Yang Kudus dan Berharga

Mat. 7:6.12-14

Berbahagialah orang Jawa, sebab dalam situasi apa pun selalu mengatakan untung. Ketika sedang ambruk bisnisnya, ia masih mengatakan untung masih punya rumah. Ketika rumah mulai dijual, ia masih bisa mengatakan untung masih bisa makan. Ketika makanan mulai seret menghampiri meja makan, ia akan mengatakan untung masih sehat. Ketika jatuh sakit ia masih juga bisa bilang untung masih hidup. Dan ketika mati ia mungkin masih bisa berucap untung masuk surga…..

Tanpa mau menyinggung siapa pun dan dari suku mana pun, anekdot atau kisah menggelitik di atas membantu saya untuk memahami sabda Yesus hari ini, tentang hal yang berharga dan masuk ke kehidupan.

Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi….

Anjing dan babi bukan saja dua binatang yang (untuk beberapa orang) enak dimakan, tetapi di dalam dunia Kitab Suci, kedua binatang ini kerap dihadirkan ketika orang sedang berada jauh dari Tuhannya. Kita tahu perumpamaan anak yang hilang. Dikisahkan bagaimana si bungsu secara bertahab menjauh dari ayahnya: secara batin maupun secara geografis. Keterpisahan si bungsu secara batin dari sang ayah sudah dimulai sejak ia meminta warisan kepada ayahnya yang masih hidup. Dengan tindakannya itu, si bungsu sebenarnya sudah menganggap ayahnya mati, tidak ada lagi di dunia ini, tidak ada lagi di hatinya. Keterpisahan secara geografis nampak mulai dari perginya si bungsu meninggalkan rumah, lalu menjadi lebih jelas lagi ketika disebut ke tempat yang jauh, dan lebih tegas lagi ketika si bungsu kelaparan dan menjadi penjaga babi-babi. Di kandang babi inilah jarak batin dan geografis menyatu: dari seorang anak menjadi pelayan, dari rumah ke kandang, dari makanan manusia ke makanan babi. Maka babi menjadi simbol berpisahnya anak dari bapanya, manusia dari Tuhannya. Bagaimana dengan anjing? Bolehlah orang Jepang punya Hachiko, anjing yang setia. Bolehlah Hollywood punya K9 atau Rintintin. Tetapi, di mata orang Yahudi, anjing seperti babi juga mewakili dunia yang jauh dari Allah, dunia kekafiran. Kita ingat apa jawaban Yesus kepada seorang ibu Siro Fenesia (bangsa kafir) yang meminta kesembuhan bagi anaknya perempuan. Karena fokus Yesus adalah membenahi panggilan bangsa Israel, kepada ibu ini Yesus menjawab: tak layak roti untuk anak-anak diberikan kepada anjing (bangsa kafir, bangsa yang jauh dari Allah).

Jadi, melemparkan barang kudus dan mutiara kepada anjing dan babi bisa berarti: jangan meremehkan kekudusanmu sebagai anak-anak Allah dengan merendahkannya demi segala sesuatu yang aslinya menjauhkanmu dari Allah. Tubuh adalah kudus karena diciptakan oleh Allah dan menjadi Bait Roh Kudus: jangan diserahkan pada kenikmatan duniawi semata. Mata adalah kudus karena menjadi terang tubuh: jangan dipakai untuk melihat dan menatap segala hal yang menjauhkanmu dari Allah. Singkat kata, seperti orang Jawa tadi, dalam segala hal, surga, yaitu relasi dengan Tuhan, di atas segala-galanya. Dan itu diungkapkan lewat perlakuan kita yang pantas atas kekudusan hidup ini.

Sempitlah pintu yang membawa ke kehidupan….

Dan memperlakukan kehidupan sebagai sesuatu yang kudus bukanlah perkara mudah. Dunia lebih suka mentuhankan dunia daripada menyerahkan dunia kepada Tuhan. Apa yang memberi keuntungan, kenikmatan, penghiburan sesaat didewakan: nama baik, popularitas, jabatan, harta. Kecenderungan ini ada di dalam DNA batin kita semua! Maka santo Paulus mengeluh: aku menginginkan yang kudus tetapi tubuhku melakukan yang tidak kudus…..aku manusia celaka! Siapa yang dapat menolong aku? Bukan kekuatan kita, disiplin kita, yang menyelamatkan, tetapi Yesus sendiri. Bagaimana caranya? Jalin relasi dengan Dia, kalahkan beragam alasan klise (sekarang sudah zaman digital, tidak pakai klise lagi) untuk tidak bertemu dengan Yesus dalam doa. Malas, gak ada waktu, gak tahu Kitab Suci, dst adalah rasionalisasi dari kecenderungan kita untuk mentuhankan dunia. Sulit, karena Tuhan Yesus sendiri bilang pintunya sempit. Tetapi, justru ini yang membuat kita istimewa. Ada mobil limited edition, ada hp limited edition. Kita juga akan menjadi limited edition kalau mau masuk lewat pintu sempit ini. Tuhan Yesus Memberkati-Bunda Maria Melindungi.

Sapa puji harta dunia

Begitu nyata

Padahal semua itu bersifat sementara

Sabda dan RohMu sayangnya

Terasa jauh dan teori belaka

Padahal justru itulah penopang kenyataan dan semesta

Berilah kami mata batin yang tajam ya Tuhan

Untuk melihat kehadiran RohMu

Dalam segalanya

2 pemikiran pada “Yang Kudus dan Berharga

  1. Menjadi pribadi “limited edition”, mampu melewati pintu yang sempit.. mmmmm .. pantas diperjuangkan.

    Makasih Mo Ut… TYM-BMM

  2. Bener Mo…
    Menjaga kekudusan bukanlah hal yang mudah,
    ditambah lg makin banyak hal2 duniawi yg menggoda..
    Juga pikiran kita Mo.. pikiran lebih sering membawa kita menjauhi kekudusan, tapi juga bisa dgn cepat membawa kita balik..
    Jika kita tidak bergantung pada Tuhan sangat mudah bagi kita untuk jatuh..
    Alat kita untuk bisa mejga kekudusan tentu saja Doa & Firman Tuhan. Kalau 2 hal ini sudah di tangan kita, jalan yang sempit itu akan kita lalui dengan penuh keyakinan.

    Tks.. Mo…renungannya..

    TYM.. BMM…

    nb:

    alasan digital (klise ud gak dipake lagi) yang kayak apa Mo..?????
    ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s