Goyang Uang

Jumat 5 November 2010

Flp 3:17-4:1,
Mzm 122:1-2,3-4a,4b-5,
Luk 16:1-8

Katanya, untuk dapat masuk surga, setiap arwah harus melintasi sebuah jembatan. Tentu surga akan sangat mudah dicapai kalau jembatan itu selebar jembatan Suramadu di Madura. Masalahnya, jembatan itu « selebar » rambut manusia. Yang bisa melintasi jembatan itu akan masuk surga. Yang terpelesat, ya jatuh « ke bawah » (jatuh selalu ke bawah bukan ?), yaitu ke sungai api yang disebut neraka. Jadi, jalan ke surga itu, paling tidak berdasarkan ilustrasi ini, ditentukan oleh keseimbangan. Dan keseimbangan, menurut syair lagu Iwan Fals, adalah « kosong », atau menurut Ibu Teresa dari Kalkuta « hening », atau menurut orang Jawa « tulus tanpa pamrih » (dekat dengan bahasa Inggris : nothing TO LOSE).

Injil hari ini berbicara tentang harta duniawi, tentang uang, tentang Mammon, yang dapat mengganggu keseimbangan seseorang yang mau berjalan menuju Kesempurnaan atau Hidup Kekal. Dalam bab sebelumnya, yaitu Luk. 15 :1-33, dipaparkan bagaimana keangguhan dan reputasi juga dapat mengganggu keseimbangan orang untuk masuk ke pesta di rumah Bapa (kisah domba dan dirham yang hilang, serta kisah Bapa yang baik). Jadi, godan Mammon, seperti halnya reputasi, sungguh nyata dan mengganggu.

Mungkin perlu ditengok sejenak, latar belakang sosial ekonomi masyarakat di jaman Yesus dan penulisan Injil Lukas. Ilustrasi tentang bendahara yang tidak jujur mencerminkan suasana ketidakadilan ekonomi di jaman Yesus ; persis seperti ilustrasi Hakim yang tidak jujur merupakan cermin ketidakadilan hukum (Luk.18 :1-6). Kata tidak adil pun disebutkan di kedua perikop itu. Menurut Luk. 18 :1-6, sikap tidak adil berakar dari égoïsme : tidak takut pada Allah dan tidak peduli pada sesama. Bagi bendahara yang tidak jujur, entah sesama entah Allah itu bukan masalah. Uang yang kini dia cari dan kumpulkan. Maka, menghianati tuan yang sudah memecatnya bukan soal baginya. Persoalan ketidakadilan ekonomi juga masih terjadi di Gereja saat Injil Lukas ditulis. Tidak seperti mayoritas jemaat Matius, jemaat Lukas adalah jemaat orang Miskin dan sederhana. Konsep misi dalam Injil Lukas adalah : memberi kesaksian bagaimana para murid Yesus hidup saling berbagi, saling menolong. Tetapi ada juga yang menipu para rasul tentang harta kekayaannya : mengaku sudah memberi semua hartanya, tetapi sebenarnya masih menyembunyikan uang hasil penjualan tanahnya (lihat kisah Ananias dan istrinya, Saphira, Kis. 5 :1-11).  Maka, waspadalah. Jangan anggap remeh godan dari si Mammon. Seorang rasul pilihan Tuhan sendiri, sudah jatuh di tangannya !

Lalu, apa yang bisa dibuat ? pertama-tama, sadari keadaan dunia sekitar. Betapa banyak petaka terjadi « hanya » karena uang : perusakan lingkungan, perdagangan narkoba-senjata-manusia, perpecahan antar sesama, dst. Dunia kita, sayangnya, masih dikendalikan oleh Mammon. Tetapi, bintang kejora harapan bukannya sirna. Walau redup nyalanya, di sana sini ia masih memberi tanda kelahiran hidup baru, Betlehem-Betlehem masa kini, tempat persamaian kasih tanpa pamrih, tempat orang mudah mencinta dan dicinta : keluarga, komunitas-komunitas kasih, paroki-paroki, panti-panti, hati banyak pribadi yang merindukan hidup yang lebih indah ketika orang tidak harus mengalahkan sesamanya untuk dapat berada di dunia.

Tuhan Yesus memberkati dan Bunda Maria melindungi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s