Sang Pemancar

Rabu 15 Desember 2010

Yes 45:6b-8, 18, 21b-25 Luk 7:18-23

Apa yang terjadi kalau seorang guru menunjukkan bulan kepada para muridnya ? Biasanya, para murid tidak akan langsung melihat bulan di angkasa, tetapi terpaku pada telunjuk sang guru yang ada di depan mata mereka.

Injil hari ini kembali mengundang kita untuk merenungkan seorang tokoh besar : Yohanes Pembaptis. Pesan Injil hari ini dapat diringkas demikian : setiap pribadi adalah pemancar gelombang kasih Allah. Seperti halnya orang tidak  akan menempelkan telinga mereka pada tiang-tiang pemancar gelombang radio untuk mendengarkan berita, demikian juga orang tidak boleh berhenti hanya pada para saksi iman tetapi harus dibawa untuk sampai pada Tuhan. Persis inilah yang dibuat Yohanes Pembaptis, sebagaimana kita dengarkan di dalam Injil hari ini. Tidak dapat diragukan kenyataan bahwa Yohanes Pembaptis mengenal siapa Yesus sesungguhnya. Sang suara dari padang gurun sudah mengenal TuhanNya sejak mereka berdua masih di dalam kandungan : Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan (Lk. 1:43-44). Kalau Yohanes Pembaptis sudah mengenal Yesus, mengapa ia menyuruh para muridnya untuk pergi kepada Yesus dan bertanya padaNya: Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan seorang lain? (Lk. 7: 19). Tujuan Yohanes adalah supaya para muridnya juga mengenal Tuhan Yesus bukan saja dari mulutnya sebagai guru mereka, tetapi dari mulut Tuhan sendiri. Yohanes tidak mau para muridnya hanya melihat “telunjuk” yaitu dirinya sendiri hingga tidak mampu menatap keagungan “rembulan” yaitu Yesus, Allah dan Tuhan. Yohanes menjalankan tugas perutusannya secara total: semua orang hendak ia bawa kepada Tuhan, termasuk juga para muridnya. Ia sadar bahwa dirinya hanyalah sarana untuk membawa orang sampai kepada Tuhan, agar tergenapilah seruan Allah melalui nabi Yesaya: Berpalinglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan, hai ujung-ujung bumi! Sebab Akulah Allah dan tidak ada yang lain (45:22).

Akulah Allah dan tiada yang lain : dengan beragam cara, ke empat Injil ingin membawa orang untuk percaya bahwa Yesus dari Nazaret adalah Tuhan, Yahweh, Adonai, Sang Mesias, Anak Manusia, yang disembah sekaligus yang datang untuk membawa keselamatan bagi dunia. Yohanes Pembaptis menyerahkan semua yang ada pada dirinya agar hal ini terwujud. Panggilan Yohanes Pembaptis adalah panggilan setiap murid Tuhan. Kendalanya adalah : dalam kehidupan harian, banyak orang cenderung mencari perhatian untuk dirinya sendiri. Padahal, orang akan bahagia bukan ketika dirinya sendiri senantiasa jadi pusat perhatian banyak orang, tetapi ketika dia semakin terbuka untuk menjadi alat di tangan Tuhan. Di sinilah prinsip salib-kebangkitan memainkan peranan : barangsiapa ingin menyelamatkan nyawanya ia akan kehilangan nyawanya ; barangsiapa mengejar kepentingan dirinya sendiri tidak akan menemukan kebahagiaan yang dicari tetapi barangsiapa berjuang demi tujuan lain yang lebih mulia justru akan menerima apa yang dirindukan setiap hati. Ada banyak jalan untuk melatih diri agar jadi pemancar yang berkualitas tinggi sehingga gelombang kasih Allah dapat diterima oleh « HP » rohani banyak orang : berani memilih pekerjaan yang sulit ; semakin sedikit membicarakan diri sendiri ; semakin sedikit membicarakan orang lain ; semakin tidak mau mencampuri urusan pribadi orang lain ; tidak takut menerima caci ; tidak lupa diri menuai puja-puji. Ini yang diajarkan Ibu Teresa dari Kalkuta.

Tuhan Yesus memberkati dan Bunda Maria melindungi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s