I want to ride my bicycle…

Sabtu 27 November 2010

FransiskusAntonius Fasani

Why 22:1-7, Mzm 95:1-2,3-5,6-7, Luk 21:34-36

Seperti halnya berjalan, kemampuan untuk naik sepeda perlu banyak latihan. Masih teringat dulu waktu masih kecil, di sore hari yang sejuk, saya diajarin naik sepeda oleh kakak perempuan saya di sebuah lapangan tanah merah tidak jauh dari rumah. Sepeda yang saya pakai adalah sepeda mini kesayangan. Di mata saya, dapat naik sepeda adalah sebuah keajaiban : bagaimana mungkin orang dapat duduk santai di atas dua roda hanya dengan mengayuh ? Bagaimana ia dapat tidak jatuh ? Ternyata, keseimbangan itu diraih bukan hanya dengan menjaga arah kemudi agar tidak terlalu ke kiri atau ke kanan, tetapi juga dengan terus mengayuh dan mengayuh agar roda dapat berputar dan daya tarik bumi dapat dilawan. Dan, ketika saya sudah sungguh terbiasa dengan sepeda, saya tidak lagi berpikir tentang menjaga keseimbangan itu. Semuanya mengalir dengan sendirinya. Saya dapat tahu kapan keadaan bahaya akan terjadi sehingga saya dapat siap-siap kalau sewaktu-waktu keseimbangan hilang dan saya akan jatuh.

Hidup rohani seperti orang naik sepeda. Tidak cukup memiliki tujuan yang jelas yang saya ibaratkan dengan kemudi. Tidak cukup tahu ini baik maka dibuat dan ini jahat maka jangan dibuat. Menjaga keseimbangan hanya dengan mengandalkan « stang » tidak banyak membawa dampak, akan tetap jatuh, kalau « roda-roda doa, roda-roda iman, roda-roda kasih » tidak dikayuh dan dibiarkan berputar, memimpin hidup kita, membawa kita sampai pada tujuan. Artinya, tidak cukup mengandalkan « hukum dan aturan moral » untuk dapat berjaga-jaga, untuk sampai tujuan. Diperlukan usaha lain, yang membuat hati kita terangkat  dan tidak jatuh pada karena daya tarik « pesta pora, kemabukan, dan kepentingan-kepentingan duniawi » (Lk. 21 :34). Orang yang sudah mahir naik sepeda juga tetap dapat jatuh. Tetapi setidaknya, ia lebih mengetahui kapan saatnya akan jatuh sehingga dapat lebih waspada, dibandingkan mereka yang masih belajar dan mencoba. Daya tarik bumi, dapat membuat orang jatuh dan terluka ketika belajar naik sepeda. Tetapi bagi yang sudah terlatih, daya tarik yang sama dapat menjadi berkah karena keseimbangan yang sudah dicapai membuat dia dapat menikmati indahnya naik sepeda. Demikianlah juga hari Tuhan yang akan datang : bagi mereka yang tidak sadar, yang belum melatih keseimbangan, yang tidak mengayuh roda-roda doa, iman  dan kasih, hari Tuhan itu laksana sebuah jerat atau jebakan yang menimpa. Seperti hewan buruan yang tidak tahu dan tidak sadar, dan secara tiba-tiba terjerat, demikian juga mereka yang hatinya sarat dengan kemabukan, pesta pora, dan kepentingan duniawi. Tetapi mereka yang sudah mengayuh pedal-pedal batinnya , dapat menyongsong hari Tuhan itu sebagai hari penuh sukacita karena berjumpa dengan Dia yang dengan sabda dan kehadiran sakramentalNya, melatih para muridNya untuk « bersepeda. »

Apa yang dapat kita buât ? Sabda Tuhan hari ini merupakan peringatan tetapi sekaligus hiburan. Peringatan karena secara terbuka Tuhan mengatakan bahwa menyiapkan diri untuk menyambut hari Tuhan memang tidak mudah. Tetapi hiburan karena, Dia sudah berjanji, pasti Dia datang. Maka, ekaristi yang setiap Minggu kita rayakan, dapat menjadi latihan untuk menyambut hari Tuhan itu : dengan menyiapkan diri lewat renungan atas bacaan-bacaan yang akan didengarkan, dengan memperbaiki diri setiap saat, dengan doa.

Tuhan Yesus memberkati dan Bunda Maria melindungi

Jadilah kerinduan hati kami

Ya Tuhan Sang Raja Langit dan Bumi

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s