Pisau Mata Uang

Sabtu 6 November 2010

Flp 4:10-19,
Mzm 112:1-2,5-6,8a,9,
Luk 16:9-15

Mata pisau itu tak berkejap menatapmu

Kau yang baru saja mengasahnya

Berfikir : ia tajam untuk mengiris appel

Yang tersedia di atas meja

Sehabis makan malam ;

Ia berkilat ketika terbayang olehnya urat lehermu

(Mata Pisau, Sapadardi Joko Damono)

 

Apa yang dapat dilakukan sebatang pisau ? Pisau tidak dapat berbuat apa-apa. Manusialah, dengan kehendak-budi-tangannya, yang mampu memberi tujuan pada sebatang psiau. Ia dapat diasah tajam untuk mengiris appel sehabis makan malam. Tetapi, ia juga dapat dipakai untuk memutus urat leher mahluk hidup lainnya, hewan atau manusia.

Injil hari ini berbicara masih berbicara tentang Mammon. Mungkin perkataan Yesus ini cukup mengangetkan : jalinlah persahabatan dengan mempergunakan Mammon… (Luk. 16 :9). Apa maksudnya ? Mammon atau uang itu pada dasarnya sesuatu yang netral, tidak baik tidak jahat. Seperti mata pisau, uang juga akan diam saja kalau tidak ada manusia dengan kehendak-budi-tangannya. Manusialah yang menentukan uang ini dipakai untuk apa dan bagaimana caranya. Jadi, bukan uang tetapi bagaimana dan untuk apa uang itu dipakai. Yesus tidak mengecam uang. Yang Yesus kecam adalah sikap cinta uang, seolah uang di atas ségala-galanya. Maka gunakanlah uang itu dengan cara yang tepat : dengan kejujuran, dengan kesetiaan, dengan ketelitian. Sebab, cara menggunakan uang ini juga dapat membantu orang untuk mencapai hidup kekal : barang siapa setia dan jujur dalam perkara kecil ia akan setia dan jujur juga dalam perkara yang besar. Jadi, untuk apa uang itu kita pakai dan bagaimana caranya, itu yang perlu direnungkan. Apakah uang itu kupakai sebagai « pisau » untuk membunuh jiwaku, menikam iman, harapan, dan kasih yang Tuhan tanamkan, dengan mencintai uang serta menjadikannya tujuan…. Atau, kugunakan uang sebagai sarana untuk membantu sesama, sarana untuk melatih jiwa jujur dan setia,mengasahnya seperti « pisau » untuk mengiris apel dalam pesta perjamuan abadi ?

Dalam kehidupan sehari-hari, kerap kita jumpai bagaimana uang menjadi suatu hal yang sangat sensitif. Ini perkara peka di dalam setiap perkumpulan sosial dan juga di dalam keluarga. Sering terjadi kelompok-kelompok pecah karena masalah uang, karena cara pengaturannya . Tidak sedikit keluarga berantakan juga karena uang. Maka, ajaran Tuhan Yesus hari ini mengingatkan setiap orang, akan hakikat uang yaitu sebagai sarana untuk membuat kita dan sesama menjadi lebih manusiawi. Uang bukan tujuan, seperti pekerjaan, karier, tugas pelayanan, semuanya bukan tujuan, tetapi sarana. Tujuannya adalah memanusiakan manusia demi semakin mulianya Allah Bapa.

Tuhan Yesus memberkati dan Bunda Maria melindungi

4 pemikiran pada “Pisau Mata Uang

  1. kalau begitu bener juga kali ya Mo..
    ada kata2 yang mengatakan :

    Uang adalah hamba yang baik, tapi tuan yang jahat.

    ketika kita bisa menguasai dan mengatur uang, dia akan menjadi hamba kita, kita bisa mempergunakannya untuk hal-hal yang baik
    tapi ketika uang sudah mulai menguasai dan membutakan kita, kita akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya,bahkan mengorbankan diri sendiri.

    semoga uang tetap menjadi hamba bagi kita ya Mo.. sehingga kita tidak serakah..

    Tks.. Mo… renungannya…
    Mohon doa untuk korban bencana gunung merapi di Yogya dan tsunami di Mentawai ya Mo..

    TUHAN YESUS MEMBERKATI
    BUNDA MARIA MELINDUNGI..
    AMIEN…

  2. Hai romo……segarnya jiwa ini membaca renungan romo…….
    Setuju banget mo……
    jadi ingat lagunya Nicky Astria :

    Memang uang bisa bikin
    orang senang bukan kepalang uh…
    Namun uang bisa juga
    bikin orang mabuk kepayang uh…
    Lupa sahabat, lupa kerabat
    lupa saudara,
    mungkin juga lupa ingatan
    oh…uang…
    oh…lagi-lagi uang

    Thanks tuk renungannya mo Uut….

    Kita tetap satu dalam doa untuk para korban bencana di Indonesia….

    TYM-BMM

  3. makanya ada pepatah “The love of money is the root of all evil”…. Semoga segala sesuatu yang kita kerjakan dan kita rencanakan selalu untuk kemuliaan namaNya.
    Thanks untuk renungan nya. GBU

  4. Terima kasih untuk komentarnya. Semua akhirnya berpulang bagaimana dan di mana hati kita. Bencana yang sedang menimpa negeri kita tercinta menggugah hati untuk kembali sadar betapa ringkihnya hidup manusia. Tanpa makna yang dicari, hidup ini seperti abu vulkanik, datang dan pergi tanpa pesan. Syukurlah, di tengah duka karena bencana, kodrat sejati manusia muncul secara spontan: di tempat pengungsian, sesama korban saling berbagi barang kebutuhan, di jalanan penduduk menyemprotkan air gratis untuk kendaraan yang lewat agar bersih dari abu… Ada Betlehel-Betlehem kecil, tempat lahirnya kemanusiaan sejati, di tengah pembantaian nurani yang sering terjadi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s