuan Kitab Suci, dalam suasana hening dan doa? Kalau belum, mari kita mulai hari ini juga.

Desir angin yang menggoda dedaunan untuk berdansa

Menghantar ingatanku pada Yang Maha Kuasa

Cerah mentari yang tertumpah

Menghantar sebuah amanah:

Isi hidupmu dengan makna

Sebagai ungkapan syukur

Kepada Raja Maha Raja

4 pemikiran pada “Berapa Tuan Kupunya?

  1. Rm, tolong dong kalau tulis ada paragrafnya…
    apalg kalau tulisannya panjang.
    krn mataku agak sakit krn tulisanx nyambung trus… maklum beginilah susahnya org pake kacamata 😉

    kalau ga bs diparagrafin, tolong dikasih ruang kosong ky komenku ini….
    Rm pasti mengerti mksdku…

    atas perhatian Rm, ku ucapkan terimaksh byk…

  2. taat kpd mamon.. spt buah yg matang di karbit (dipaksakan).. bagus di luar, pahit di dalam.. indah pada awalnya, tapi akhirnya menyengsarakan..

    Taat kpd ALLAH.. spt buah matang di pohon.. indah di luar dan manis di dalam, membuat kita ketagihan untuk terus memakannya, meskipun menunggu matangnya membutuhkan waktu yang lama..

    Taat kpd ALLAH.. bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan, banyak godaan yang akan dihadapi.. tapi bukan tidak mungkin utk dilakukan..
    kuncinya: Hati yang setia, taat dan patuh kepada firmanNya.. akhirnya yang kita dapatkan adalah kebahagiaan dan damai sejahtera..

    seperti yg Romo bilang, hidup kita berharga, karena kita berharga di mataNya..

    Jangan sia-siakan hidup kita hanya untuk kenikmatan sementara yg ditwarkan mamon..

    Tks.. Mo.. renungan yang indah

    TYM.. BMM..

    Ps: Puisinya indah Mo..

    I like it…

    Two thumbs..

    ^__^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s