Terminal Bis

Selasa 4 Januari 2011

Elisabeth Anna Bayley Seton, Angela dr Foligno

1Yoh 4:7-10, Mzm 72:2,3-4ab,7-8,  Mrk 6:34-44

Terminal bis dan stasiun kereta adalah beberapa tempat yang kurang begitu saya suka. Keramaian dan hiruk pikuknya bisa merampas rasa aman. Lebih enak ada di rumah. Apa lagi waktu kecil dulu, saya sering ketakutan kalau harus melintasi terminal bis di hadapan moncong-moncong bis kota yang besar-besar itu. Saya bertanya, apa jaminan bahwa saya tidak akan ditabrak dan digilas mobil-mobil raksasa ini ? Semua seolah terjadi tanpa aturan.

Yang lebih tidak menyenangkan lagi adalah di halte bis kota khususnya, saya harus sudah tahu tujuan. Tanpa tahu ke mana saya akan pergi, sia-sia berada di terminal. Tanpa tahu bisa nomer berapa yang harus saya ambil, saya merasa seperti anak hilang.

Di zaman Yesus, bangsa Israel seperti orang yang berada di terminal bis tanpa tahu ke mana harus pergi, bis nomer berapa yang harus diambil. Tidak ada peta, tidak ada tuntunan. Tanah Israel berada di lintasan jalur perdagangan dan karena itu jalur militer internasional yang menghubungkan kekaisaran Mesir dengan kekaisaran Persia. Bukan hanya barang dagangan dan kereta perang yang kerap melintasinya, tetapi juga ide dan gagasan, gaya hidup, juga ramai melintasi bangsa Israel. Tanpa prinsip dan tuntunan yang pasti, bangsa Israel seperti « domba yang tidak mempunyai gembal» (Mt. 6 :34).

Keadaan itu yang menggerakkah hati Yesus. Ia pun mulai memberi tuntunan, « mengajarkan banyak hal » kepada orang banyak itu (yang menurut bacaan terdahulu bukan saja orang Yahudi tetapi juga ada orang dari Dekapolis, orang seberang sungai Yordan, orang Libanon, orang Siria). Yesus menjadi gembala mereka semua.

Penggadaan rôti yang Yesus buât dalam konteks penggembalaan ini mengingatkan orang pada perjamuan ekaristi, pada perjamuan menjelang orang Israel keluar dari Mesir, pada figur Musa. Ya, Yesus adalah Musa baru, Dia yang lebih besar yang pernah dijanjikan Allah untuk menuntun umat baru.

Jaman kita sekarang ini rasanya tidak jauh berbeda dengan jaman orang Israel waktu itu. Banyak berita, gagasan, barang melintasi kehidupan kita setiap hari. Cukup buka komputer yang terkoneksi dengan internet, atau bahkan cukup buka HP berinternet, « dunia berada dalam genggaman kita ». Tetapi betapa sering kali kita merasa seperti « anak hilang di terminal » karena tidak punya tujuan jelas di tengah arus kesibukan ini. Kegagalan kecil atau tidak terpenuhinya angan dapat memicu rasa hampa yang mendalam. Kita butuh gembala. Kita sedang berada di dalam « perjalanan » bersama. Ekaristi adalah santapan peziarah, yang sedang berjalan ke tujuan tertentu, bukan santapan orang yang merasa sudah mapan.

Mari terus berjalan, terus bangkit, terus terbuka untuk berubah seperti yang Tuhan harapkan. Mari kita ikuti sang Gembala kita.

Tuhan Yesus memberkati dan Bunda Maria melindungi

2 pemikiran pada “Terminal Bis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s