Cinta sebagai hakim

Kamis, 8 Oktober 2010

Gal 3:7-14

Luk 11:15-26

 

Jadi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, dengan kuasa apakah pengikut-pengikutmu mengusirnya? Sebab itu merekalah yang akan menjadi hakimmu.

Malam ini, seorang teman baru saja menceritakan pengalamannya berdebat soal agama melalui blog yang dikelola salah satu Koran terbesar di Negara RI. Dari kisah teman ini, dapat kutarik kesimpulan bahwa inti iman kita, yaitu Allah yang menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus, sulit diterima. Keilahian Yesus selalu menjadi sasaran serangan gencar dalam perdebatan.

Rupanya, bukan hanya di era internet keilahian Yesus diserang. Sudah sejak awal kedatanganNya, Tuhan Yesus mendapat serangan. Baru lahir, sudah mau dibunuh oleh penguasa. Sudah besar, juga diancam terus oleh para imama dan pemimpin agama. Rupanya, kemanusiaan dan keilahian dalam diri Yesus menjadi ancaman kaum mapan baik itu di bidang politik dan agama. Memang sudah begitu sejak awal mulanya. Kalau dulu waktu Yesus masih hidup sebagai manusia di Palestina saja Ia didebat dan diserang, apa lagi sekarang tatkala wujud fisikNya sebagai manusia tidak lagi kelihatan. Maka, tidak perlu heran kalau ada banyak perdebatan dan keraguan lahir seputar keilahian yang tersembunyi di dalam kemanusiaan Yesus dari Nazaret.

Injil hari ini mencerminkan perdebatan itu: perbuatan baik Yesus mengusir kejahatan ditafsirkan sebagai tindak kejahatan karena Yesus mengusir setan dengan kuasa setan. Dengan kata lain, para pemimpin agama, yang merasa terancam oleh ajaran dan pribadi Yesus, sudah putus asa dan memakai senjata terakhir: men-SETAN-kan Yesus. Yesus dicap sebagai sekutu Iblis. Suatu hal yang tidak masuk akal. Dan menariknya, Yesus tidak menanggapi dengan berbalik men-SETAN-kan para lawannya, tetapi menunjukkan bahwa di antara para pengikut mereka ada yang berbuat baik dan setuju dengan perbuatanNya. Yesus tidak membalas serangan dengan serangan, tetapi malah menunjukkan bahwa kebaikan adalah sesuatu yang universal, tidak dibatasi oleh agama atau pun suku bangsa. Orang-orang baik inilah, yang menjadi pengikut para pemimpin agama dan imam-imam, yang akan menjadi hakim. Biarlah kebaikan, yang Tuhan tanamkan di hati setiap orang, menjadi hakim. Persis seperti yang pernah diucapkan Ibu Teresa: kita akan dihakimi oleh cinta.

Tuhan Yesus memberkati dan Bunda Maria melindungi

Iklan

2 pemikiran pada “Cinta sebagai hakim

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s