iman dan syukur

Minggu, 10 Oktober 2010

2Raj 5:14-17, 2Tim 2:8-13,
Luk 17:11-19

Ketika sebuah pintu tertutup, pintu lain akan terbuka bagi kita. Sayangnya, kita terlalu menyesali pintu yang tertutup dan tidak menaruh perhatian pada pintu yang terbuka lebar itu.

 

Ungkapan yang lahir dari pena Alexander Graham Bell ini kiranya tepat untuk meringkas sikap 9 orang  kusta yang telah menjadi sembuh, sebagaimana kita dengarkan di dalam bacaan Injil hari ini. Mengapa demikian? Karena ke 10 orang kusta tadi mengharapkan kesembuhan seketika dari Yesus. Mereka tidak dapat pergi ke keluarga mereka untuk minta bantuan. Mereka juga tidak dapat mengharapkan pertolongan teman dan sahabat sekampung. Jangan lagi minta belas kasih para imam yang ada di Bait Allah! Mendekati bangunan suci itu saja tidak akan dapat, apalagi memasukinya. Maka, mereka mengharapkan sesuatu yang berbeda dari Yesus, yaitu kesembuhan segera.

Tetapi betapa kecewanya mereka sebab Yesus justru menyuruh mereka pergi kepada para imam di Bait Allah. Mungkin mereka mengomel dalam hati: ah, kalau akhirnya cuma disuruh begitu aja mah ngapain minta bantuan Yesus ini! Toh, mereka pergi juga dan di tengah perjalanan mereka jadi sembuh. Mungkin karena sudah terlanjur jengkel, 9 orang kusta yang telah sembuh ini tidak mengalami sukacita atas kesembuhannya. Daripada mengucapkan syukur, mungkin mereka justru bergumam dalam hati: kenapa baru sekarang jadi sembuhnya, bukannya dari tadi. Mereka terpaku pada pintu yang tertutup dan tidak melihat apa lagi bersyukur atas pintu yang sudah terbuka. Dikisahkan di dalam Injil: hanya satu orang yang disambar sukacita dan rasa syukur hingga memuliakan Allah dan bersujud di hadapan Tuhan Yesus. Sikap orang Samaria ini, orang kafir ini, yang dinyatakan oleh Tuhan sebagai iman yang memberikan keselamatan.

Tumbuhnya iman nampak dari sikap syukur yang ada dalam diri kita. Kita diberi 86.400 detik setiap harinya. Sudahkah kita isi satu detik saja setiap harinya untuk mengucapkan dan mengungkapkan syukur kita? bersyukurlah untuk berkat yang terkecil maka kita layak menerima berkat yang lebih besar. Jika kita ingat keagungan Sang Pemberi berkat, maka tidak ada berkat yang kelihatan kecil, sebab setiap berkat datang dari Sang Maha Agung. Amin;

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s