Kebebasan

Minggu 5 Desember 2010

HARI MINGGU ADVEN II

Yes 11:1-10,Mzm 72:1-2,7-8,12-13,17,  Rm 15:4-9, Mat 3:1-12

Selamat datang hari Minggu Advent II. Pada Minggu Advent I, kerinduan kita dikobarkan oleh seruan Tuhan untuk menantikan kedatangan Anak Manusia. Pada saat kedatanganNya itu, kemanusiaan kita akan dibarui, hingga kita tidak perlu saling mencelakakan, saling mendendam, menyakiti, melukai, dan membunuh, sebab : bangsa tidak akan lagi berperang melawan bangsa dan tidak ada lagi orang yang belajar berperang (Yes : 2:4). Itu semua terjadi karena Allah sendiri akan membarui kemanusiaan dengan cara menjadi manusia, agar manusia dapat berjalan denganNya, seperti dulu Adam dan Hawa berjalan dengan Tuhan di taman Firdaus, seperti dulu Nuh berjalan dengan Tuhan seperti dua orang sahabat (Kej. 9 :6).

Hari ini, kerinduan yang sama, akan kemanusiaan yang dibarui, kembali dikobarkan, kembali diperdalam. Apakah yang paling dirindukan oleh manusia saat ini agar hidupnya terasa baru lagi ? Satu kata mungkin dapat memberi jawab : kebebasan. Setiap orang ingin bebas : bebas dari rasa kecewa, bebas dari rasa sedih, bebas dari rasa dendam, bebas untuk mencinta, bebas untuk mengampuni, bebas untuk memberi bantuan, dan seterusnya. Kebebasan itulah yang diwartakan oleh Yohanes Pembaptis dalam seruannya : Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat (Mat. 3 :2). Kebebasan yang dirindukan adalah kenyataan Kerajaan Sorga. Suasana Kerajaan Sorga itu penuh dengan kebebasan, tiada rasa takut, tiada rasa dendam, semuanya hidup tenteram, sebagaimana dilukiskan dalam bacaan pertama : Serigala akan tinggal bersama domba dan macan tutul akan berbaring di samping kambing. Anak lembu dan anak singa akan makan rumput bersama-sama, dan seorang anak kecil akan menggiringnya.
Lembu dan beruang akan sama-sama makan rumput dan anaknya akan sama-sama berbaring, sedang singa akan makan jerami seperti lembu.
Anak yang menyusu akan bermain-main dekat liang ular tedung dan anak yang cerai susu akan mengulurkan tangannya ke sarang ular beludak (Yes. 11:6-8).

Untuk sampai ke sana, orang perlu bertobat. Apa artinya bertobat? Bertobat berarti mau melepaskan beragam hal yang membuat kita tidak manusiawi, tidak hidup sebagai anak-anak Tuhan: dendam, benci, nafsu tak teratur, rasa malas, sihir –dukun, dst. Kerapkali hal-hal ini kita terima sebagai pembebas diri kita, sebagai sumber kesenangan kita. Sebenarnya, itu semua adalah pembebas-pembebas palsu. Banyak orang memilih kesenangan, tanpa menyadari bahwa sebenarnya ia diperbudak oleh kesenangan itu. Banyak orng memilih benci dan dendam, tanpa sadar bahwa sebenarnya jiwanya menjadi bayarannya. Baptisan Yohanes membersihkan orang-orang Yahudi dari pembebas-pembebas palsu itu. Akan tetapi, baptisan Yesus lebih berkuasa lagi: Tuhan sendiri akan masuk ke dalam batin kita, sebagai Roh ia akan membakar semua pembebas palsu tadi, semua berhala tadi, sehingga kita dapat hidup semata-mata bagi DiriNya. Maka, yang kita buat sebenarnya cukup membuka diri akan pertolonganNya, meratakan jalan, meluruskan yang bengkok, membantu Allah untuk lebih mudah membimbing kita (Mat.3:3). Konkretnya: jauhi segala hal yang membuat kita jatuh ke dalam penjara jiwa tadi dan tanam kebiasaan baik: kalau susah bangun pagi, jangan tidur larut malam; kalau susah mengampuni, jangan terlalu cepat menyalahkan orang; kalau malas berdoa, buat jadwal doa dan setia dengannya.

Tuhan Yesus memberkati dan Bunda Maria melindungi

Hanya ini yang kuminta

Diam di rumahMu, di hadapan wajahMu seumur hidupku

Satu pemikiran pada “Kebebasan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s