Hatiku Merana Karena Rindu Engkau ya Tuhan

Kamis, 30 September 2010

Ayb 19:21-27,

Luk 10:1-12

Mengapa iman Kristen begitu dekat dengan orang-orang yang menderita ? Mereka yang kecil dan tersingkir justru akan masuk lebih dulu ke dalam Kerajaan Allah ; mereka yang lapar dan miskin justru disebut bahagia ; dan Tuhan sendiri akhirnya berkenan ditemukan dalam diri saudara-saudari yang paling kecil dan menderita. Tuhan menyamakan DiriNya dengan mereka. Ibu Teresa dari Kalkuta pernah berkata : orang miskin, sakit, dan sekarat adalah sakramen yang hidup.

Salah satu jawaban dari pertanyaan di atas dapat ditemukan dalam bacaan pertama hari ini : penderitaan dapat menjadi kesempatan untuk merindukan Tuhan, hatiku merana karena rindu, dan melihat serta berjumpa denganNya, aku akan melihat Penebusku bangkit dari debu …. Aku akan melihat Tuhan. Kenyamanan bukanlah tempat yang idéal untuk berjumpa dengan Allah Bapa, sebab dalam kenyamanan orang tergoda untuk mengandalkan dirinya sendiri dan ségala hal duniawi. Tetapi padang gurun perjuangan hidup adalah tempat idéal untuk mengalami tuntunan tanganNya, untuk dapat merindukanNya.

Itu sebabnya dalam Injil hari ini Tuhan Yesus mengajarkan para murid yang diutusNya untuk keluar dari rasa nyaman : mereka diutus tanpa uang, tanpa bekal, tanpa tongkat. Mereka diutus untuk menjadi pekerja. Sebagai utusan, mereka berbagi tanggung jawab dengan yang mengutus mereka, yaitu Sang Empunya tuaian, Allah sendiri. Mereka seperasaan dengan Tuannya : ada banyak tuaian, sayang kalau membusuk karena tidak digarap. Dunia ini dan kehidupan ini bukan semata-mata aréna pertarungan menang kalah dalam persaingan. Dunia dan kehidupan menyajikan tuaian, hasil kerja Allah yang begitu indah, begitu penting  di mata Allah.

Bacaan-bacaan hari ini tidak mengajak kita untuk membuat diri kita sendiri menderita. Bacaan-bacaan hari ini mengajarkan kita untuk memahami seperti Allah memahami : bahwa hidup ini menyimpan hasil kerja Allah yang mesti dituai ; bahwa hidup kita menjadi berarti karena Allah mau berbagi tanggung jawab untuk menuai hasil kerjaNya ; bahwa tujuan hidup kita tidak berhenti pada mencari kenyamanan dan keamanan sendiri.  Dan inilah jalan yang ditempuh St. Hieronimus yang kita perangati hari ini : anak seorang berada yang memilih hidup sebagai pertapa di padang belantara untuk mendalami sabda Allah. Dia tahu bahwa hanya dengan hidup sederhana hatinya dapat lebih dekat dengan Tuhan sendiri.

Tuhan Yesus memberkati dan Bunda Maria melindungi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s