Seri 2a_ Kitab Suci dan Tradisi

Sumber iman Kristen :  tahun 150-an

Sumber tertinggi iman Kristen adalah Allah yang mewahyukan diriNya pertama-tama melalui perantaraan para nabi dan ahli hukum suci dan kemudian perwahyuan itu mencapai puncaknya dalam pribadi Yesus Kristus yang mengutus para muridNya sebelum naik ke surga. Untuk sampai pada sumber iman ini, umat Kristen di paruh pertama abad pertama memiliki dua jalan yang aman : Kitab Suci Perjanjian Lama dan kesaksian para rasul. Kepada umat di Filipi, Polycarpus[1] mengajarkan untuk ‘menerima Kristus sendiri sebagai ukuran hidup mereka dengan bantuan para rasul yang mewartakan InjilNya dan para nabi yang menubuatkan kedatanganNya.’

Pada masa itu, satu-satunya Kitab Suci yang dimiliki umat Kristen adalah Perjanjian Lama. Beberapa catatan penting tentang Kitab Suci Perjanjian Lama ini :

  • Kitab Suci Perjanjian Lama adalah Kitab Suci milik para murid Yesus. Keyakinan Yustinus martir[2] bahwa Perjanjian Lama adalah Kitab Suci milik para murid Yesus dan bukan hanya milik orang Yahudi, adalah keyakinan yang umum diterima di kalangan umat Kristen saat itu.
  • Sebagai Kitab Suci umat Kristen, Perjanjian Lama dibaca dan dipahami secara Kristen pula. Artinya : di dalam Perjanjian Lama tersimpan janji-janji Allah kepada umat manusia yang nantinya dipenuhi oleh Yesus Kristus.
  • Cara membaca Perjanjian Lama secara demikian bukanlah rekaan atau ciptaan Gereja tetapi cara inilah yang diterapkan oleh para rasul dan para rasul belajar melakukannya dari Yesus sendiri (Yustinus martir).

Jika tulisan-tulisan yang sekarang ditemukan dalam Perjanjian Baru belum disejajarkan sebagai Kitab Suci, bagaimana Gereja pada masa itu dapat sampai pada fakta tentang diri, ajaran, dan tindakan Yesus ? Ketika Perjanjian Baru belum diangkat sebagai Kitab Suci, ‘kesaksian para rasul’ menjadi jalan untuk sampai pada pribadi, ajaran, dan perbuatan Yesus. Hermas[3] mengatakan bahwa : melalui para rasul, Putra Allah diwartakan ke seluruh dunia. ‘Kesaksian para rasul’ ini secara nyata berisi sekumpulan ajaran dan tindakan tertentu dalam kehidupan menggereja, yang terungkap dalam liturgi, pewartaan, ajaran untuk para calon baptis, dan juga dalam tulisan-tulisan yang nantinya bakal menjadi kitab-kitab Perjanjian Baru. Jadi, kesaksian para rasul lebih luas dari tulisan-tulisan yang sekarang ini kita temukan dalam Perjanjian Baru.

Beberapa catatan tentang hubungan antara Kitab Suci dan kesaksian para rasul pada masa ini :

  • Kitab Suci Perjanjian Lama dan kesaksian para rasul saling melengkapi. Apa yang dinubuatkan di dalam Perjanjian Lama menemukan pemenuhannya dalam kesaksian para rasul dan sebaliknya kesaksian para rasul dapat dipahami melalui Kitab Suci Perjanjian Lama.
  • Kesaksian para rasul ini masih belum disebut sebagai Tradisi dalam arti ajaran tak tertulis yang disampaikan Yesus melalui para rasulNya. Segala hal yang menyangkut kenangan para rasul tentang Yesus, baik tertulis maupun tak tertulis, disebut ‘kesaksian para rasul.’
  • Sudah mulai berkembang keyakinan bahwa para pewarta sabda dalam Gereja, berkat pencurahan Roh Kudus, secara ilahi menerima kuasa untuk menjaga dan meneruskan ‘kesaksian para rasul’ ini. Dalam surat kedua Clement[4] dinyatakan bahwa ketaatan mutlak kepada para imam didasarkan pada perutusan mereka untuk mewartakan iman, dan pewartaan mereka ini identik dengan pewartaan Kristus sendiri.

Kesimpulan :

  • Relasi Perjanjian Lama dan kesaksian para rasul begitu erat hingga orang Kristen tidak dapat memilih salah satu. Keduanya harus dipegang dan dihayati. Hal ini perlu ditekankan mengingat gejala ‘individualisasi’ hidup beragama saat ini. Artinya, ada bahaya orang Kristen tidak lagi punya pegangan yang jelas untuk imannya hingga mencari sendiri pegangan itu entah lewat buku-buku bacaan atau lewat internet. Ada semacam ‘supermarket’ âgama dan kepercayaan dan orang dapat memilih apa yang dia suka, sambil melupakan tradisi dan ajaran baku yang  sudah jelas teruji kebenarannya. Contoh paling konkret : buku Da Vinci Code. Sudah jelas buku ini adalah Novel, artinya karya fiksi – fantasi, tetapi mengapa menjadi begitu heboh (dan dari judulnya juga sudah salah, sebab da Vinci itu sendiri bukan nama orang tetapi menyatakan asal usul orang. Secara harafiah da Vinci berarti dari Vinci). Buku-buku lain pun hendak mendulang keuntungan yang sama dengan memanfaatkan ‘ketidaktahuan’ orang Kristen akan tradisinya sendiri : muncullah misalnya buku tentang dinasti Yesus, atau tentang makam Yesus, dan seterusnya.
  • Pertanyaannya : cintakah aku, atau sudah berusahakah aku untuk mengenal tradisi imanku sendiri ?

Sumber : JND Kelly, Early Christians Doctrines, Continuum 2000, hlm. 29-35


[1] St Polykarpus (65-155), uskup Symarna, murid Yohanes rasul (masuk dalam Para Bapak Apostolik), wafat sebagai martir.

[2] St Yustinus (103-165), salah satu pembela iman (apologetik) pertama, wafat sebagai martir di Roma.

[3] Tokoh dan penulis karya sastra Kristen, Hermas Penggembala, dari abad ke 2. Karya ini dianggap sebagai Kitab Suci oleh Irenius dan beberapa Gereja Ortodox terutama dalam abad ke 2 dan 3.

[4] Sebuah homili sangat tua yang tidak diketahui siapa penulis sesungguhnya. Disebutkan oleh Eusebius, sejarawan Gereja yang pertama.

Iklan

2 pemikiran pada “Seri 2a_ Kitab Suci dan Tradisi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s