Gembala

Selasa 7 Desember 2010

St. Ambrosius

Yes 10:1-11,Mzm 96:1-2,3,10ac,11-12,13, Mat 18:12-14

Kaisar Theodosius adalah kaisar Kemaharajaan Roma Katolik yang terakhir. Keagungannya tidak saja berkenaan dengan sukses militernya : ia mematahkan serangan bangsa-bangsa barbar yang mengancam kekaisaran ; tidak juga terbatas pada keberhasilannya menumpas penyembahan berhala dan ajaran sesat Arianisme yang sempat berkibar sebelumnya. Tetapi kebesarannya juga terletak di dalam kerendahan hatinya untuk bertobat. Alkisah, di puncak kekuasaannya, Sang Kaisar ingin memasuki Katedral Milan. Tetapi, uskup Milan dengan tegas melarangnya, katanya : Jika kaisar berani meniru dosa raja Daud, maka kaisar juga wajib mengikuti pertobatannya. Lakukan silih atas dosamu selama 8 bulan, maka aku akan mengijinkan engkau kembali masuk ke gereja ini. Dosa yang dimaksud Sang Uskup terutama dosa menumpahkan darah, karena sang Kaisar terlalu banyak menghunus pedang dan menumpahkan darah, khususnya ketika membantai 7000 penduduk Tesalonika. Sang Kaisar pun taat pada titah sang uskup Milan. Ia bertobat dan melakukan silih selama 8 bulan penuh. Uskup Milan yang berani menegur dan mengajak sang Kaisar bertobat adalah Ambrosius, orang Kudus yang hari ini kita peringati.

Dalam bacaan Injil hari ini, Tuhan Yesus menceritakan kisah gembala yang baik. Gembala yang baik tidak akan membiarkan satu dombanya hilang. Domba yang hilang akan mendapat perhatian lebih daripada yang tidak sesat. Inilah gambaran Allah Bapa yang Yesus bawa ; inilah wajah Bapa yang Yesus hadirkan. Perumpamaan ini kerapkali digambarkan dalam wujud seorang gembala yang menggendong seekor anak domba di pundaknya atau seorang gembala yang berjuang meraih seekor anak domba yang berdiri di tepi jurang. Ada sisi lain yang rasanya belum banyak dilihat. Benar bahwa Sang Gembala Agung tidak akan membiarkan satu dombaNya hilang. Tetapi, bagaimana si domba sendiri ? Apakah si domba secara otomatis senang ditarik dari tanah asing tempat ia tersesat dan dibawa kembali pulang ? Bersukacitakah si domba yang sedang enak-enaknya bermain tiba-tiba direnggut untuk diselamatkan ? Sadarkah si domba bahwa jalan sesat yang diambilnya sebenarnya membawa jiwanya pada bahaya ? Maka, kegembalaan yang baik tidak selalu menyenangkan si domba : sikap gembala yang baik juga mengandung ketegasan demi keselamatan si domba. Ini yang terlukis dalam bacaan pertama : Seperti tanganku telah menyergap kerajaan-kerajaan para berhala, padahal patung-patung mereka melebihi yang di Yerusalem dan yang di Samaria,masakan tidak akan kulakukan kepada Yerusalem dan patung-patung berhalanya, seperti yang telah kulakukan kepada Samaria dan berhala-berhalanya?(Yes.10:10-11). Jangan mentang-mentang jadi kesayangan Tuhan, seperti Yerusalem, lalu merasa tidak akan ditegur dan ditobatkan.

Gembala yang baik tidak sama dengan “pemimpin tahu segalanya”. Hanya satu Sang Gembala, yaitu Tuhan Yesus Putra Bapa. Maka, menjadi gembala yang baik berarti pertama-tama bersekutu dengan Dia, seperti Petrus, ditanya apakah cinta pada Tuhan lebih dulu baru diberi tongkat penggembalaan (Yoh. 21:15-17). Ada banyak cara yang ditempuh Tuhan untuk membawa kita kembali: lewat suara hati, lewat kerinduan akan kebebasan dan kebahagiaan sejati, lewat banyak suara yang menuntuk kembali padaNya. Yang penting sikap terbuka dari diri kita: terbuka untuk jadi lebih dekat padaNya, dan bertekun di sana.

Tuhan Yesus memberkati dan Bunda Maria melindungi

Satu pemikiran pada “Gembala

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s