Meraba Hati

Kamis 11 November 2010

St. Martinus dr Tours

Flm 1:7-20, Mzm 146:7,8-9a,9bc-10, Luk 17:20-25

Seorang anak yang begitu manja suatu kali dipaksa mengikuti perkemahan di alam terbuka selama satu minggu. Apa yang ia alami selama satu minggu itu sungguh membuka matanya akan anugerah yang selama ini justru ia keluhkan. Tidur di bawah tenda yang bocor di malam hari telah menampar kesadarannya akan nikmatnya tidur di atas kasur di dalam kamarnya yang selama ini tidak pernah ia syukuri. Sarapan dengan nasi setengah matang dan supermi lembek membuatnya rindu akan sayur asem buatan emaknya yang selama ini ia jauhi. Tujuh hari jauh dari rumah dan orang tua membuatnya begitu kangen sampai menitikkan air mata ; padahal sebelumnya ia justru mengharapkan ketidakhadiran mereka berdua agar dapat bebas merdeka. Sepulangnya dari acara perkemahan, ia merasa menjadi manusia baru. Di rumah, ia begitu doyan makan sayur asem. Malam hari, ia tidur nyenyak tanpa disuruh. Dan ia kerap memeluk emak-bapaknya. Orang sekitar merasa heran atas perubahan ini. Yang pulang ini anak yang sama. Tapi kok berbeda. Sakit apa dia ? Orang tuanya tidak mengerti. Kakak adiknya tidak mengerti. Semuanya masih menganggap dia sebagai anak manja yang suka mengeluh dan cari perhatian. Dan memang, walau hatinya sudah tersentuh kesadaran baru, kadang ia masih mengeluh, kadang masih ia cari perhatian. Karena tetap dianggap anak manja, karena terus dicibir sebagai tukang cari perhatian, anak ini pun tak tahan. Akhirnya, ia kembali menjadi anak manja yang suka mengeluh, karena orang sekitarnya tidak mengamati perubahan batinnya.

Seperti perubahan batin, demikianlah Kerajaan Allah, tidak dapat diamati semata-mata dari yang lahiriah. Diperlukan keakraban dengan dunia batin agar dapat menangkap tanda-tanda kehadiranNya. Orang-orang Farisi, yang disebut di dalam Injil Lukas sebagai golongan yang lebih mementingkan perilaku lahiriah dan juga disebut sebagai hamba uang itu, pasti kesulitan dengan Kerajaan Allah yang diwartakan Yesus. Karena mereka berpikir dapat mengendalikan Kerajaan Allah dengan menjalankan aturan âgama. Karena mereka hamba uang, persoalan Kerajaan Allah juga ditafsirkan sebagai masalah untung-rugi : kalau menguntungkan ya Kerajaan Tuhan ; kalau merugikan ya Kerajaan Hantu. Itu sebabnya, mereka tidak akan merindukan saat-saat Kerajaan Allah tiba. Berbeda dengan para Farisi, murid-murid Yesus adalah orang-orang yang menantikan saat kedatangan Tuhan Yesus, saat Kerajaan Allah itu datang. Sebab, mereka memang tidak dapat mengendalikan Kerajaan Allah. Mereka hidup dari iman, yaitu kerinduan untuk mengalami kehadiran Allah. Memakai ungkapan Paulus : seluruh alam merindukan saat anak-anak Allah dinyatakan (Ro. 8 :18). Bukan uang, bukan kenyamanan, bukan ketenaran, tetapi kehadiran Allah yang penuh dalam hati dan hidup yang mereka nantikan. Oleh karena itu, Kerajaan Allah tidak ditemukan di dalam gerakan-gerakan spiritual keagamaan yang aneh-aneh. Sebab, seperti kilat yang terang dan dilihat semua orang, demikianlah ketika Anak Manusia datang : akan dilihat oleh mata semua mahluk tanpa pandang bulu. Dan kita, para murid Yesus, merindukan peristiwa itu.

Marilah, sebelum Kerajaan Allah datang, kita berlatih melihat perubahan batin kita dan batin sesama. Mari berlatih meraba dan menjadi peka terhadap yang tidak kelihatan tetapi punya pengaruh dalam hidup, yaitu batin kita, hati kita. Jangan sampai kejadian dalam ilustrasi tentang anak manja, terjadi di dalam hati kita. Jangan sampai karya Allah dalam hidup dan hati kita dan sesama menjadi sia-sia hanya karena kita kurang peka dan terlalu terikat pada pandangan dan pikiran serta penilaian kita sendiri. Mari kita mulai belajar bersikap terbuka.

Tuhan Yesus Memberkati dan Bunda Maria melindungi

3 pemikiran pada “Meraba Hati

  1. Ya Tuhan Yesus tks, atas refleksi iman yg disampaikan melalui Rm.UUt..yg baik hati yg sll mudah tersenyum..Tuhan Yesus ajarilah aku utk peka menanggapi sgl perubahan di dlm hidup ini, ? terumata atas kehendakMu agar km senantiasa dpt melakukan kehendakMu sj di dlm hidup ini.. tks Tuhan Yeus.. tks Romo UUT. Gbu..

  2. Biasanya kita bisa berubah setelah melalui sebuah pengalaman dlm hidup kita ya Mo..??

    tapi itu juga tergantung bgmn sikap hati kita terhadap suatu perubahan, apakah kita mau menerimanya atau gak..
    dan memang yang diperlukan adalah hati dan sikap yang terbuka…

    Tks.. Mo… renungannya…
    kita sama-sama berdoa untuk tetap memiliki hati dan sikap terbuka agar Karya Allah semakin berkembang dlm hidup kita.

    Tuhan Yesus Memberkati
    Bunda Maria Melindungi
    Amien

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s