Tuhan, tolonglah aku!

Pemberkatan Gereja Basilik St. Petrus dan Paulus Rasul

Why 5:1-10, Mzm 149:1-2,3-4,5-6a,9b, Kis 28:11-16,30-31, Mat 14:22-33

Seorang ibu berusia lanjut terbaring lemas di kamar rumah sakit. Ibu itu tahu, kanker ganas sedang memangsa badannya. Datanglah seorang pastor berjubah putih. Sambil memegang jemari tangan ibu ini, sang pastor pun memulai berdoa. Intinya, memohon rahmat kesembuhan bagi si ibu. Seusai doa, dalam rasa sakitnya, si ibu dengan tersenyum berkata, »terima kasih Pastor atas doanya. Tetapi, maaf pastor, saat ini saya tidak menginginkan kesembuhan. Di tengah terpaan sakit ini, saya sangat ingin Tuhan Yesus memegang tangan saya erat-erat dan tidak membiarkan saya tenggelam dalam keputusasaan, dalam kesendirian. »

Tuhan, tolonglah aku (Mat. 14 :30). Saat Petrus diterpa angin sakal yang keras, kepercayaannya melemah dan ia pun goyah. Pada saat itulah, ia pun berseru minta tolong kepada Tuhan. Pada saat itulah, Petrus tidak saja menjadi juru bicara para rasul, tetapi juga menjadi juru bicara kita. Pétrus adalah kita, manusia lemah. Dengan upaya kita sendiri, tiada mungkin kita hadapi angin sakal tantangan hidup yang bertiup menentang langkah kita. Dalam bahasa Yunani, ada beragam jenis angin. Ada angin sepoi-sepoi yang menyejukkan, yang kerap menjadi lambang Roh Kudus. Tetapi ada angin keras, angin sakal, yang disertai terpaan air, entah itu ombak atau hujan. Dalam bahasa Yunani, angin ini disebut anemos. Inilah angin yang menggoyahkan Petrus. Inilah angin yang bertiup melawan perahu para rasul. Inilah angin yang menerpa dua rumah : yang dibangun di atas batu maupun yang dibangun di atas pasir (Mt. 7 :25,27). Inilah angin tantangan hidup yang menguji iman kita. Dan seperti Petrus, kita sadar, kita butuh Tuhan. Tetapi, masalahnya, dengan kekuatan kita sendiri, kita pun sulit mengenal Tuhan ketika badai datang. Di tengah terpaan angin sakal, Tuhan Yesus lewat dan para rasul malah berpikir hantu yang dilihat (Mt.14 :26). Penampakan fisik tidak membantu para murid. Maka Yesus pun bersabda : « ini Aku, jangan takut » (Mt.14 :27). Sabda pun belum membuat ketakutan mereka mereda. Masih dibutuhkan bukti dan jaminan lain : « Kalau Engkau Tuhan, ayo, suruh aku berjalan di atas air ini » (Mt.14 :28). Petrus memberi perintah kepada Yesus dan Tuhan Yesus pun mengabulkannya. Sebuah upaya manusia untuk menyamai Tuhan. Di tengah kegalauan, ada godaan untuk menguasai Tuhan, untuk mewajibkan Tuhan melakukan ini itu, untuk membuktikan kuasaNya. Di tengah kegalauan hidup, ada godaan untuk menjadikan diri kita sama atau lebih tinggi, lebih tahu, dari Tuhan. Dan Petrus pun sadar, siapa dirinya ketika ia hampir tenggelam. Pada saat itulah, menjadi nyata : aku hanya manusia. Tetapi aku punya Tuhan….. inilah doa ibu lanjut usia dalam ilustrasi di atas, Tuhan pegang erat tanganku, jangan biarkan aku sendirian…

Perjalanan iman semestinya membawa manusia semakin menyadari siapa dirinya. Kerapkali iman disamakan dengan moralisme : iman adalah rangkaian peraturan yang harus ditepati untuk menyenangkan Tuhan. Pandangan ini terlalu memusatkan orang pada kekuatan dirinya sendiri. Iman adalah relasi dengan Tuhan. Dan tiada yang lebih asli dalam relasi ini selain kesadaran bahwa aku ini ciptaan dan Tuhan adalah Pencipta. Aku tidak bisa hidup tanpaNya : Tuhan, tolonglah aku. Entah bagaimana, iman ini ditumbuhkan di dalam keluarga. Pasti kebiasaan berdoa bersama dapat menjadi langkah awal. Bersyukur di kala suka, bersyukur di kala duka. Memohon kekuatan di kala lemah, dan selalu sadar, semua adalah pemberiannya. Dibuat suasana sedemikian sehingga, setiap anggota keluarga merasakan kebutuhan tuntunan Tuhan sebelum memulai langkah hidupnya di awal hari.

Tuhan Yesus memberkati dan Bunda Maria melindungi

Tiada mahluk yang lebih mulia

Selain manusia yang berlutut dan berdoa

4 pemikiran pada “Tuhan, tolonglah aku!

  1. kayaknya Mo.. sekarang sangat jarang ditemukan keluarga yg berdoa bersama2, bahkan yg lebih sedihnya lg ke Ekaristi hanya sbg kewajiban, bukan krn kerinduan utk berjumpa dgn Kristus..

    tgl 17 kmarin saya ikut seminar Ekaristi Mo.. yg bawain Rm.Madya,moderator Rm.Simon dan dihadiri jg ma Mgr Ign.Suharyo.
    memandang Ekaristi dr sisi yang lain, bhw ekaristi bkn hnya TPE saja, tapi Ekaristi kita yang sejati ketika kita mw peduli dan membantu meringankan beban saudara2 disekitar kita yg kekurangan..

    Ini juga bisa menjadi salah satu cara kita utk menjalin relasi dgn Tuhan.. ga..Mo???

    Tks. Mo.. renungannya..

    Tuhan Yesus Memberkati
    Bunda Maria Melindungi..
    Amien…

    🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s