BB = Bebas (karena) Beriman

Sabtu 29 Oktober 2010

Flp 1:1-11,
Mzm 111:1-2,3-4,5-6,
Luk 14:1-6

Beriman berarti menjadi pribadi sejati, karena menghadapkan orang dengan Sang Pemberi Hidup itu sendiri, sumber identitas dan jati diri setiap mahluk insani

Ide menghormati hari Sabat sebenarnya sangat menarik. Dalam tradisi keagamaan bangsa Israel, penghormatan atas hari Sabat punya dua makna : pertama, sebagaimana Allah mau untuk beristirahat pada hari ketujuh, demikian juga bangsa Israel, harus rela melepaskan semua kesibukan mereka dan beristirahat juga, mengikuti Allah yang mereka sembah. Kedua, Sabat disebut sebagai tanda perjanjian antara Allah yang membebaskan Israel dan Israel yang diangkat menjadi bangsa merdeka, bebas dari perbudakan Mesir, dan menjadi milik Allah semata. Maka, menghormati Sabat berarti mengingat karya pembebasan Allah ini, sekaligus mengenang bahwa dulu mereka itu budak dan sekarang, dengan membebaskan para budak bekerja di hari Sabat, mereka mau mengungkapkan bêla rasanya juga.

Jika pada waktu itu, Yesus membela kemanusiaan di hadapan peraturan Sabat yang keterlaluan, di masa kini pun Yesus akan mengambil tindakan yang sama : membela kemanusiaan di hadapan ségala kesibukan, hiburan, dan beragam pelarian yang menindas keutuhan pribadi manusia. Daripada mencemooh gagasan Sabat, mungkin justru lebih baik untuk kita saat ini, menggali kembali semangat Sabat yang sejati : memelihara sisi rohani manusia dan menjalin relasi dengan sesama. Apa yang menghalangiku untuk menjadi lebih manusiawi : beragam kesibukan, setumpuk rencana dan program kerja, bergenggam-genggam alat komunikasi yang « tidak pernah beristirahat » dan menarik kita juga untuk « on line 24 jam » ? Kita memerlukan Sabat. Bukan hanya dalam pengertian hari ketujuh, tetapi Sabat-sabat kecil juga di dalam setiap hari, yaitu waktu hening, ketika hati lebih mengemuka, ketika diri lebih dapat dikenal dan diselami, ketika mata kesadaran menatap bahwa hidup dan ségala yang dirangkumnya adalah anugerah…..

Tuhan Yesus memberkati dan Bunda Maria melindungi

2 pemikiran pada “BB = Bebas (karena) Beriman

  1. Romo Uut…
    Luar biasa.. Meski jauh, tp msh bs membaca renungannya, jd tetap terasa dekat di hati. Terima kasih renungannya, sll menjadi inspirasi kami, menjadikan kami lbh menyadari bhw kami blm melakukan sepenuhnya sabda Tuhan. Semoga dg membaca renungan ini, iman kami selalu di asah, di ingatkan kembali sejati nya diri kita…
    Ide membuku kan renungan romo, sangat baik.. Jd buku rohani yg pasti di tunggu umat yg mengasihi dan dikasihi romo…

    Salam dan doa kami selalu,
    Nini.

  2. Benar mo….kadang-kadang kita terlalu disibukan dengan berbagai kegiatan dan tugas-tugas dalam kehidupan sehari-hari…..Waktu terasa begitu sempit….sehingga lupa untuk hening…..berdiam….refleksi dan menyadari betapa besar anugrah Tuhan setiap saat bagi kita….ketika kita bisa hening dan menyadari……wah…..rasanya hati begitu penuh dengan rasa syukur………..
    Terima kasih ya mo……..
    Selalu semangat dan tersenyum ya mo…….
    TYM – BMM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s