Harapan

Kamis 23 Desember 2010

Hari Biasa Khusus Adven

Mal 3:1-4,4:5-6, Mzm 25:4b-5b,8-9,10-14, Luk 1:57-66

Di tahun 40 an dulu, di masa perjuangan, seruan « Berani Mati » berhasil memompa semangat juang banyak orang untuk membebaskan bangsa dari belenggu penjajahan. Di jaman ini, seruan itu harus diganti sebab kematian tidak lagi « menakutkan » ; justru kematian, dalam arti yang seluas-luasnya, tidak saja menjadi pilihan tetapi juga ladang bisnis dan sumber penghidupan. Lihat saja bagaimana kematian itu menjadi pilihan di jaman sekarang : pengguguran kandungan menjadi ladang bisnis yang menggiurkan ; perdagangan senjata merupakan salah satu dari tiga kegiatan bisnis dunia yang paling menguntungkan ;  belum lagi « kematian-kematian » passif dalam bentuk kurangnya penghargaan atas kehidupan yang semakin hari semakin beragam perwujudannya mulai dari kecanduan, perusakan lingkungan, konflik dalam keluarga, antar warga, antar umat beragama, sampai antar bangsa ; dan juga kematian aktif dalam wujud bunuh diri yang tampaknya tidak berkurang. Almarhum Paus Yohanes Paulus II menamakan situasi jaman seperti ini dengan sebuatan : budaya kematian.

Dari mana kematian dimulai ? Hilangnya harapan laksana sang Senja kala yang mendahului gelapnya malam kematian. Inilah benih kematian itu : tiada harapan, tiada cita. Sebaliknya, adanya harapan, sekecil apa pun, adalah denyut kehidupan : di mana ada kehidupan di situ ada harapan, dan sebaliknya di mana ada harapan di situ ada kehidupan. Maka di jaman « budaya kematian » seperti sekarang ini, perlu diteriakkan semboyan « Berani berharap » yang sama dengan « Berani hidup ». Harapan adalah fajar bagi hari terang kehidupan.

Nada pengharapan dan kehidupan inilah yang menyeruak dari kisah kelahiran Yohanes Pembaptis dalam Injil hari ini. Ada jejak-jejak harapan dari kelahirannya sebab Yohanes Pembaptis lahir dari ibunya, Elizabet, yang divonis mandul (Luk. 1 :36). Dari Batang yang sudah mati, masih dapat tumbuh sebuah tunas baru. Inilah karya Allah, karya penuh harapan, karya pembawa kehidupan. Tetapi, kisah kelahiran Yohanes Pembaptis baru sebuah permulaan untuk sebuah kisah yang jauh lebih agung lagi. Kelahiran Yesus, akan lebih dasyat lagi : jika Elizabet yang mandul dapat melahirkan seorang anak, Maria yang tidak mandul melahirkan seorang anak tanpa campur tangan manusia, tetapi berkat daya Roh Kudus. Dari tanah yang murni, tumbuh tunas baru. Kisah Natal, sungguh sebuah rangkaian kisah kemenangan harapan atas keputusasaan, kehidupan atas kematian.

Harapan laksana terang lilin kecil penuntun dalam hati manusia yang kerapkali diterkam kegelapan. Masa-masa penantian perayaan kelahiranNya adalah masa-masa latihan untuk percaya bahwa segelap apa pun hati dan hidup manusia, di sana senantiasa ada terang yang menyala ; jika sebuah pintu tertutup di satu bagian, di bagian lain selalu ada pintu atau jendela yang terbuka. Masa adven, adalah masa latihan untuk mau berjalan mengikuti terang itu ; untuk berjalan dan melihat pintu yang terbuka itu. Konkritnya : selalu mau bangkit kalau jatuh dalam setiap hal. Kesalahan dan kegagalan bukan sekedar untuk disesali tetapi menjadi cara Tuhan memurnikan hati : Dia datang laksana api pemurni Perak (Mal. 3 :2-3). Biar orang berkata : kau sudah jatuh ribuan kali ; asal kita tetap menjawab, ya aku jatuh ribuan kali, tetapi aku bangkit dan berjalan ribuan kali kembali.

Tuhan Yesus memberkati dan Bunda Maria melindungi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s