Hidup Berarti Ketika Dibagi

Jumat 11 November 2010

St. Yosafat, Theodorus Studit

2Yoh 1:4-9, Mzm 119:1,2,10,11,17,18, Luk 17:26-37

Gelas bir kelimanya tinggal seperempat penuh. Mata lelaki berusia 40 an itu menatap kosong ke kerumunan orang yang bergoyang tersihir dentuman musik memekakkan telinga. Tanpa mengalihkan pandangan, kepalanya menggeleng ketika seorang gadis muda menawarkan diri duduk di sebelahnya. Gadis muda berpakain mini itu pun pergi meninggalkan lelaki itu duduk ditemani permasalahannya sendiri. Yang membuat pusing kepalanya bukanlah bergelas-gelas bir yang telah ditegaknya, tetapi pertengkaran sengit dengan istrinya. Ia merasa bingung sebab menurutnya, istrinya suka ngomel, sering hanya melihat kekurangan suaminya, dan kurang menghargai jerih payah kerjanya. Malam ini pertengkaran hebat kembali terjadi, yang menurutnya hanya karena masalah sepele, yaitu lupa memberitahu kalau dia tidak makan malam di rumah. Lelaki ini resah. Ia merasa seluruh hidupnya jadi kacau. Padahal setumpuk pekerjaan harus ia siapkan. Padahal program pelayanan seksi di paroki yang ia pegang juga harus dibuat dan dilaporkan. Toh, di tengah pergumulan batin, ia menemukan jawaban : untuk apa semua ini dilakukan, diperjuangkan. Ada nilai yang lebih tinggi dari pekerjaan, dari program di Gereja sekalipun. Nilai itu adalah cintanya pada seorang pribadi, yaitu sang istri, pribadi yang dititipkan Tuhan untuk berbagi hidup di dunia ini. Tanpa menghabiskan bir di hadapannya, ia kembali pulang berbekalkan sebuah tekad, untuk mengokohkan kembali janji perkawinannya dengan semakin mencintai dan menerima sang istri apa adanya.

Barangsiapa berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya (Lk. 17:33). Seolah sabda Tuhan Yesus hari ini penuh pertentangan: yang kehilangan nyawa malah menyelamatkan? Tentu Tuhan tidak mendorong kita untuk tidak menghargai hidup dengan menghilangkannya, sebab Ia sendiri mendorong para pendengarnya untuk berani memilih membela kehidupan, juga kalau pilihan itu dibuat di hari Sabat (Mrk.3:4). Pernyataan Tuhan yang seolah penuh pertentangan ini ingin menggugah kesadaran kita tentang makna hidup. Aku ini sebenarnya hidup untuk apa? Untuk siapa? Di manakah kuletakkan seluruh makna hidupku: pada karir, pada sukses, pada nama baik, pada harta, pada harga diri, pada kepuasan jasmani? Sebab, ada hidup menurut dunia dan hidup menurut Allah. Dan hidup menurut Allah lebih dari sekedar makanan, pakaian, kesuksesan, harta, kesenangan (Mat. 6:25). Hidup berarti berani mengasihi: diri sendiri dan sesama, karena sadar Tuhan sudah dan senantiasa mengasihi lebih dulu. Sang suami dalam kisah di atas menimbang-nimbang apa itu hidup baginya. Apakah hidup berarti semuanya beres, pekerjaan sukses, program di paroki selesai. Atau hidup berarti berjuang, menerima seorang pribadi apa adanya dan selalu membarui cinta yang diasah dan dimurnikan dalam api kehidupan. Orang sezaman Nuh dan Lot punah karena tidak mau mempertanyakan makna hidup mereka. Kehancuran dan kehampaan bagai burung nazar, siap menerkam mereka yang hidup semata demi memuaskan kepentingannya sendiri. Hidup tanpa makna dalam iman dan kasih, tiada ubahnya, seperti syair lagu Ebit G Ade,… telah mati dalam hidup.

Mari kita bertanya, apakah pribadi manusia, yaitu pribadiku, pribadi anggota keluargaku, serta pribadi-pribadi yang kujumpai, mendapat tempat lebih tinggi dibandingkan program kerja, rencana-rencana, dan gagasan-gagasanku. Apakah aku menghargai pikiran dan pendapat pribadi-pribadi ini juga. Dengan segala kekurangan dan kelemahannya, hidup setiap pribadi begitu berharga di hadapan Allah.

Tuhan Yesus memberkati dan Bunda Maria melindungi

2 pemikiran pada “Hidup Berarti Ketika Dibagi

  1. MO..
    temen saya pernah bilang ma saya…
    lebih baik dicintai drpd mencintai, lebih baik dikasihi drpd mengasihi….
    saya tanya koq gitu.. kenapa..??
    katanya.. yach kalau kita mengasihi, kita lebih banyak sakit hatinya.. tapi kalau kita dikasihi kita jadi tau dianya bagaimana n kita lebih mudah untuk membalasnya..
    gimana menurut Romo..??

    kalau menurut saya Mo..
    kalau kita mengasihi dengan harapan/pamrih orang itu akan membalas hal yang sama untuk kita atau membalas sesuai dengan keinginan kita, hal itulah yg akan menyebabkan kita sakit hati..
    tapi kalau kita mengasihi dengan tulus dan ikhlas, kita tetap akan bahagia walaupun dia tidak membalasnya.

    sama seperti Tuhan Yesus yang selalu mengasihi dan mencintai kita dengan cinta yang sangat besar dan tulus, so sebesar apapun dosa kita, ketika kita datang kepadaNya, Dia selalu menerima kita dengan cintaNya..

    Tks.. Mo… renungannya..
    kiranya benih Kasih yang telah Tuhan sebarkan dalam diri kita tetap kita pupuk agar dapat tumbuh dengan subur. Kasih bagi diri kita, sesama kita dan terutama Kasih bagi Allah kita Tri Tunggal Maha Kudus.

    Tuhan Yesus Memberkati
    Bunda Maria Melindungi..

    Amien….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s