Padang Gurun

Kamis 16 Desember 2010

Yes 54:1-10, Mzm 30:2,4,5-6,11-12a,13b, Luk 7:24-30

Ibu Teresa yang kelahiran Albania, suatu kali hendak pulang menengok keluarganya. Akan tetapi, diktaktor yang berkuasa melarangnya untuk masuk kembali ke Albania. Dengan demikian, rencana Ibu Teresa untuk melepas rindu pada keluarga gagal sudah. Waktu pun berlalu dan di satu waktu, Ibu Teresa mencoba kembali untuk pulang ke Albania. Kali ini, Ibu Teresa mendapat ijin untuk pulang kembali. Sang diktaktor yang dulu melarangnya sudah lama mati. Tiba di tanah kelahirannya, Ibu Teresa pun tidak melewatkan kesempatan untuk mengunjungi makam kedua orang tuanya, untuk berdoa dan meletakkan karangan bunga. Di tengah perjalanan, beliau melewati makam sang diktaktor yang dulu melarangnya pulang. Beliau pun berhenti, lalu berjalan ke arah makam sang diktatktor, berdoa dan meletakkan karangan bunga di sana, lalu melanjutkan perjalanan ke makam kedua orang tuanya, dengan tangan hampa.

Injil hari ini melanjutkan permenungan hari kemarin tentang tokoh Yohanes Pembaptis. Pesan Injil hari ini dapat dirangkum sebagai berikut : dalam Allah harapan tiada akan pernah musnah. Dalam pengajaranNya, Tuhan Yesus membandingkan antara istana raja dan padang gurun. Yang menarik adalah kenyataan ini : suara Allah yang memberi kehidupan, melalui suara nabi utusanNya, tidak ditemukan di istana raja tetapi di padang gurun. Dalam Injil Lukas, padang gurun disebutkan beberapa kali. Di satu sisi, padang gurun adalah tempat tinggal penguasa kegelapan dan para pengikutnya (Lk. 8 :29, tentang orang yang kerasukan setan). Tetapi, di padang gurun juga Yohanes menyerukan pertobatan dan membaptis orang (Lk.3 :4) ; di padang gurun Yesus berdoa (Lk. 5 :16) ; di padang gurun Yesus melipatgandakan rôti (Lk.  9 :12). Singkat kata, padang gurun, yang dulu tempat tanpa kehidupan, kegelapan dan kematian, sejak kedatangan Yesus, khususnya ketika Ia berhasil melewati cobaan di padang gurun (Lk. 4 :42), menjadi tempat pembaruan hidup, tempat berjumpanya Allah dan manusia, titik awal suatu kehidupan baru, suatu harapan baru. Ada jejak-jejak kisah sengsara dan kebangkitan Tuhan di sini : dari padang gurun (simbol kematian) mengalir air pembaptisan (simbol kehidupan baru) ; dari kematian terbit kebangkitan untuk seluruh ciptaan.

Padang gurun Yahudi juga dapat ditemui dalam zaman modern sekarang ini. Banyak orang bilang, abad teknologi saat ini adalah padang gurun bagi orang beriman, sebab semakin sedikit orang yang sungguh percaya pada Tuhan dalam batinnya. Bisa jadi tempat beribadah dipenuhi, tetapi dapat ditanya apakah Tuhan sungguh diberi tempat di dalam hati. Ketika suara kenabian yang mengundang orang untuk merindukan Allah dibungkam, harapan manusia pun di bawah ancaman kematian. Padang gurun rohani ini juga ditemukan dalam bentuk lain : dendam, benci, rasa curiga, saling menghakimi. Tetapi, ini hebatnya Tuhan kita : dalam Dia kebencian akan berubah menjadi cinta ; dendam menjadi pengampunan ; keputusasaan jadi harapan ; kematian jadi kehidupan. Dalam kisah di atas, Ibu Teresa mengalami sendiri perubahan itu : dari padang gurun hidup rohaninya (50 tahun ia tidak mengalami penghiburan rohani), mengalir pengampunan dan kasih luar biasa. Mari berjalan tegak, tanamkan di hati dengan penuh keyakinan, bahwa kita tidak dipanggil pada kematian tetapi kehidupan ; pada kasih dan bukan benci ; pada harapan dan bukan keputusasaan, sebab kasihNya pada kita tidak akan pernah goyah: Sebab biarpun gunung-gunung beranjak dan bukit-bukit bergoyang, tetapi kasih setia-Ku tidak akan beranjak dari padamu (Yes. 54: 10).

Tuhan Yesus memberkati dan Bunda Maria melindungi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s