Sederhana

Sabtu 1 Januari 2011

HARI RAYA SP MARIA BUNDA ALLAH

Bil 6:22-27, Mzm 67:2-3,5,6,8, Gal 4:4-7,  Luk 2:16-21

Apa itu kesederhanaan ? Sederhana berarti tidak berlebihan, tidak rumit. Sederhana berarti ringkas dan tepat sasaran.

Natal kali lalu, saya berjumpa dengan pengalaman kesederhanaan. Sehabis misa malam Natal, saya dan kedua teman saya, yang satu pastor dari Pangkalpinang dan yang lainnya dari Palembang, hendak pulang ke âsrama dengan naik Metro. Kami lihat yang mengemudikan Metro yang akan kami naiki malam itu adalah seorang ibu-ibu.

Merebaklah sebuah diskusi di antara kami bertiga tentang  betapa kesepiannya ibu-ibu ini karena tidak merayakan malam Natal bersama keluarga di rumah. Teman yang satu berkata, « Lihat, untuk mengantar kamu, ibu ini mau berada jauh dari keluarga ». Saya pun menanggapi,  « Apa kamu yakin dia sudah berkeluarga ? Sudah punya suami atau anak ? Bagaimana kalau dia hidup sendiri ? » Dan bahan pembicaraan pun semakin luas dan panas.

Kami pun tiba di stasiun tujuan. Pintu Metro terbuka. Saya dan lawan diskusi saya masih terus berdebat. Tetapi satu pastor yang sejak tadi diam memisahkan diri dari kami berdua dan mengambil arah yang berbeda… dia menghampiri ibu-ibu pengemudi Metro, melemparkan seulas senyum dan melambaikan tangan. Dari balik punggung teman saya itu, saya melihat senyuman lebar penuh ketulusan dari si ibu sebagai balasannya. Dan senyum itu begitu menyentuh hati saya. Luluh sudah semua perdebatan rumit oleh satu tindakan senyuman yang menghibur hati.

Natal adalah kesederhanaan : Allah yang menjadi sederhana. Sementara manusia berdebat soal penderitaan, berdebat soal âgama yang benar, berdebat soal langit dan bumi, surga dan neraka, Allah turun menjadi manusia dan tinggal di tengah-tengah kita (Yoh. 1 :14). Ia bahkan disebut sempat disebut sebagai « bayi » (Lk. 2 :16), golongan manusia paling lemah, yang tergantung dari orang lain, yang ringkih dan membutuhkan kehangatan kasih orang lain. Inilah kesederhanaan Allah : bahasa Allah adalah bahasa hati bukan semata bahasa akal. Senyum dan tatapan seorang bayi membungkam perdebatan canggih tentang kemanusiaan. Senyum dan tatapan bayi menembus hati setiap mahluk insani.

Kalau hari ini kita merayakan Hari Raya Perawan Maria Bunda Allah, kita diingatkan akan keserdahanaan Allah ini. Allah yang mau menjadi sederhana dengan menjadi manusia. Dan Bunda Maria, Bunda Yesus, tepat disebut Bunda Allah (Konsili Efesus 431).

Kerumitan berlogika dapat menjadi pelarian untuk menghindari pertobatan, untuk menghindari tindakan nyata, untuk menjadi malas. Sebaliknya, kesederhanaan membutuhkan keberanian : berani untuk melihat dan menerima bahwa setiap orang adalah manusia lemah. Dan menariknya, kesimpulan sederhana ini justru menjadi pintu bagi masuknya kekuatan ilahi, kekuatan Allah yang menjadi manusia. Tinggalkan mimpi-mimpi dan bayangan palsu tentang citra diri kita, yang berwujud pujian, gelar, prestasi dan sebagainya. Mulai dari titik paling sederhana : aku manusia biasa, dengan kelemahan dan kekuatan dan sungguh mati, aku dicintai Tuhan. Pujian dan Makian tidak akan mengubah kenyataan sederhana ini. Selamat Tahun Baru.

Tuhan Yesus memberkati dan Bunda Maria melindungi

 

Satu pemikiran pada “Sederhana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s