Taman

Jumat 26 Novembr 2010

Why 20:1-4,11-21:2, Mzm 84:3,4,5-6a,8a, Luk 21:29-33

Il y avait un jardin

qu’on appelait la terre…

Pernah ada sebuah taman, ketika orang menyebut bumi. Pada mulanya, bumi adalah sebuah taman. Layaknya sebuah taman, setiap orang bebas bergerak di sana, setiap mahluk hidup dalam harmoni, setiap anak tumbuh dekat dengan alam dan sesama. Dulu, bumi adalah sebuah taman. Gambaran ini pula yang dipakai penulis Kitab Suci ketika menggambarkan kisah penciptaan alam semesta : bumi adalah sebuah taman dan manusia diberi kuasa mengaturnya. Tetapi apa yang terjadi sekarang ? Bumi bukan lagi sebuah taman. Bumi menjadi seperti altar pembantaian ségala mahluk : manusia menyembelih manusia demi berhala uang ; tubuh pertiwi dinodai dengan polusi dan pengurasan sumber alam tanpa henti. Dari mana semua ini bersumber ? Dari hati manusia ; hati yang semakin hari semakin tidak keruh, semakin asing dengan sumber hidupnya sendiri. Suatu kali bumi dan alam semesta adalah sebuah buku kehidupan, guru, sekaligus penopang hidup. Kini alam adalah sasaran ekslpoitasi belaka. Tiada lagi rasa hormat dan takjub di hadapan bumi dan semesta.

Maka, kalau hari ini Yesus memulai pengajaranNya dengan menyebutkan suatu gejala alam : jika kamu melihat pohon-pohon ini sudah bertunas, kamu tahu bahwa musim panas sudah dekat (Lk. 21 :30), rasanya ada yang tidak « nyambung » dengan kehidupan masa kini. Sebab, semakin banyak manusia modern yang « buta huruf » dalam membaca tanda-tanda alam. Dan kembali, semuanya bersumber dari kebutaan hati manusia sendiri.

Saat ini, manusia tidak lagi kagum pada bumi yang dulunya sebuah taman. Sekarang orang kagum pada peralatan elektronik, kagum pada mobil mewah keluaran terbaru, kagum pada hasil tangannya sendiri. Manusia modern, mengutip istilah anak muda, adalah manusia narsis yang pengen eksis. Manusia terlalu terfokus melihat kehebatnnya sendiri dan lupa keagungan semesta, lupa betapa ajaibnya taman dunia yang semakin sulit dijumpa, lupa betapa memikatnya persahabatan sejati. Manusia narsis adalah manusia sendiri, bukan untuk menjadi diri yang sejati, tetapi sendiri karena tidak mampu menemukan bahasa yang dapat dipahami bersama, karena bumi tempat berpijak bersama sudah tidak dikenali, karena hati masing-masing sudah tidak diakrabi.

Satu hiburan : perkataan Tuhan tidak akan berlalu (Lk. 21 :33). FirmanNya punya kuasa untuk mengembalikan orang pada hatinya masing-masing. FirmanNya yang abadi itu akan mengembalikan orang untuk melatih kembali satu bahasa yang  membuat alam ini ada, yaitu bahasa kasih. FirmanNya mampu mengubah hati yang keras seperti batu menjadi lembut seperti kapas. Manusia baru akan mengatur kembali bumi secara baru… Mari kita berani ambil jarak dengan ségala macam benda ciptaan manusia yang terlanjur kita akrabi. Mari kita gali kembali kekayaan hidup : di alam, di heningnya malam, di lubuk hati, di dalam kebersamaan dengan sesama, dengan keluarga.

Tuhan Yesus memberkati dan Bunda Maria melindung

Oú est-il ce jardin toutes portes ouvertes,
Que je cherche encore mais que je ne trouve plus?

Di manakah taman itu, yang semua pintunya terbuka,

Yang masih terus kucari, tetapi tiada lagi dapat kujumpa…

4 pemikiran pada “Taman

  1. Betul Mo… kadang alat komunikasi malah menjadikan kita “jauh” dari orang-orang di sekitar kita
    Kadang juga lebih suka berlama-lama di depan tv daripada membaca kitab suci.. (pengalaman pribadi hehehehe )
    Modernitas membawa kita berjalan “mundur” klu kita tidak tepat menerapkannya.

  2. Ah……memang….kadang kita merasakan begitu butuhnya keheningan ya mo……
    Duduk di taman…..menatap beningnya air di kolam serta menatap air yang mengalir jatuh dari pancuran…terdengar suara gemericik saja…….hatipun akan merasa ikut tenang………

    1. Iya. Masalahnya, kita kerapkali bilang: ah, gak ada wakt, karena banyak yang menganggap hening itu sekedar buang-buang waktu. Padahal, banyak penemuan penting terjadi ketika orang ambil jarak dari kesibukan dan rutinitas: Archimedes menemukan rumus fisika tekenal pas lagi berendam mandi; Newton menemukan hukum gravitasi bumi pas lagi duduk di bawah pohon apel; Musa berjumpa Tuhan Yesus ketika sedang melamun di padang gurun sambil menjaga kambing domba gembalaannya; dan Tuhan Yesus,seringkali mengambil jarak dari orang banyak dan masuk ke keheningan, di pagi-pagi benar…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s