Kodrat Manusia

Selasa 16 November 2010

Why 3:1-6, Mzm 15:2-3ab,3cd-4ab,5, Luk 19:1-10

Seorang rahib melihat seekor kalajengking terjebak dalam sebuah lubang. Karena merasa iba, rahib ini mengulurkan tangannya hendak menolong hewan malang itu. Tetapi setiap kali tangannya hendak menolong, ekor kalajengking itu selalu mematuk untuk menyengat. Si rahib tetap berusaha mengangkat kalajengking dan kalajengking terus menyengat dan menghindar. Seseorang yang kebetulan lewat dan memperhatikan kejadian itu berkata kepada si rahib supaya berhenti menolong kalajengking yang terus hendak menyengat penolongnya itu. Si rahib pun menjawab : Sudah kodrat si kalajengking untuk menyengat dan sudah kodratku untuk mencinta. Apakah aku harus menyangkal kodratku untuk mencinta karena kalajengking ini hidup sesuai kodratnya, yaitu menyengat ?

Injil hari ini menampilkan kodrat Allah Bapa yang maha pengampun dalam diri Yesus. Sementara kerumunan orang memandang Zakheus sebagai « kalajengking » bagi masyarakat Yahudi, dan karena itu tidak perlu ditolong sebab ia hanya bisa menyengat dan merugikan bangsanya sendiri, Tuhan Yesus merangkul Zakheus sebagai « domba yang hilang », yang perlu dibawa pulang. Dengan tindakanNya ini, Tuhan Yesus mengajarkan satu hal kepada kerumunan orang ini : jangan pernah berhenti untuk mencinta ; jangan pernah berhenti untuk memperlihatkan kebaikan di dalam diri kita, sebab Allah Bapa sendiri tidak pernah berhenti mencintai ciptaanNya. Kodrat manusia bukanlah « menyengat, menyerang, dan menjatuhkan » sesamanya. Manusia diciptakan « secitra » dengan Allah yang adalah kasih. Maka kodrat manusia adalah « mencinta dan dicinta ». Kekuatan kasih yang tulus dan tak dikendalikan oleh apa kata orang, akan membuka kodrat sejati dalam diri kita, seperti yang dialami oleh Zakheus hari ini : dari seorang egois yang merugikan bangsanya sendiri menjadi pengikut Yesus yang rela berbagi dengan orang lain.

Satu tokoh pun disebutkan, yaitu Abraham. Orang yang disebut sahabat Allah ini memiliki keutamaan keramahan dan berpandangan positif terhadap orang lain. Dia tidak segan bergaul dengan orang Kanaan, bangsa asing ; dia tidak sungkan menerima berkat dari Melkisedek ; dia rela membiarkan Lot mengambil tempat yang pertama. Kekuatan kasih Abraham ini membawa keselamatan bagi rumah dan keturunannya. Semoga seisi rumah kita pun menjadi rumah « Abraham » tempat setiap pribadi diterima dan dikasihi sebagai manusia.

Catatan tambahan :

–                     tema « melihat » tampaknya diperpanjang oleh penginjil Lukas. Di dalam perikop sebelumnya, dikisahkan orang buta yang ingin dapat melihat dan Yesus pun memberinya pengelihatan. Relasinya dengan Allah dipulihkan. Kini, Zakheus pun dikisahkan ingin « melihat » Yesus yang lewat. Tetapi ia tidak bisa. Maka ia berlari dan memanjat pohon. Yang menarik adalah, tidak disebutkan bahwa Zakheus melihat Yesus tetapi Yesuslah yang lebih dahulu melihat Zakheus. Apa kesamaan Zakheus dengan orang buta ? Pertama, keduanya tertarik pada Yesus yang lewat : yang buta ingin menemui Yesus agar dapat sembuh ; Zakheus sekedar ingin tahu, ingin melihat « siapakah atau orang macam apakah » Yesus itu. Kedua, baik Zakheus maupun orang buta itu dikisahkan tidak dapat melihat Yesus. Paling tidak, ketidakmampuan ini berhubungan dengan cacat badan mereka : yang satu karena dilahirkan buta, yang lainnya karena badannya pendek. Ketiga, baik orang buta maupun Zakheus mendapatkan halangan dari orang banyak ketika mereka ingin menjumpai Yesus. Apa yang dapat ditarik sebagai kesimpulan di sini ? Dalam kisah Zakheus, penginjil Lukas semakin mempertegas apa makna disembuhkan dari kebutaan : bukan sekedar kesembuhan fisik, tetapi pengampunan dosa. Orang semakin mampu melihat apa yang sebenarnya sungguh-sungguh bermakna dalam hidup. Itu semua terjadi berkat perjumpaan dengan Yesus. Entah dia orang miskin, entah dia orang kaya, keduanya sama-sama membutuhkan kesembuhan dari Yesus.

–                     Tema orang banyak. Orang banyak yang mengikuti Yesus secara berturut-turut dikisahkan « menghalangi » orang buta dan Zakheus yang ingin berjumpa dan melihat Tuhan Yesus. Perjumpaan dengan Yesus adalah perjumpaan pribadi. Mungkin awalnya dari apa kata orang, dari kesaksian orang lain, kesaksian Gereja, atau dirangsang rasa ingin tahu. Tetapi, dalam tingkat yang lebih tinggi, iman adalah perjumpaan pribadi dengan Allah. Pengalaman personal, jujur, otentik, memainkan peranan. Sekedar mengikuti apa kata orang justru menjadi halangan untuk berjumpa dengan Tuhan. Maka, komunitas Gerejawi yang sejati adalah komunitas yang mendorong setiap pribadi mengalami perjumpaan dengan Yesus yang diimani.

Tuhan Yesus memberkati dan Bunda Maria melindungi

2 pemikiran pada “Kodrat Manusia

  1. seperti kata Tuhan Yesus yach Mo..
    Bukan engkau yang memilih Aku, melainkan Akulah yang memilih kamu..

    Selalu Tuhanlah yang melihat dan memilih kita terlebih dahulu, tapi apakah panggilan itu kita tanggapi atau tidak, tergantung pribadi orang itu ya Mo..
    spt Zakheus dan orang buta.. mereka menanggapi panggilan Tuhan,walaupun disuruh diam dan dihalang-halangi.
    sekali lagi perlu hati dan sikap yang terbuka untuk menanggapi panggilan Tuhan dan mengalami perjumpaan pribadi dengan Dia..

    Tks..Mo.. renungannya…

    Tuhan Yesus Memberkati
    Bunda Maria Melindungi..

    Amien..

    nb. renungannya sama dengan yang di warta tgl 31 Okt ya Mo..??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s