Seri 1_KEKAISARAN ROMAWI DAN KEHAUSAN ROHANI WARGANYA

PENGANTAR

Ada sebuah ambisi untuk merangkum satu buku yang menurut saya menarik dan membantu untuk dapat memahami sejarah pembentukan ajaran Gereja di abad-abad pertama. Buku ditulis oleh JND Kely yang dicetak pertama kali tahun 1958 dan masih terus dicetak sampai sekarang. Melalui buku ini, orang dapat menelusuri lika-liku terciptanya perbedaan antara tradisi tak tertulis dan kitab suci sebagai jalan untuk sampai pada perwahyuan; perdebatan teologis tentang keilahian Yesus dari Nazaret, dan kisah di balik empat konsili ekumenis pertama. Pembahasan ini mengambil rentang waktu antara tahun 150 sampai 450 dalam masa hidup Gereja. Artikel ini adalah seri pertama dari rangkaian rangkuman yang dimaksud.

___________________________________________________

 

Di akhir abad pertama, dunia Yunani-Romawi adalah dunia yang haus akan kerohanian. Sebenarnya, kehausan rohani ini dapat ditemukan di segala zaman, karena berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan dasar manusia : adakah kepastian di masa depan selain kematian, mengapa ada kejahatan, bagaimana mengendalikan keinginan liar dalam diri sendiri, bagaimana bersatu dengan yang ilahi, dan seterusnya. Agama-agama lama tidak lagi memberikan kepuasan : dewa-dewi Yunani-Romawi semakin kehilangan pengaruh di dalam kehidupan nyata masyarakat. Sementara itu, âgama resmi Negara yaitu penghormatan kepada kaisar terbatas pada upacara resmi dan tidak menyentuh pikiran, batin, dan perasaan orang banyak.

Di tengah padang gurun rohani macam ini, beberapa jalan keluar ditawarkan.

1. Agama-agama Rahasia dari Timur

Disebut âgama-agama rahasia karena untuk dapat menjadi pengikut âgama-agama dari Timur ini, orang harus menjalani upacara inisiasi yang hanya dapat dihadiri oleh para anggotanya. Upacara inisiasi ini biasanya melambangkan keselamatan, yaitu perjalanan rohani dari kematian untuk masuk ke dalama keabadian. Beragam simbol, rumusan, dan perilaku diatur dan dilaksanakan dengan teliti agar upacara inisiasi ini menciptakan perasaan ‘dilahirkan kembali’ serta perasaan ‘bersatu dengan yang ilahi’ di dalam diri anggota baru. Contoh : dalam upacara untuk dewa-dewi Cybele dan Attis, calon anggota harus menjalani semacam ‘baptisan’ dalam darah seekor banteng (taurobolium) yang disembelih di atasnya dan sebagai hasilnya ia merasa dihidupkan dan dilahirkan kembali. Semakin jelas bahwa âgama-agama rahasia dengan beragam upacaranya ini bertujuan : memuaskan rasa haus akan pengalaman rohani serta menyingkirkan rasa bersalah dan rasa takut.

2. Filsafat Yunani-Romawi

Jika upacara âgama-agama rahasia memuaskan perasaan orang kebanyakan, filsafat Yunani-Romawi adalah jalan rohani bagi segelintir kaum intelektual yang mencoba memahami kehidupan manusia secara mendalam. Tiga aliran filsafat Yunani-Romawi yang punya pengaruh besar

  • Platonisme : tokoh utamanya adalah Plato (429-347 SM). Gagasan utamanya ditemukan dalam teorinya tentang ‘pengetahuan.’ Menurutnya ada dua macam pengetahuan : pengetahuan palsu dan pengetahuan sejati. Pengetahuan palsu berasal dari panca indra yang menyajikan keberagaman mahluk yang terus berubah. Sedangkan pengetahuan sejati datang dari pikiran yang dapat menemukan kesamaan ciri dibalik keberagaman dan ciri ini bersifat tetap. Singkat kata, menurut Plato, yang benar itu  berasal dari pikiran, bersifat sama-tunggal dan tetap. Bagaimana dengan pikirannya manusia dapat menemukan yang sama di balik keberagaman, dan yang tetap di balik segala yang berubah ? Menurut Plato hal ini mungkin terjadi karena alam ini dibagi menjadi dua dunia : dunia lahiriah yang tertangkap panca indra dan dunia gagasan yang hanya dapat ditangkap oleh pikiran. Dunia panca indra sebenarnya hanyalah bayang-bayang dari dunia gagasan. Pikiran manusia dapat menemukan yang sejati di balik bayang-bayang ini karena sukma atau rohnya berasal dari dunia gagasan. Sebelum dilahirkan ke dunia, roh manusia tinggal di dunia gagasan dan mengenal semua gagasan sebagai wujud sejati segala ciptaan. Maka, ketika di dunia jasmani ia melihat, misalnya, seekor kuda hitam yang besar, pikirannya menemukan gagasan kekuatan di balik tubuh kuda yang besar dan gagasan kekuatan ini tidak akan berubah-ubah walau tubuh kuda yang kelihatan itu akan berangsur-angsur melemah. Dari teorinya tentang pengetahuan ini, Plato memahami manusia sebagai mahluk yang terbagi dua : mahluk jasmani dan rohani. Jika pengetahuan sejati berasal dari pikiran, demikian juga bagian sejati manusia adalah rohaninya atau sukmanya. Sukma ini tidak berasal dari dunia jasmani tetapi dari dunia gagasan. Sedangkan jasmani hanyalah ‘fotocopy’ atau bayang-bayang dari rohnya. Kebahagiaan manusia, dengan demikian, terletak pada pembebasan rohani dari jasmani. Roh atau sukma manusia itu sendiri punya tiga bagian : bagian ‘rasional’ yang menuntun orang menemukan kebenaran sejati ; bagian ‘kejiwaan’ yang menjadi tempat beragam perasaan ; dan bagian ‘keinginan’ yang mendorong orang untuk mencari kepuasaan jasmani. Aspek teologis dari teori pengetahuan Plato : ada dua prinsip keilahian : yang pertama adalah dunia gagasan dan yang kedua adalah ‘pencipta’ segala yang bersifat jasmani (Demiurge). Dunia gagasan tidak tersentuh oleh dunia jasmani karena dunia jasmani diciptakan oleh Demiurge. Dan si Demiurge ini juga tidak bersentuhan langsung dengan dunia jasmani karena ia menciptkan dunia Roh atau Sukma berdasarkan apa yang ia renungkan dari dunia gagasan. Dunia Roh inilah yang kemudian menyusun dan menggerakkan dunia jasmani.
  • Stoisme : tokoh utamanya adalah Zeno (300 SM).  Pemikiran teologis stoa : seluruh kenyataan pada dasarnya bersifat jasmani. Ada dua jenis jasmani atau materi : jenis pertama adalah materi yang pasif, tanpa bentuk dan tujuan ; jenis yang kedua adalah materi yang aktif, yang berbentuk dan punya rencana (logos)  di dalamnya. Materi jenis kedua ini disebut roh atau sukma (pneuma) : inilah Jiwa alam semesta. Alam semesta dirasuki oleh sukma atau roh atau pneuma ini seperti tubuh manusia dirasuki oleh kesadaran. Menurut pemikiran Stoa, manusia juga terdiri dari dua jenis materi, yaitu materi aktif dan materi pasif. Tubuh atau raga adalah materi pasif dan roh atau sukma adalah materi aktif yang disebutnya benih logos (logos spermatikos) atau pecikan logos karena berasal dari logos semesta. Hidup berdasarkan logos semesta berarti hidup mengikuti aturan alam yang tertanam dalam sukma sebagai percikannya.
  • Neo-platonisme : tokoh utamanya Plotinos. Ajarannya : Alam semesta tersusun dalam hirarki dengan Sang Tunggal, Allah, di puncaknya. Allah tidak dapat disentuh oleh segala mahluk ciptaan termasuk juga oleh pikiran. Segalanya berasal dari Allah dengan cara ‘emanasi’ : laksana matahari yang mengeluarkan sinar dan panas tanpa mengalami kekurangan apa pun, demikian juga segala mahluk keluar dari Allah tanpa mengurangi sedikit pun jati diriNya. Mahluk pertama yang keluar dari emanasi Allah adalah Pikiran yang di dalamnya ada Dunia Gagasan. Pikiran merenungkan Dunia Gagasan agar dapat sampai kepada Allah. Pada tahap ini, keragaman mulai masuk ke dalam kenyataan. Dari pikiran (sejajar dengan Demiurge) keluar Sukma yang terbagi dua : Sukma Tinggi yang sama sekali tak tersentuh jasmani, dan Sukma Lebih Rendah atau Alam (fusis) yang berhubungan langsung dengan segala mahluk ciptaan. Karena berasal dari Sukma, setiap manusia juga memilliki dua macam sukma atau roh di dalam dirinya, yang lebih tinggi dan yang lebih rendah. Jasmani belaka atau materi yang tidak bersukma adalah kegelapan dan jahat. Kesimpulannya :

§  Plotinus memandang alam semesta ini baik, karena berasal dari Sang Tunggal.

§  Semua yang berasal dari Sang Tunggal dibakar oleh kerinduan untuk kembali bersatu dengannya. Ada tiga tahap untuk sampai pada persatuan itu: tahap pertama adalah pemurnian, yaitu ketika sukma dibersihkan dari segala yang bersifat jasmani ; tahap kedua adalah pemikiran, yaitu ketika pikiran disibukkan oleh segala pengetahuan filosofis ; dan tahap ketiga adalah mistik , yaitu ketika orang mengalami kesatuan dengan Sang Tunggal.

3. Manikheisme dan Gnosisisme

Manikheisme dan Gnosisisme perlu disebut karena aliran kerohanian ini punya pengaruh kuat di dalam Kekristenan pada saat itu. Santo Agustinus dulunya adalah pengikut Manikheisme dan Clemens dari Alexandria pun menyebut orang-orang Kristen yang memadukan ajaran Kristus dan filsafat sebagai ‘gnostik.’

  • Manikheisme : aliran ini didirikan oleh seroang nabi yaitu Mani yang dilahirkan di Babilonia (216 M) dan mati karena kepercayaannya (277 M). Ajarannya didirikan di atas keyakinan bahwa dalam semesta ini bertarung dua kekuatan, Yang Baik (Allah, Terang, Kebenaran), yang dihubungkan dengan kerohanian dan Yang Jahat (Iblis, Kegelapan, Kepalsuan) yang dihubungkan dengan segala yang bersifat jasmani. Manusia berada di antara kedua kekuatan ini : di satu sisi, roh atau sukmanya adalah percikan dari Yang Baik tetapi di sisi lain raganya adalah milik Yang Jahat. Keselamatan berarti membebaskan yang rohani dari yang jasmani dan proses itu dimulai dengan mengenal jati diri ilahi di dalam dirinya melalui proses inisiasi ke dalam aliran manikheisma ini.
  • Gnosisisme : secara ringkas, aliran ini memiliki beberapa ciri berikut. Ciri pertama, aliran ini bersifat dualistik yaitu memisahkan dunia rohani dari dunia materi yang dicap jahat. Ciri kedua, karena ada dua dunia, demikian juga ada dua pencipta : dunia materi tidak diciptakan oleh Allah tetapi oleh kekuatan lain yang berlawanan dengan Allah. Ciri ketiga, aliran ini memandang manusia sebagai roh atau sukma yang terpenjara di dalam raga dan minta dibebaskan. Ciri keempat, aliran ini memandang keselamatan sebagai pembebasan sukma manusia dari penjara raga melalui pengetahuan yang sejati tentang siapa itu diri manusia, dari mana dia datang, mengapa ia sampai menjadi seperti sekarang, dan siapa itu Allah. Pengetahuan ini hanya dapat dibawa oleh utusan Allah yang datang dari Surga : dialah yang akan membuka mata rohani setiap manusia sehingga dapat lepas dari penjara raga.

 

Kesimpulan :

§  Kehausan manusia akan kerohanian merupakan tanda bahwa manusia bukanlah sekedar mahluk jasmani yang puas kalau segala kebutuhan materinya dicukupi. Kehausan rohani ini memiliki banyak aspek, salah satunya yang bersifat emosional – intelektual. Kebutuhan emosional dari kehausan rohani, bagi sebagian besar orang yang hidup di bawah pengaruh kekaisaran Romawi abad-abad pertama, dipuaskan oleh beragam upacara dalam âgama-agama rahasia. Sementara aspek intelektualnya tercermin dari aliran-aliran filsafat yang berupaya menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar manusia.

§  Ada satu ciri umum dari rangkaian jawaban rohani ini, baik yang bersifat emosional maupun intelektual yaitu pemisahan antara roh atau sukma yang dicap baik dan raga yang dicap kurang baik atau bahkan dicap jahat. Segala yang bersifat pikiran, rohani, perasaan, pokoknya yang bukan jasmani, diutamakan sementara raga atau jasmani atau materi diabaikan bahkan bila perlu dimusnahkan.

§  Dalam rangka menjawab kebutuhan rohani orang pada jaman itu, ajaran Kristen berhadapan dengan dua kutub : di satu sisi mengikuti selera pasar dengan menawarkan jawaban yang memuaskan secara emosional dan intelektual supaya tetap bisa bersaing dengan jawaban lainnya, di sisi lain harus setia pada ajaran Yesus yang diteruskan oleh para rasulNya. Tegangan inilah yang nantinya melahirkan kreativitas teologis dalam kurun waktu akhir abad pertama sampai pertengahan abad kelima. Dalam masa ini, ajaran iman baku kekristenan dirumuskan sebagaimana kita temukan dalam bentuk Credo : Aku Percaya….

§  Relevansi : berkaca dari pengalaman masa lalu bisakah kita di masa kini membandingkan devosi dalam Gereja Katolik sebagai jawaban yang berunsur emosional atas kehausan rohani umat beriman dan teologi sebagai jawaban yang beraspek intelektual? Dapatkah kita temukan di jaman ini, unsur-unsur yang mirip dengan beragam jawaban masa lalu yang menomorduakan jasmani dan mengutamakan rohani, mengandalkan kekuatan pikiran dan pengetahuan untuk sukses dan selamat ?  Bagaimana para murid Kristus dapat memberikan jawaban yang memuaskan sambil tetap berpegang pada ajaran iman yang sejati ? Jawabannya ditemukan dalam artikel berikutnya.

 

(sumber : JND Kelly, Early Christian Doctrines, Continuum 2000, hlm. 3-28)

Satu buku tambahan yang kiranya menarik untuk menambah wawasan berkaitan dengan bagian ini:

Jon Davies, Burial, Death, dan Rebirth in the Religions of antiquity, Routledge 2002

 

Iklan

2 pemikiran pada “Seri 1_KEKAISARAN ROMAWI DAN KEHAUSAN ROHANI WARGANYA

  1. Hi.. Mo Ut..

    Pa Kabar??
    Baik-baik aja kan??
    uda turun gunung..??
    bertapanya lama amat..??

    ini hasil pertapaannya yach.. Mo…

    saya ampe bingung bacanya…
    panjang amat…
    tapi bagus Mo… menambah pengetahuan kita lagi…
    hehehehe….

    oh yach.. Mo..

    Gong Xi Fa Cai Mo…
    Xin Nien Kuai Le..
    tambah sukses ya Mo…
    angpaonya mana..???

    :)))

    Tuhan Yesus Memberkati
    Bunda Maria Melindungi
    Bapa Yusuf Mendampingi

    Amien

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s