Seri 2B_ Kitab Suci dan Tradisi

Irenius dan Tertulianus

Setelah tahun 150, ada perkembangan baru di dalam Gereja berkaitan dengan sumber ajaran imannya : pertama, beberapa tulisan yang dikaitkan dengan ingatan para rasul tentang Yesus Kristus dan ajaran hidup Kristen diangkat sebagai Kitab Suci. Maka, sejak saat itu Gereja memiliki Kitab Suci Perjanjian Lama dan Kitab Suci Perjanjian Baru. Kedua, pemahaman tentang kesaksian para rasul menjadi lebih jelas : mulai dibedakan antara kesaksian para rasul dalam bentuknya yang lisan, yang disebut tradisi dan dalam bentuknya yang tertulis, yaitu Kitab Suci Perjanjian Baru.

Perkembangan pemahaman ini didorong oleh perdebatan tentang ajaran iman antara Gereja dan gerakan Gnosis. Gerakan rohani yang mengajarkan keselamatan melalui pengetahuan ini mendapatkan pengikut dalam jumlah besar berkat kehebatan mereka dalam menafsirkan Kitab Suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dan juga berkat pernyataan bahwa mereka memiliki ajaran atau tradisi rahasia dari Yesus melalui para rasulNya. Di depan tantangan Gnosis, patut disimak ajaran Irenius[1] dan Tertulianus[2] tentang tradisi.

Beberapa butir penting ajaran Irenius tentang tradisi :

  • Sifat : pertama, tradisi bersifat umum dan terbuka hingga dapat ditemukan oleh siapa pun yang mencarinya. Kedua, tradisi bersifat lisan  atau tidak tertulis dan dibedakan dari kesaksian para rasul yang direkam dalam naskah-naskah tertulis. Karena disampaikan secara lisan, seperti yang dilakukan suku-suku pada waktu itu ketika menyampaikan aturan hidupnya, kesaksian para rasul ini disebut ‘tradisi yang hidup’.
  • Bentuknya : tradisi berwujud rangkuman ajaran para rasul dan menjadi semacam ‘ukuran kebenaran’ (canon) yang terungkap dalam beragam wujud dan rumusan dengan isi dan maksud yang sama.
  • Jaminan keabsahan : perwahyuan yang diterima oleh para rasul dari Tuhan Yesus terjaga hakikat dan keasliannya berkat pergantian para uskup yang tiada putus dan berkat Roh Kudus yang dicurahkan ke dalam diri mereka.
  • Relasi tradisi dan Kitab Suci : tradisi tidak bertentangan dengan Kitab Suci tetapi ditegaskan oleh Kitab Suci. Isi dan maksud tradisi sama dengan isi dan maksud Kitab Suci dalam bentuk yang lebih padat dan tegas.  Secara urutan waktu, tradisi (yang berbentuk lisan) adalah bentuk pertama kesaksian para rasul dan baru kemudian kesaksian ini ditulis baik oleh para rasul sendiri atau para muridnya. Oleh karena itu, kitab-kitab Perjanjian Baru memiliki wibawa karena dikaitkan dengan kesaksian para rasul.
  • Relasi dengan gerakan Gnosis : berhadapan gerakan Gnosis yang menafsirkan Kitab Suci menurut tujuan mereka sendiri, Irenius mengedepankan pentingnya tradisi sebagai kesaksian para rasul yang tak tertulis. Jika tafsiran berhadapan dengan tafsiran tidak akan ada habisnya. Itu sebabnya Irenius menghadapi tafsiran Kitab Suci menurut Gnosis dengan ‘tradisi hidup’ Gereja. Karena bentuknya yang lebih padat, tradisi menyediakan ajaran iman yang lebih terpercaya, bukan karena lebih tinggi posisinya dari Kitab Suci, tetapi karena lebih sulit untuk disalahtafsirkan. Lebih lanjut Irenius mengatakan bahwa penafsiran Kitab Suci yang benar adalah penafsiran yang memperhatikan Kitab Suci secara keseluruhan dan dilakukan dalam Gereja sebagai ‘kediaman Roh Kudus’. Berhadapan dengan pengakuan gerakan Gnosis akan tradisi rahasia yang mereka perolah dari para rasul untuk mendukung penafsiran Kitab Sucinya, Irenius menekankan tradisi umum dan terbuka yang jelas sumbernya dan dapat dipertanggungjawabkan.

Beberapa butir penting ajaran Tertulianus tentang tradisi :

  • Sifat : seperti Irenius, Tertulianus juga membedakan kesaksian para rasul yang bersifat lisan, umum dan terbuka dalam tradisi dan kesaksian para rasul yang tertulis dalam naskah-naskah Perjanjian Baru.
  • Bentuk : pada intinya, tradisi adalah perwahyuan yang disampaikan Tuhan Yesus kepada para rasul dalam bentuk ‘ajaran dan aturan pokok iman’ (regula fidei) yang menjelaskan inti iman Kristen tentang Allah Bapa, Yesus Kristus, dan Roh Kudus. Pokok iman inilah yang dapat dipakai untuk menentukan apakah seseorang itu sungguh beriman pada Yesus Kristus dan juga untuk menentukan penafsiran yang tepat atas Kitab Suci. Menurut Tertulianus, tradisi bukan sekedar ajaran pokok iman tetapi juga merangkum beragam kebiasaan yang hidup dalam Gereja seperti merayakan Ekaristi di pagi hari, membuat tanda salib, dan seterusnya.
  • Jaminan keabsahan : seperti Irenius, Tertulianus juga melihat pergantian para uskup yang tiada putus dengan daya Roh Kudus sebagai jaminan keaslian perwahyuan Kristus dalam tradisi. Lebih lanjut, Tertulianus menambahkan bahwa jaminan keabsahan tradisi sebagai saluran perwahyuan juga nampak dalam ‘kesepakatan pemahaman’ yang ada di antara para uskup yang sulit dijelaskan.
  • Relasi tradisi dan Kitab Suci : Kitab Suci tetap memiliki wibawa yang tak terbantahkan sebagai salurah perwahyuan ilahi : tidak ada tradisi yang bertentangan dengan Kitab Suci. Tetapi menurut Tertulianus, kesaksian para rasul tidak dibatasi oleh Kitab Suci. Baik tradisi maupun Kitab Suci adalah saluran perwahyuan dari satu sumber yang sama yaitu Kristu sendiri. Apa yang ditemukan dalam Kitab Suci dapat juga ditemukan dalam tradisi.
  • Berhadapan dengan Gnosis : melawan Gnosis yang mengakarkan ajarannya dalam penafsiran tertentu atas Kitab Suci, Tertulianus mendasarkan ajaran iman yang benar dalam tradisi yang disampaikan secara lisan dan memiliki bentuk yang padat, baku dan tegas hingga lebih sulit diperdebatkan dan tidak mudah pula disalahtafsirkan. Gerakan Gnosis melakukan kesalahan dalam menafsirkan Kitab Suci karena mereka tidak melihat Kitab Suci sebagai keseluruhan tetapi hanya bagian yang penting bagi gagasan mereka dan juga mereka tidak menggunakan tradisi atau regula fidei sebagai patokannya. Penafsiran Kitab Suci yang benar adalah hak istimewa Gereja dan hanya dilakukan dalam dan bersama Gereja. Berhadapan dengan pernyataan gerakan Gnosis bahwa mereka juga memiliki ‘tradisi rahasia’ dari para rasul, Tertulianus mengatakan bahwa tidak masuk akal kalau para rasul lupa dan tidak menyampaikan seluruh perwahyuan yang mereka terima dari Yesus sendiri. Karena itu, tradisi yang terbuka dan bersifat umum jauh lebih terpercaya karena sudah lengkap.

Kesimpulan :

  • Sudah sejak awal Gereja menghadapi beragam pernyataan yang mengakui memiliki ajaran atau kenangan tertentu tentang Yesus Kristus yang berbeda dengan versi resmi Gereja. Bagi Gereja, hal ini justru menjadi kesempatan untuk mempertajam penjelasan imannya. Perwahyuan Ilahi yang satu, yang dipercayakan Tuhan Yesus kepada para rasul, diungkapkan secara manusiawi dengan beragam cara dan ungkapan, dengan tuntunan Roh Kudus. Di jaman sekarang, hal yang sama juga masih kerap kita temukan. Kita ingat kasus Injil Barnabas, misalnya, yang menceritakan kisah hidup Yesus dari Nazaret yang berbeda dengan versi Injil-injil dalam Perjanjian Baru. Juga beredar gagasan bahwa naskah-naskah Laut Mati yang baru ditemukan memberikan sumber ajaran yang berbeda. Berhadapan dengan itu semua, ajaran Irenius dan Tertulianus perlu dingat kembali, terutama tentang tradisi yang memiliki jaminannya pada pergantian para uskup, kesamaan pemahaman di antara mereka, dan tuntunan Roh Kudus dalam pengajaran mereka.
  • Perlu semakin dihayati keseimbangan yang indah dan benar antara Kitab Suci dan tradisi. Dalam Kitab Suci kita berjumpa dengan Allah yang bersabda sementara dalam Tradisi kita berjumpa dengan Allah yang hadir dan bertindak di tengah umatNya. Liturgi, misalnya, adalah kehadiran Allah yang hidup.

[1] St Irenius: Uskup Lyon, salah satu Bapak-bapak Gereja, pernah menerima pengajaran dari St Polykarpus. Menulis banyak buku, terutama Adversus haereses

[2] Tertulianus: dilahirkan di Kartago sekitar tahun160. Ahli hukum dan penulis Kristen ternama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s