Mbah Maridjan dan Yang Suci

 

Senin 8 November 2010

Tit 1:1-9,
Mzm 24:1-2,3-4ab,5-6,
Luk 17:1-6

Banyak orang bertanya, kenapa Mbah Maridjan tidak pergi meninggalkan rumahnya. Sebagian mencibirnya, sebagian memujinya. Yang pasti, Mbah Maridjan ditemukan berpulang, dalam keadaan bersujud menyembah Allah Penciptanya.

Mbah Maridjan : sebuah tanya. Begitu Gunawan Muhammad mengawali catatan pinggirnya dalam majalah Tempo edisi pékan ini (Catatan Pinggir/ Caping ini dapat diakses juga dalam edisi onlinenya). Simpang siur perdebatan di sekitar detik-detik terakhir kehidupan « Juru Kunci Merapi » ini merupakan saksi kebutaan masyarakat modern atas kehadiran « yang melampaui akal budi » di dalam alam semesta. Ahli geologi-vulkanologi dan mungkin sebagian besar dari kita dapat saja berpikir : gunung meletus itu hukum alam. Selesai. Tetapi bagi Mbah Maridjan, meletusnya gunung Merapi bukan sekedar peristiwa alamiah : ada Kekuatan Suci di baliknya. Kepekaan akan kehadiran Yang Suci inilah yang kian lama kian lenyap di lubuk hati orang modern….juga di dalam hati banyak pengikut âgama, sehingga, lanjut Gunawan Muhammad : Tuhan pun berjarak. Ia tak membuat kita luruh. Kita hanya berhubungan dengan-Nya lewat hukum. Tuhan pun mudah ditebak. Hukuman dan pahalanya dapat dikalkulasi. Bukan tempatnya menghakimi secara moral, benar-tidaknya pilihan Mbah Maridjan. Yang patut direnungkan di sini: apakah imanku telah menjadi seonggok aturan, senam rasionalitas dan akal sehat belaka, tanpa memberi ruang pada kekaguman dan kegentaran di hadapan Yang Suci? Apakah aku sanggup “mengagumi” apa yang ada di dalam alam ini? Atau mengutip Sutardji: apakah aku memandang alam seperti Adam memandangnya untuk pertama kalinya? Seandainya ya, ada iman yang segar di situ.

Iman. Inilah yang diminta oleh para murid dalam bacaan Injil hari ini. Tetapi, pandangan para murid pun masih dibatasi oleh aturan dan perhitungan untung-rugi, besar-kecil: iman berarti sanggup melakukan ini itu. Bukan. Iman berarti relasi, berhubungan dengan sang Ilahi: yang mengagumkan dan sekaligus menggentarkan. Yesus pun mengoreksi pandangan para murid: bukan masalah besar kecilnya iman, tetapi adakah di dalam dirimu iman sejati itu? Rasa gentar dan kagum karena sadar akah kehadiran yang ilahi itu? Pertanyaan lebih lanjut: mengapa para murid sampai meminta “imannya ditambahkan?” Karena sebelumnya Tuhan Yesus meminta tiga hal: jangan menyesatkan saudaramu seiman, tegur kalau mereka berdosa, dan ampuni kalau mereka kembali. Dalam bahasa Yunani, kata “menyesatkan” disebut “scandalon”, yang artinya segala hal yang menghalangi jalan orang, entah itu tembok-tumbukan pohon atau jebakan. Arti lainnya adalah orang yang membuat sesamanya berbuat dosa. Jadi, menyesatkan berarti menghalangi orang untuk berbuat benar dengan menjatuhkan dia ke dalam dosa. Tentu, apa dan siapa yang menjadi skandal ditentukan oleh pandangan agama tertentu. Yesus, misalnya, adalah “batu sandungan” bagi orang Yahudi (1Kor.1:23). Di dalam lingkaran para murid, St. Petrus pun sempat ditegor sebagai “batu sandungan” bagi Yesus (Mt. 16:23). Atau mengambil ilustrasi di atas: Mbah Maridjan adalah batu sandungan bagi akal sehat masyarakat modern. Di hadapan apa pun dan siapa pun yang dianggap batu sandungan, Tuhan Yesus mengajarkan satu sikap, kasih, sebab di dalam kasih tidak ada “batu sandungan” (1Yoh. 2:10). Kasih bukan berarti oke-oke saja. Kasih juga berarti keberanian menegur saudara yang berdosa dan kemauan mengampuni kalau mereka berbalik kembali. Hanya kasih yang mampu menyandingkan teguran dan pengampunan secara bersamaan. Tanpa kasih, teguran merupakan kesempatan membalas dendam atau menjatuhkan lawan. Tanpa kasih, pengampunan disamakan dengan membiarkan. Tanpa kasih, teguran dan pengampunan palsu, menjadi sebuah “batu sandungan” baru.

Kasih sebesar itu, dapat saja jatuh ke dalam “samudera hati” kita, jika kita dikaruniai iman yang sejati, yaitu relasi dengan Dia, Sang Misteri. Apakah di dalam keluarga, aku menyediakan ruang dan waktu untuk mengagumi setiap anggota keluargaku? Apakah di paroki dan komunitas-komunitas, aku juga mengembangkan kemampuan mengagumi dan menghargai saudaraku sebagai “yang tak terselami”? Apakah aku sendiri melatih diri untuk menyelami lubuk batinku dan mengagumi pribadiku sebagai karya ciptaanNya, hingga mampu berseru:

Allahku ya Allahku, betapa mulia namaMu di seluruh bumi…

siapakah manusia sehingga Kauciptakan;

siapakah dia sehingga Kaupelihara?

Kauciptakan dia hampir setara dengan Allah….(Mzm 8)?

Tuhan Yesus memberkati dan Bunda Maria melindungi.

 

Iklan

Satu pemikiran pada “Mbah Maridjan dan Yang Suci

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s