Sederhana

Selasa 23 November 2010

Klemens I, Kolumbanus, Mikhael Agustinus Pro

Why 14:14-19, Mzm 96:10,11-12,13, Luk 21:5-11

Hidup seminggu mengikuti irama harian para biarawan Trappist Rawa Seneng adalah sebuah pengalaman rohani luar biasa. Di sini, doa harian yang merupakan doa Gereja, dialami bukan sebagai sebuah kewajiban tetapi sebagai makanan rohani, suatu perjumpaan dengan Allah di dalam dan melalui tubuh Kristus yaitu GerejaNya. Sementara dunia luar begitu yakin dengan kekuatan dirinya sendiri dan merasa bebas menentukan tujuannya sendiri, hidup para pertapa dalam kekusyukan doa dan kesederhanaan karya memperlihatkan satu hal : dunia dapat berdiri sampai saat ini bukan karena kekuatannya sendiri tetapi hanya karena kekuatan doa – relasi manusia dengan Allah Sang Pencipta. Secara mengagumkan, semua ini terpantul tidak saja dalam nyanyian dan doa liturgis, tetapi juga melalui ruang doa bersama, sebuah kapel, yang nyaris tanpa hiasan. Hanya di ujung, di belakang tabernakel, terdapat lukisan kaca penuh warna, yang menggambarkan Sang Bunda, yang menyala pada saat dilantunkan nyanyian Maria, sebagai penutup Ibadat Malam. Kesederhanaan ruang doa dan upacara serta hidup harian para rahib menunjukkan makna sejati setiap hal : semua berasal dari Sang Pencipta dan kembali padaNya.

Injil hari ini melanjutkan perikop kemarin. Setelah Yesus dengan hati sang pendoa, melihat keagungan persembahan seorang janda miskin, kini Ia menyadarkan para pengagum bangunan Bait Allah. Di zaman Yesus, Bait Allah memang bangunan megah. Ada belasan pintu gerbang di dalamnya dan setiap pintu gerbang terbuat dari kayu pilihan dengan hiasan dari emas dan Perak. Tetapi, apa sebenarnya jati diri setiap bangunan ibadah berikut perayaan iman di dalamnya ? Yesus mengingatkan bahwa apa yang dibangun dengan semangat duniawi suatu saat akan runtuh dan lenyap, seperti halnya setiap ujud yang bersifat duniawi. Bukankah fungsi tempat ibadah dan perayaan iman adalah untuk mengingatkan kembali para beriman akan Allah Yang Maha Hadir, sebagai sumber dan tujuan hidupnya, yang mestinya dirindukan dan dinantikan kedatanganNya ? Bukankah ini berarti menjadi waspada agar tidak mudah men-Tuhankan entah benda entah pribadi yang menawarkan diri sebagai sang penyelamat terutama di kala susah ?Agar tidak takut dan terkejut manakala perang, bencan alam datang menghujam ?

Mari kita tengok semangat apa yang ditampilkan oleh gedung doa kita, gereja, kapel, dan setiap ruang doa kita. Mari kita cermati juga, perayaan-perayaan liturgi dan doa-doa kita. Mana yang mendapat tekanan : hiasan dan penampilannya atau makna yang ingin disampaikannya ? Ruang doa dan perayaan liturgis yang sederhana tidak sama dengan ruang doa dan perayaan liturgis kumuh-miskin-asal-asalan. Sederhana berarti menjadi lebih dekat pada yang sejati. Apakah hidupku sendiri, hatiku sendiri, menampilkan kesederhanaan demikian itu ?

Tuhan Yesus memberkati dan Bunda Maria melindungi

Ketika gaya menjadi yang utama,

Olah jiwa mudah dilupa

Orang berlomba pâmer perhiasan

Sambil menelantarkan pendidikan

5 pemikiran pada “Sederhana

  1. Tertarik dengan kalimat pada renungan Mo Ut : Mari kita cermati juga, perayaan-perayaan liturgi dan doa-doa kita. Mana yang mendapat tekanan : hiasan dan penampilannya atau makna yang ingin disampaikannya……

    Kembali menuntut kejujuran nurani, dan sungguh memerlukan kerendahan hati
    Apa yang selama ini dipahami dalam Tata Perayaan Ekaristi
    Sepertinya masih hanya ungkapan jasmani
    Belum benar-benar olah rohani…
    Bagaimana cara memperbaiki ?

    1. Ini menyangkut komunikasi simbol rohani. Seperti orang belajar membaca harus menghafal abjad dan kemudian belajar buat kalimat, demikian juga simbol-simbol liturgi hanya dapat dipahami kalau membuka buku tata bahasa iman kita: Kitab Suci dan Tradisi Gereja.

  2. tapi yg terjadi selama ini banyak yg menekankan ttg hiasan & penampilannya Mo.. bukan maknanya..
    jd teringat kembali waktu rekoleksi di villa Deo Gratias Lembang (Mo Ut pasti ingat jg).justru dlm kapel yg sederhana bgtu,sya merasa bener2 dekat dgn Tuhan, sy merasa damai & betah banget di kapel itu, & suasana doa sept itu belum sya temukan lagi sekarang ini..

    jd ingat jga waktu seminar Ekaristi kemarin ini Mo..
    bahwa liturgi, terutama Ekaristi bukan hanya melulu simbol2 dan tata perayaan semata, tapi apakah kita telah Ekaristi, menjadi roti, diambil,diucapkan syukur,dipecah2 dan dibagi2kan kpd sesama kita yg kekurangan…

    Tks.. renungannya Mo..

    Mo..
    tgl 27 November & 4 Desember ini pkl.15.30,- gereja kita RC akan memulai kelas Bina Iman Remaja (u/anak stelah Komuni Pertama), mohon dukungan doanya agar semua dapat berjalan dengan lancar dan anak-anak dapt semakin mengenal Tuhan Yesus lebih dekat..
    kita deg-deg-an nich Mo.. coz gebrakan pertama ini menentukan utk anak2 datang atau tidaknya nanti..
    tgl 12 mereka rekoleksi n kontinue kelasnya tgl 9 januari setiap sabtu..
    Doain.. Ya Mo.. Please….

    Tuhan Yesus Memberkati
    Bunda Maria Melindungi..

    Amien…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s