Dua tangan – Satu hati

Rabu 1 Desember 2010

Dionisius & Redemptus

Yes 25:6-10a,Mzm 23:1-3a,3b-4,5,6, Mat 15:29-37

Perancis di awal tahun 1954 adalah « neraka beku» bagi ribuan orang yang tinggal di jalanan. Pada saat itu, suhu terendah mencapai -34° C. Keadaan sosial politik pun menambah parah situasi, menyusul gagalnya undang-undang perumahan yang direncanakan menjamin tempat tinggal bagi rakyat kebanyakan. Tidak dapat dielakkan, ribuan orang terancam mati kedinginan akibat tidur di jalanan. Di tengah gejolak alam dan nestapa sosial ini, terdengarlah seruan untuk beramal kasih yang disiarkan oleh Radio Luxemborg , Paris, dan yang kemudian diteruskan juga dalam bentuk tertulis lewat harian Le Figaro :

Para sahabat, segeralah membantu…seorang wanita mati membeku malam ini pada pukul tiga dini hari, di Boulevard Sebastopol, dengan masih menggenggam di tangannya selember surat perintah yang membuatnya tidak lagi punya rumah… Setiap malam, lebih dari dua ribu orang terancam mati kedinginan, sekarat kelaparan, tanpa rôti, dan hampir telanjang….

Dari nyeri ini, mari kita ujudkan suatu keajaiban : roh Perancis yang menyatukan. Terima kasih ! Setiap orang dapat menyelamatkan mereka yang tanpa tempat tinggal. Malam ini kami membutuhkan lima ribu selimut, tiga ratus tenda Amerika ukuran besar, dan dua ratus penghangat. Bawa semuanya segera ke Hotel Rochester, nomer 92, jalan Boetie. Para relawan berkumpul di depan tenda di Montagne Sainte-Geneviève jam 11 malam ini. Terima kasih. Tidak boleh ada seorang pun, seorang anak pun yang tidur di aspal atau pun pinggiran kali kota Paris malam ini.

Seruan ini berasal dari hati dan mulut seorang imam Katolik Perancis, ordo Capusin, pastor Abbe Pierre. Kehangatan kasih persaudaraan sang pastor mengalahkan kebekuan musim dingin, dan ketidakpedulian banyak orang Perancis dan Paris. Jutaan Franc, mata uang Perancis saat itu, terkumpul dalam waktu singkat. Charles Chaplin sendiri dikabarkan menyumbang lebih dari 2 juta USD.

Sebuah kisah yang tidak kecil dan tidak sederhana. Sebuah kisah yang menunjukkan kepada kita betapa sebagian besar dunia « lumpuh » nuraninya hingga tidak ikut tertusuk oleh derita sesama. Jutaan orang Paris saat itu tidur nyaman sementara ribuan orang lain mati kedinginan. Sebuah kisah yang menunjukkan bahwa pernah di suatu masa, di tahun 1954, kelumpuhan itu sempat dikalahkan oleh sebuah hati, sebuah seruan, dan dua tangan yang terulur bagi sesama. Injil hari ini mengajarkan kita bahwa Allah bertindak berdasarkan cinta : hatiNya tergerak oleh bêlas kasihan (Mt. 15 :32). Dan orang-orang yang dipanggil untuk tinggal dekat denganNya harus belajar sedegup-sehati-seperasaan denganNya. Maka Yesus pun meminta para murid untuk ikut denganNya, seperasaan denganNya, seperasaan dengan orang banyak yang kelaparan. Tetapi, apa mungkin tangan-tangan mungil kita dapat terulur untuk membantu penderitaan raksasa seluruh dunia ? Apa artinya aku di hadapan misteri penderitaan yang menggunung itu ? Tuhan pun menjawab : apa yang kaupunya. Lakukan itu dengan penuh cinta. Maka, mukjijat akan terjadi. Bersama Dia, dan dalam kenangan akan Dia (memecah rôti lambang ekaristi dan ikan mengingatkan kita akan peristiwa penampakan sesudah kebangkitan) sebuah perbuatan kecil penuh cinta kita akan menerangi dan menghangatkan dunia.

Tuhan Yesus memberkati dan Bunda Maria melindungi

Sepenuh hatikah karya-doamu, itu persoalannya

2 pemikiran pada “Dua tangan – Satu hati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s