Seperti Dia

Sabtu 4 Desember 2010

Yes 30:19-21,23-26, Mzm 147:1-2,3-4,5-6,  Mat 9:35-10:1,6-8

Semoga aku lebih ingin menghibur daripada dihibur – memahami daripada dipahami – mencintai daripada dicintai (Doa : Tuhan Jadikanlah Aku Pembawa Damai, St. Fransiskus Asisi, 1181-1226) Sabtu senja, 3 Oktober  1226. Di dalam kapel Portiuncula ( = sepotong kecil tanah), Fransiskus dari Asisi melewati detik-detik terakhir hidupnya. Dua puluh tahun sudah ia menjalani hidup semata-mata untuk Kristus. Dua puluh tahun sudah ia « menikahi » Sang Putri Kemiskinan, agar tetap dekat dengan Guru dan Tuhannya. Dan seperti Tuhan Yesus, menjelang ajalnya, Fransiskus pun mengambil rôti, memecah-mecahkan, dan kemudian membagikannya kepada para sahabatnya. Setelah memberkati mereka satu persatu, Fransiskus berkata : Aku sudah menjalankan bagianku. Semoga Kristus membinbing kalian untuk menjalani bagian kalian masing-masing. Tiba-tiba sang santo menanggalkan « jubah karungnya » dan telungkup di atas lantai. Dulu, ia memutus ikatan-ikatan duniawi, termasuk ikatan keluarga, dengan melepaskan semua pakaian dan pergi keluar kota dalam keadaan telanjang. Kini, ia pun siap kembali kepada Tuhan pujaan hatinya dengan telanjang pula.  Sambil menyerukan bagian akhir dari Mazmur 142 : Allah, bebaskanlah jiwaku dari penjara ini, St. Fransiskus berangkat meninggalkan dunia dengan dijemput kematian yang ia sapa sebagai Saudari Maut, dalam puisinya, Gita Sang Surya. Usianya saat itu, 45 tahun. Dan selama 20 tahun terakhir hidupnya, tiada lain yang mengisi hatinya selain Kristus dan FirmanNya.

Kisah St. Fransiskus, si Gila dari Asisi, memberikan sebuah tafsiran hidup atas makna panggilan menjadi murid Kristus. Menjadi murid Yesus berarti menjadi millik Tuhan dan hidup seperti Dia ; berarti berupaya jadi sedekat dan semirip mungkin denganNya ; berarti memilih apa yang Dia pilih dan menolak apa yang Dia tolak. Dalam Injil hari ini, kita mendengarkan Yesus yang memanggil ke duabelas Rasul. Tetapi sebelum panggilan itu, dikisahkan bagaimana Yesus sibuk melakukan banyak hal. Dalam sebuah kalimat yang ringkas, terangkum kesibukan Yesus itu : Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan (9:35). Ia berkeliling, Ia mengajar, Ia menyembuhkan orang sakit. Biasanya, orang yang sibuk gampang stress dan kalau stress jadi egois lalu mudah mengabaikan kebutuhan orang lain. Tetapi, justru di tengah kesibukanNya, Tuhan Yesus merasakan penderitaan orang banyak yang mengikutiNya: tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan (9:36). Kesibukan tidak menelan Yesus sebab Ia datang dari Allah Bapa dan semua yang dilakukanNya adalah kehendak BapaNya. Menjadi para murid Yesus juga sama seperti itu: dalam Yesus, para murid pun menjadi milik Bapa dan melakukan apa yang menjadi kehendakNya. Kalau ini sungguh terjadi, kesibukan seperti apa pun tidaka akan menelan setiap murid Tuhan.

Dalam hidup sehari-hari, kita biasa mengagendakan acara maupun jadwal dan janji-janji kita. Sebuah pertanyaan : pernahkah muncul gagasan untuk menarik benang merah antara jadwal atau acara yang satu dengan yang lainnya ? Apakah yang menggerakkan kesibukan kita ? Ataukah jadwal yang satu merupakan pulau tersendiri yang tidak terhubung dengan kesibukan yang lainnya ? Lebih sederhananya : sudahkah aku mencoba memberi makna pada kesibukanku ? Pernahkah kurenungkan kesibukan itu agar dapat diberi makna ? Semoga kita tidak menjadi korban dari kesibukan kita sendiri, hingga kita lupa pada sesuatu yang jauh lebih berharga yang sudah Tuhan berikan, yaitu kehidupan itu sendiri.

Tuhan Yesus memberkati dan Bunda Maria melindungi

Dia sudah tidak kelihatan lagi di dunia – Kitalah yang harus memantulkan wajahNya

Satu pemikiran pada “Seperti Dia

  1. Romo….terima kasih….renungan yang dapat mengingatkan kita……..
    Di tengah kesibukan yang kita hadapi setiap hari, di tengah padatnya jadwal tugas, kerja dan karya…..kita diingatkan untuk selalu bersyukur dan memaknai kesibukan itu dan tidak tenggelam dalam kesibukan itu untuk tetap menyempatkan diri memperhatikan sesama agar hidup lebih bermakna……
    thanks buanget ya mo……..
    TYM _ BMM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s