Waktu

Jumat, 24 September 2010

Bac I : Pkh 3 :1-11

Injil : Luk 9 : 18-22

Bacaan pertama mengatakan : setiap hal di atas muka bumi ini ada waktunya : ada waktu untuk menanam ada waktu untuk mencabut ; ada waktu untuk mencinta ada waktu untuk membenci ; ada waktu untuk bersalam jumpa ada waktu untuk melambai pisah.

Jaman sekarang, sebaliknya berkata : soal waktu, semuanya bisa diatur. Mau tampak muda selamanya, mari kita tunda proses penuaan dengan obat dan perawatan khusus ; mau buah cepet matang, mari kita beri sinar radiasi ; mau kerja sampai malam, tidak usah pusing soal gelap mari kita beri terang lampu.

Manusia semakin berkuasa mengatur waktu. Apa yang dulu teratur karena mengikuti irama alam, sekarang semakin sulit ditebak mengikuti perangi manusia yang mengaturnya, yang juga susah diramalkan. Maka hujan turun di musim panas ; maka salju turun saat orang menantikan sinar Surya ; maka tanah kering kena bencana banjir dan tanah subur tertimpa bencana kekeringan. Waktu berubah, musim tak menentu, karena alam diatur sekedar untuk memenuhi nafsu manusia. Tangan manusia turut menyeret waktu dan musim untuk mengikuti kehendaknya.

Mengikuti firman Tuhan dalam bacaan pertama hari ini berarti : mengatur hidup dan waktu serta segala yang ada di dalamnya menurut kehendak Allah. Hidup dalam waktu berarti hidup dalam proses. Dan Allah juga mewujudkan ségala yang baik bagi kita menurut waktu, mengikuti hukum proses, tidak secara tiba-tiba mengikuti hukum instant. Menghayati firman Tuhan hari ini berarti berproses bersama rencana dan kehendak Allah untuk kita, yang akan tampak dan terasa indah pada waktunya.

Dan dari seluruh waktu dalam satu hari, ada waktu yang harus menjadi istimewa, waktu yang menjadi akar sekaligus puncak untuk seluruh waktu : saat berjumpa dengan Dia dalam doa. Ini yang ditampilkan bacaan Injil. Dalam suasana doa, dalam relasi dengan BapaNya-lah Yesus menemukan siapa diriNya : ketika Yesus sedang berdoa, para murid datang kepadaNya. Mendengarkan Bapa bukan berarti menutup telinga terhadap dunia sebab Yesus pun bertanya kepada para muridNya : menurut orang banyak siapakah Aku ini. Tetapi, bukan suara orang banyak yang menentukan jati diri Yesus, tetapi suara Bapa yang Ia dengarkan dalam doa.

Mereka yang menempatkan perjumpaan dengan Bapa dalam Yesus sebagai saat dan sesuatu yang paling berharga, akan memiliki batu karang jati diri yang kokoh.

Tuhan Yesus memberkati dan Bunda Maria melindungi

Satu pemikiran pada “Waktu

  1. Mo.. koment ini ditulis stlah baca renungan yg tgl 25
    kirain Romo mulai nulis tgl 25..
    so.. tetap kasih salam..

    Hi.. Mo..Ut..
    senang sekali renungan Romo muncul lagi..
    Akhirnya…

    😀

    Setuju.. Mo…
    bahwa kita hidup dan hidup kita harus melalui proses, tidak bisa instant, karena sesuatu yang instant biasanya tidak menghasilkan sesuatu yang memuaskan (kecuali mie instant kali yach.. Mo.. 🙂 )
    dengan melalui semua proses, apakah itu menyenangkan kita atau tidak, akan menjadikan kita lebih kuat dan lebih tangguh.
    bahkan dengan proses-proses yang kita alami dalam hidup kita, bisa membuat kita semakin dekat dengan Tuhan, karena melalui proses-proses itulah kita bisa melihat karya Tuhan dalam hidup kita bahwa Tuhan begitu baik dan sangat menyayangi kita..

    tapi sayangnya.. banyak orang yang tidak mau bersusah payah menjalani proses itu, sehingga jalan instantlah yang ditempuh, yang akhirnya ketika badai datang, menjadi lemah dan tidak kuat..

    Tks.. Mo.. renungannya..

    Keep in touch yach..
    Doa saya selalu menyertai Romo..
    agar Romo tetap sehat, cepat menyesuaikan diri dengan sikon disana dan bisa menyelesaikan studinya dengan cepat..

    TUHAN YESUS MEMBERKATI…
    BUNDA MARIA MELINDUNGI…
    Amien…

    🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s