Kelemahanku juga kekuatanku

Selasa 14 Desember 2010

Yohanes dr. Salib

Zef 3:1-2,9-13,Mzm 34:2-3,6-7,17-18,19,23, Mat 21:28-32

Empat ibu-ibu Katolik sedang minum teh bersama. Ibu pertama mulai angkat cerita: Anakku seorang pastor. Setiap kali dia masuk ruangan, setiap orang akan menyapanya ‘Father’ (Romo). Ibu kedua tidak mau kalah, balas berkisah: Anakku seorang uskup. Setiap kali dia masuk ruangan, semua orang akan menyapa ‘Your Emminence’ (Yang Terhormat). Ibu ketiga pun terdorong menimpali dengan bercerita: Anakku seorang kardinal dan kalau dia masuk ruangan orang akan menyapanya ‘Your Exelence’ (Yang Mulia). Lalu semua hening, sambil menatap ibu ke empat yang dengan tenangnya minum teh dari cangkirnya. Setelah meletakkan cangkirnya, ibu itu pun akhirnya bercerita: Anak saya seorang pengusaha, ganteng dan gagah luar biasa. Kalau dia masuk ruangan, semua orang akan berseru ‘Oh My God’ (Ya Tuhanku).

Dalam Injil hari ini, Yesus dikisahkan sedang berbicara di hadapan para pemimpin agama dan masyarakat Yahudi yang merasa jengkel karena Yesus, penduduk dusun Nazaret itu, telah berani mengobrak-abrik pasar hewan korban di Bait Allah, sumber pendapatan mereka. Kepada mereka yang sedang panas hati dan kepalanya itu Yesus memberikan perumpaan tentang dua anak: yang sulung berkata ya tetapi tidak melakukan kehendak bapa, sedang yang bungsu mengatakan tidak tetapi melaksanakannya. Ada dua pesan yang dapat ditarik dari perumpaan ini. Yang pertama: kesombongan adalah godaan laten yang siap melumatkan roh manusia. Dalam masyarakat Yahudi, anak sulung adalah posisi terbaik. Anak sulunglah yang berhak meneruskan berkat sang ayah, pewaris harta dan penerus nama baik keluarga. Dalam kebebasanNya, Roh Allah berhembus melawan pandangan ini: justru yang tidak dianggap oleh masyarakat yang dipilih Allah. Dalam Kitab Suci, anak bungsu yang kerapkali mendapat berkat dari Allah: Habel lebih diperhatikan daripada Kain; Yakub daripada Esau; Daud daripada saudara-saudaranya. Mereka yang lemah, yang tidak dianggap penting, justru yang kerap mencari perlindungan dari Tuhan, yang membutuhkan belas kasihNya, seperti yang diucapkan nabi Zefanya: Di antaramu akan Kubiarkan hidup suatu umat yang rendah hati dan lemah, dan mereka akan mencari perlindungan pada nama TUHAN (Zef. 3:12). Pesan kedua: Allah terus berbicara kepada manusia dengan beragam cara, dan kesukaanNya adalah berbicara dengan cara manusiawi, cara biasa, dalam hidup sehari-hari. Yohanes Pembaptis adalah nabi, artinya hidupnya dipakai oleh Allah untuk menyampaikan amanatNya. Pemungut cukai dan pelacur percaya kepadanya, tetapi para pemimpin agama tidak.

Bagi kita hari ini, kedua pesan itu sangatlah nyata. Seperti kisah keempat ibu di atas, yang membangga-banggakan hal-hal rohani, demikian juga banyak orang digoda untuk menjadi sombong, merasa imannya, agamanya, lebih sempurna dari yang lain. Apakah orang Kristen berhak merasa bahwa agamanyalah yang paling sempurna, sementara agama lainnya hanya pelengkap penderita? Yesus tidak mengajarkan sikap demikian. Kebanggaan kita harus diubah jadi rasa syukur. Kehebatan iman kita bukan terletak dari beragam kelebihan yang kasat mata, tetapi diukur dari seberapa jauh kita semakin merindukan Dia, membutuhkan Dia, dan semakin mau dirajai olehNya, mendengar suaraNya dalam kehidupan harian yang nyata. Apa ukuranNya bahwa kita semakin dirajai oleh Allah? UkuranNya adalah hidup Yesus, terutama salib dan kebangkitanNya. Sebab, setiap murid Tuhan adalah perpanjangan tanganNya, adalah alter Christi, serupa dengan Kristus.

Tuhan Yesus memberkati dan Bunda Maria melindungi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s