Derita

Selasa, 28 September 2010

Ayb 3:1-3,11-17,20-23,

Luk 9:51-56

Melalui bacaan-bacaan hari ini, Gereja mengundang kita merenungkan penderitaan : baik penderitaan yang kita alami maupun yang ditanggung banyak orang.

Penderitaan adalah sebuah skandal. Ia seperti sebuah nada minor dalam simponi gubahan sang Pencipta. Penderitaan hampir selalu melahirkan sebuah Tanya yang tiada pernah dapat terjawab secara tuntas ; ia laksana sumur tanpa dasar. Seperti iman, harapan, dan kasih, penderitaan pun akhirnya diterima sebagai sebuah misteri : artinya, tak nampak secara penuh bagi mata akal budi. Dia tidak dapat dipahami tetapi dialami.

Pertanyaan tentang penderitaan ini yang menghiasi kitab Ayub sebagamana kita dengarkan dalam bacaan pertama hari ini. Sebegitu besarnya derita yang ia tanggung sampai Ayub mempertanyakan anugerah kehidupan yang ia terima : lebih baik membisu malam yang meneriakkan kehadiranku di dalam kandungan. Singkat kata, Ayub hendak menggoncangkan tahta kebijaksanaan Ilahi : mengapa manusia diberi hidup jika hanya untuk menderita ? Apakah hidup bermakna bila disesaki oleh derita ?

Gugatan Ayub sebenarnya bukan untuk Allah. Gugatan Ayub tertuju terutama bagi setiap penghayatan hidup beriman yang memandang Allah sebagai alat, sebagai mesin untuk kebahagiaan manusia. Ayub menggunakan fakta adanya penderitaan untuk membungkam setiap pikiran yang ingin mengurung gambaran tentang Allah sebagai berhala : Allah yang bisa kita kendalikan dengan perbuatan baik kita, Allah yang bisa kita manipulasi dengan doa-doa kita. Bagi Ayub, Allah lebih dari sekedar itu semua. Allah tetap Ilahi walau seolah tidak memberi jawab atas permohonan kita. Allah yang selalu dapat kumengerti bukanlah Allah yang harus kusembah. Di akhir kitab, misteri Allah yang tampil ke permukaan, sementara tanya atas derita manusia tinggal lubang hitam menganga, tanpa jawab.

Tuhan Yesus pun datang, bukan untuk memberi jawab atas tanya itu. Cara Yesus menanggapi gugatan Ayub tidak semata berhenti pada kata dan jungkir balik alasan yang masuk akal. Yesus mengajar, baik dengan kata maupun dengan hidupNya. Dan inilah jawaban Yesus atas gugatan atas nama penderitaan manusia : Ia sendiri merangkul penderitaan itu : pada hari menjelang terangkat ke surga, Yesus mengarahkan pandanganNya ker Yerusalem. Dengan ketetapan hati, Yesus memandang dan menghampiri penderitaanNya. Seolah Yesus mau berkata : inilah resiko menjadi manusia, yaitu menerima penderitaan sebagai bagian dari hidupnya. Kesempurnaan Allah, dengan demikian, tidak digores oleh penderitaan manusia, sebab karena Yesus, penderitaan menjadi cara dan jalan mendekati dan mencapai kesempurnaan itu. Biji gandum harus mati di dalam tanah untuk tumbuh dan berbuah.

Mari, hari ini, kita masukkan penderitaan kita sebagai jalan Allah untuk mengasah iman, harapan, dan kasih kita untuk jadi lebih sempurna. Mari kita masukkan juga dalam ruang batin kita derita banyak orang : ibu yang kehilangan anaknya, anak yang hidup tanpa orang tuanya, kekasih yang ditinggal pasangannya, penderita AIDS, kaum gay dan lesbi, dan banyak orang yang disingkirkan dalam pergaulan. Derita mereka juga turut menyempurnakan dunia.

Tuhan Yesus memberkati dan Bunda Maria melindungi

Satu pemikiran pada “Derita

  1. Deritapun adalah proses bagi kita untuk lebih mendekatkan diri pada Tuhan..ya.. Mo..??

    tapi memang tergantung orangnya apakah bisa melihat itu sebagai sebuah rahmat dari Tuhan atau melihat itu sebagai sebuah hukuman dari Tuhan..

    derita atau tidakpun tergantung cara pandang kita..
    ibarat sebuah koin diletakkan di mata kita, maka ketika koin itu menutup mata kita,kita melihat koin itu besar & menghalangi pandangan kita, tapi ketika koin itu dijauhkan dari mata kita, maka ternyata hanya sebuah koin yg kecil dan tidak ada apa2nya & penglihatan kita jauh lebih luas..

    begitu jg dgn penderitaan, kalau kita selalu memikirkan derita2 terus,maka derita itu akan terasa berat & tidak ada jalan keluar, tapi kalau kita tetap bisa bersyukur dan mengarahkan mata kita pada ALLAH, maka derita itu tidak lagi akan memberati kita, kita bisa melihatnya sbg sebuah rahmat yg indah dr TUHAN.

    Kita jg bisa lebih merasakan kasih Tuhan bekerja pada kita melalui penderitaan.

    Tks.. Mo… Renungannya..
    Semoga kita makin kuat di tengah derita2 yg kita alami
    Amien…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s