The Rock

 

Kamis 2 Desember 2010

Yes 26:1-6,Mzm 118:1,8-9,19-21,25-27a, Mat 7:21,24-27

Sebebas camar kau berteriak – Setabah nelayan menembus badai
Seikhlas karang menunggu ombak – Seperti lautan engkau bersikap
(Iwan Fals, Sang Petualang)

Banyak orang  tahu, betapa perihnya diperlakukan secara tidak adil; disalahpahami; dan dikucilkan tanpa alasan. Ibu Teresa dari Kalkuta sering mengalaminya, khususnya di tahun-tahun awal pendirian konggregasi Misionaris Cinta Kasih. Panggilan Yesus yang beliau terima secara pribadi mendorongnya untuk mengundurkan diri dari Konggregasi Karmel demi satu hal yang begitu membara di hati: melayani Tuhan Yesus dalam diri saudara-saudara yang paling miskin dan menderita. Permohonannya mengundurkan diri diterima, tetapi restu dan bantuan untuk karya pelayanannya tidak begitu saja beliau terima, juga tidak dari Gereja dan Ordo Karmel yang ia cinta. Pernah suatu kali, karena belum punya rumah biara, Ibu Teresa yang belum lama sudah bukan lagi anggota Ordo Karmel, menulis surat kepada pimpinan biara. Beliau minta ijin untuk tinggal sementara di rumah biara mereka. Tetapi jawaban dari sang pimpinan adalah penolakan, dengan alasan jangan sampai Ibu Teresa mempengaruhi para suster muda lainnya untuk mengambil langkah yang sama.Niatnya untuk mendirikan konggregasi para suster demi pelayanan fakir miskin pun tidak begitu saja mendapat restu dari Uskup dan Tahta Suci. Butuh waktu bertahun-tahun untuk sampai pada kesimpulan bahwa niat Ibu Teresa ini memang murni. Dan yang mengharukan, sepanjang tahun-tahun penuh tantangan itu, Ibu Teresa tidak beranjak seinci pun dari cinta dan setianya pada Yesus dan GerejaNya. Dari mana datangnya ketabahan seteguh batu karang seperti yang dimiliki Ibu Teresa? Karena pengalaman sehari-hari menunjukkan betapa mudah orang meninggalkan komitmen awal dengan alasan disalahmengerti, tidak dihargai, dan diperlakukan tidak adil?

Injil hari ini memberikan jawabannya: Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu (Mt. 7:24-25). Keteguhan dan kebebasan hati adalah anugerah yang disiapkan Allah bagi mereka yang menghidupi firmanNya: artinya mendengarkan Dia dan hidup di dalam dan karena Firman itu. Kuasa apa yang dimiliki para Rasul dibandingkan dengan para Imam dan pemimpin agama (politik) Yahudi? Tetapi toh, ketika para Rasul ditangkap, yang ketakutan dan kebingungan adalah para penangkapnya, yaitu para pemuka agama Yahudi: Apa yang akan kita perbuat atas orang-orang ini? (Kis. 4:16). Sementara para Rasul hidup dari setiap perkataan yang keluar dari mulut Yesus, para pemuka agama Yahudi hidup dari kepentingan mereka sendiri; dasar hidup mereka dan pegangan hidup mereka tidak kuat: seperti pondasi dari pasir. Itu sebabnya, mereka gampang goyah, gampang marah, gampang takut, karena mereka tidak punya dasar hidup yang kokoh. Ada satu kutipan dalam Kitab Amsal yang menerangkan hal ini secara singkat dan padat: Orang fasik lari, walaupun tidak ada yang mengejarnya, tetapi orang benar merasa aman seperti singa muda.(Amsal 28:1).

Dalam kehidupan sehari-hari, kerap orang merasa bahwa harapan di hatinya begitu ringkih dan mudah pecah; iman dan semangat kasih pelayanan mudah goyah; ketetapan hati semakin susah. Ada begitu banyak hal dalam hidup yang dapat menggoyang komitmen awal kita dengan begitu mudahnya: kekecewaan, sakit hati, kegagalan, penghinaan. Hanya dengan bersandar pada batu karang yang kokoh, yaitu Tuhan dan sabdaNya, maka kebebasan dan kemerdekaan hati dapat kita alami: apakah sabdaNya sungguh menjadi makanan rohani dan bintang penuntun arah hidupku?

Tuhan Yesus memberkati dan Bunda Maria melindungi

2 pemikiran pada “The Rock

  1. Hanya dengan bersandar kepadaNya Sang Batu Karang yang kokoh…..kita tetap tegar melangkah maju menghadapi berbagai tantangan dan mengatasi berbagai masalah kehidupan……..

  2. rasanya Mo.. dlm hidup kayaknya ga ada yg tdk pernah mengalami kekecewaan, sakit hati,gagal,terhina dsbnya.. baik dlm keluarga,komunitas & pelayanan. Para imam pun mungkin juga pernah mengalami masalah2 seperti ini, tapi kembali kepada sikap hati kita ya Mo.. apakah dlm setiap langkah hidup, kita menyertakan Tuhan Yesus di dalamnya.. begitu jg dlm pelayanan apkh kita melayani utk Tuhan atau utk agar kita dikenal..
    kl kita melayani utk Tuhan pasti rasa-rasa sprt itu lama kelamaan akan terkikis, shg apapun yg dilakukan atau dikatakan orang tdk akan membuat kita kecewa,sakit hati,dsbnya..
    Bersandar pd Tuhan membuat kita kuat, tegar & sukacita..

    Tks.. Mo.. renungannya..
    Tuhan Yesus Memberkati..
    Bunda Maria Melindungi..
    Amien..

    Ps..
    Mo..
    pertanyaan saya ttg nama minggu2 di adven, ud dapat lom Mo..
    sama gak ama yg di prapaskah..
    Tks.. atas jawabannya ya Mo..
    🙂
    ditunggu lhooo…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s