Tuhan, di pintuMu aku mengetuk

Senin 15 November 2010

Albertus Agung, Magdalena Marano,

Why 1:1-4,2:1-5, Mzm 1:1-2,3,4,6, Luk 18:35-43

Rasa kecewa mendalam menghalangi pria setengah baya ini untuk berdoa dan telribat dalam perayaan serta pelayanan di gereja. Dia merasa, semua upaya sudah dilakukan untuk kesembuhan istrinya. Mulai dari perawatan médis paling intensif, sampai beragam cara menyampaikan wujud doa : dalam misa, dalam Rosario, lewat ziarah, novena, dan sebagainya. Semua usahanya ini terlanjur membangun sebuah harapan yang ia pegang erat-erat : istriku pasti sembuh. Tetapi, harapannya bagai asap tertiup angin ketika akhirnya istrinya berpulang karena kangker yang merongrong tubuhnya lebih dari enam tahun. Bangunan asa yang lama disusun hancur berantakan, meninggalkan duka dan kecewa mendalam ; serta sebuah tanya : di mana Tuhan Allah dengan ségala kasih-setia dan keadilanNya ? Tanya itu, setelah 15 tahun terbuka tanpa jawab, mengakhiri masa penantiannya. Di rumahnya, sambil melamun sepulang kerja, ia menatap foto mendiang istrinya yang memegang Rosario. Entah mengapa, ada perpaduan yang indah antara untaian Rosario sederhana dan senyuman almarhumah istrinya. Dan dari kaca yang membingkai foto itu terpantul salib Yesus yang menempel di atas ambang pintu rumahnya. Ia pun berbalik dan memandang salib dan Yesus yang tergantung di situ. Sekonyong-konyong, halilintar kesadaran menyambar hati dan budinya. Dan lelaki itu pun berkata : berapa lama Tuhan, Engkau menantiku dan kutakpeduli… Berapa lama Kau terluka untukku tetapi tak kutanggapi ? Salib telah melahirkan iman lelaki itu kembali.

Seperti ilustrasi di atas, orang buta di dalam Injil hari ini dapat dibayangkan sebagai orang yang kecewa. Menjadi pengemis buta di zaman Yesus, bukan sekedar menyangkut masalah status ekonomi-sosial. Ada mata rantai sebab akibat yang ujung-ujungnya adalah Penghakiman Ilahi : orang ini mengemis karena miskin, ia miskin karena tidak bekerja, ia tidak bekerja karena buta, ia buta karena dihukum Tuhan, ia dihukum Tuhan karena dosa – entah dosa yang dibuatnya sendiri atau dosa orang lain. Maka, begitu mendengar nama Yesus, ia pun tidak ragu untuk mengadukan perkaranya. Harapan orang buta ini terangkum dalam seruannya kepada Yesus : Yesus Anak Daud, kasihanilah aku. Anak Daud berarti keturunan Daud, yaitu Raja yang dalam pemerintahanNya menghadirkan pemerintahan Allah sendiri. Dan salah satu tugas utama raja adalah mengadili. Orang buta ini yakin, bahwa wajah Allah yang dibawa Yesus berbeda dengan wajah Allah penuh amarah yang selama ini ditanamkan oleh masyarakat dalam dirinya. Maka ia tidak peduli ketika orang banyak memintanya diam. Ia tidak mau lagi dikendalikan oleh apa kata orang banyak. Hatinya sudah bulat : bertemu dengan Yesus atau lenyap. Sebutan lain yang ia pakai adalah Tuhan, atau kurios dalam bahasa Yunani. Kurios berarti pemilik atau tuan yang punya kuasa atas kepunyaannya. Dengan menyebut Yesus sebagai Tuhan, orang buta ini mengakui bahwa Yesus adalah tuan atas hidupnya. Kepada Yesus, ia meminta supaya bisa melihat. Artinya lebih dari sekedar melihat secara fisik. Artinya bahwa hubungannya dengan Allah dipulihkan. Ia yang selama ini merasa dikutuk oleh Allah, kini meminta pemulihan dari Yesus. Dan Yesus pun menjawab : melihatlah, imanmu telah menyelamatkan engkau. Kurang lebih, empat kali Yesus mengatakan hal ini : kepada orang lumpuh yang diturunkan dari atap, kepada perempuan yang membanjiri kaki Yesus dengan air mata, kepada perempuan yang lama kena pendarahan, dan sekarang kepada orang buta ini. Dengan ucapan ini, Yesus mengamini keyakinan mereka bahwa Allah adalah pengasih dan bukan penghukum. Iman ini  seperti iman Petrus : Guru, kepada siapa lagi kami berpaling. Engkaulah empunya sabda kehidupan. Dan peristiwa dalam perjalanan ke Yeriko ini adalah peristiwa yang terjadi setelah Yesus mewartakan wafat, sengsara, dan kebangkitanNya kepada para murid (Lk. 18 :31-34). Berarti, perikop ini dibaca di bawah terang salib dan kebangkitan yang menanti Tuhan di Yerusalem. Hanya di bawah salib, kasih dan keadilan Allah dapat dipahami. Hanya di bawah salib, penderitaan manusia dapat dimaknai.

Tuhan Yesus memberkati dan Bunda Maria melindungi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s