Stop narsis

Jumat 10 Desember 2010

Yes 48:17-19, Mzm 1:1-2,3,4,6, Mat 11:16-19

Satu cerita kecil di kolam renang. Gajah yang sedang enak-enaknya berenang suatu kali mendengar namanya dipanggil. « Jah, gajah, sini ». Ternyata, semutlah yang memanggil dari tepi kolam renang. Gajah pun menepi dan sesampainya di tepi kolam, bertanyalah dia,  « Ada apa mut ? » « Jah, coba dong kamu keluar dari kolam » pinta semut.  « Hah, keluar dari kolam, buât apa ? » « Udah deh, keluar aja sekarang ». Tanpa bertanya lagi, si gajah pun menurut. Begitu ia naik ke tepi kolam, si semut memandangi tubuh si gajah dengan teliti sambil mengitarinya. Tak berapa lama, si semut berkata lagi, « Oke, sekarang kamu bisa nyemplung lagi ke kolam. » Tidak dapat menahan rasa herannya, si gajah bertanya, « Emangnya ada apa sih mut ? » Jawab semut, « Gak, aku cuma pengen tahu, apa kamu yang pake celana renangku. »

Melalui bacaan-bacaan liturgi selam masa Adven ini, Gereja menggemakan kerinduan Allah untuk berada dekat di tengah umatNya. Kerinduan Allah ini perlu ditanggapi oleh manusia dengan sebuah sikap iman : menyatakan « ya » untuk dipenuhi oleh kehadiranNya. Maka, terdengar seruan dari para nabi untuk menyiapkan diri dengan penuh sukacita dan bukan dengan rasa terpaksa. Maka Yohanes, sang Elia dan suara padang gurun, memerintahkan umat Yahudi untuk bertobat, meratakan jalan yang bergelombang, meluruskan jalan yang berliku, menutup lubang yang menipu. Tetapi, nyatanya, kerinduan Allah kerap tiada dijawab oleh manusia. Seruan suara para nabi seringkali menabrak tembok yang berdiri memagari hati. Apa saja tembok penghalang itu ? Salah satu jawabannya ada dalam bacaan Injil hari ini.

Yesus berseru : mereka itu seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan berseru kepada teman-temannya:Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak berkabung.(Mt. 11:16-17).  Apa yang dibuat anak-anak di pasar? Mereka bermain. Mereka melihat-lihat beragam jenis orang, beragam jenis barang dagangan, beragam jenis hewan yang menarik, yang tumplek jadi satu di pasar. Lalu, kenapa tiba-tiba ada sekelompok anak yang merasa harus diperhatikan karena meniup suling? Apakah nyanyian sedih mereka yang jelas kalah menarik dengan keramaian pasar, harus ditanggapi dengan tangisan? Inilah salah satu sikap yang menjadi tembok penghalang bagi sabda Ilahi untuk dapat bersemayam di dalam hati: keyakinan bahwa dirikulah yang sepenuhnya mengendalikan sejarah hidupku dan juga sejarah dunia. Akulah yang memilih, akulah yang membentuk, akulah yang menentukan segalanya. Aku ada karena diriku sendiri. Orang yang mempunyai sikap ini lupa bahwa alam semesta jauh lebih luas daripada ruang akal budi mereka; jauh lebih menarik daripada bakat dan kemampuan yang ada. Mereka lupa, bahwa mereka mampu memilih karena Allah yang lebih dulu memilih untuk menciptakan manusia. Kehidupan manusia berakar bukan pada pilihannya sendiri, tetapi pada pilihan Allah: Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi (Kej. 1:26).

Ada godaan untuk menjadi besar di mata dunia, menjadi penting dan tak tergantikan dalam tugas bersama; menjadi seperti semut yang mengira ukuran celananya sebesar pinggang gajah. Inilah godaan menjadi narsis: godaan untuk melihat wajah tampan atau cantikku sendiri di depan cermin, lupa pada keajaiban yang disediakan Allah dalam alam ciptaan. Kerendahan hati, kerelaan bekerja  sama, kesiapsediaan diganti dan dikoreksi, adalah latihan untuk jadi terbuka kepada Sabda Ilahi dan mengalami pembaruan hati. Tanpa rasa takut dan terpaksa.

Tuhan Yesus memberkati dan Bunda Maria melindungi

Satu pemikiran pada “Stop narsis

  1. karena itu kita harus menggantikan kedudukan raja di singgasana hati kita ya Mo..
    bukan aku lagi yang jadi raja, tapi DIA lah yang jadi raja.. so kalau Dia yang jadi raja, Dialah yang akan memerintah, bukan aku lagi. Dialah yang mengatur kita dan kita yang menjalankan kehendakNya..
    jadi kita bisa say Stop Narsis pada diri sendiri ya Mo..

    tapi narsis-narsis dikit boleh kan Mo..??? hehehhehe… (nawar.com)
    asal jangan kayak semut narsisnya kebangetan.. 🙂

    tks Mo… Renungannya

    Tuhan Yesus Memberkati
    Bunda Maria Melindungi

    Amien..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s