Seri 2c_Kitab Suci dan Tradisi

Pemahaman Tradisi abad 3,4, dan 5

Pada abad ke tiga dan keempat, dua perubahan penting dalam kehidupan Gereja memberikan pemahaman baru tentang tradisi. Kedua perubahan itu adalah : pertama, dengan berlalunya ancaman gerakan Gnosis, keengganan untuk langsung menggunakan Kitab Suci dalam perdebatan teologis, seperti yang dilakukan Irenius dan Tertulianus, juga telah berlalu. Kedua, seiring pertumbuhan sifat kelembagaan Gereja, pemahaman tentang tradisi juga semakin dalam dan nyata.

Bagi Gereja masa ini, sumber tertinggi ajaran iman tetaplah perwahyuan Kristus yang dipercayakan kepada rasulNya. Inilah yang disebut tradisi suci atau tradisi para rasul (paradosis, Yunaninya ; traditio, Latinnya). Tradisi Suci ini sampai kepada Gereja melalui dua saluran yaitu Kitab Suci, yang merekam kesaksian para rasul secara tertulis, dan Tradisi, yang merekam kesaksian para rasul melalui beragam ungkapan yang hidup dalam Gereja. Wibawa Kitab Suci sebagai ukuran kebenaran ajaran iman tidak perlu dipertanyakan dan wibawa Tradisi sebagai ukuran untuk menafsirkan secara benar isi Kitab Suci tidak dapat disangkal. Pemahaman ini masih berlangsung selama hidup dan karya Clemens dari Alexandria dan Origines, muridnya.

Setelah Clemens dari Alexandria dan Origines, ada beberapa perubahan penting menyangkut pemahaman Tradisi sebagai bentuk tak tertulis atas kesaksian para rasul. Kalau dulu, sejak dari masa Irenius dan Tertuilanus, Tradisi ini menemukan wujudnya pada apa yang disebut ‘ukuran kebenaran’ atau ‘aturan iman’, sekarang ada sarana lain yang lebih:

  • Liturgi : sejak abad ketiga, liturgi Gereja dapat dikatakan sudah menemukan bentuknya yang kurang lebih baku. Sejak saat itulah liturgi, khususnya ekaristi dan pembaptisan, dipandang juga sebagai ingatan para rasul yang diserahkan kepada Gereja. Itu sebabnya, kumpulan liturgi Gereja yang dihimpun oleh Hippolitus disebut ‘Tradisi Apostolik.’ Itu sebabnya juga Basilius menegaskan bahwa kesaksian para rasul juga disampaikan melalui perayaan iman selain melalui Kitab Suci, khususnya ketika ia membela keilahian Roh Kudus. Itu sebabnya, rumusan iman dalam Allah Tritunggal, yang pada mulanya adalah rumusan tanya-jawab selama upacara pembaptisan, dinamakan symbolum apostolorum atau simbol para rasul.
  • Rujukan pada ajaran para Guru dan Konsili : pada masa ini pula, Tradisi juga berarti ajaran para Guru yang dianggap berwibawa dan juga berarti keputusan yang diambil dalam konsili-konsili. Ketika berhadapan dengan bidaah Arianisme, Athanasius merujuk pada serangkaian guru dan bapak Gereja yang mewariskan ajarannya sementara aliran bidaah ini tidak dapat menentukan satu pun saksi yang layak diperhitungkan. Pada abad ke lima, tidak hanya para guru tetapi juga para pengganti mereka mendapatkan gelar formal sebagai penerus dan sekaligus saksi dari apa yang diajarkan oleh para rasul. Namun demikian, para guru dan pengajar serta penggantinya ini diterima sebagai pewaris tradisi para rasul bukan semata-mata karena kehebatan mereka sendiri tetapi terlebih karena kesetiaan mereka pada maksud Kitab Suci. Penafsiran mereka, secara mengagumkan, tidak bertentangan satu sama lain.

 

Akhirnya, perkembangan pemahaman tentang relasi antara Kitab Suci dan Tradisi dapat dilihat pada karya Vincensius dari Lérins berikut ini :

  • Ajaran Gereja yang bersifat umum dan berlaku di mana-mana ditemukan di dalam Kitab Suci dan Tradisi. Kitab Suci itu sendiri sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk memberikan apa yang diwahyukan Tuhan Yesus dan dipercayakan kepada para rasulNya. Namun demikian, karena Kitab Suci dapat ditafsirkan dengan beragam cara, diperlukan Tradisi yang hidup di dalam Gereja sebagai tolak ukur penafsiran Kitab Suci yang benar. Kedua saluran perwahyuan inilah yang akan memberikan ajaran yang dipercayai di manapun, kapanpun, dan oleh setiap murid Kristus (quod ubique, quod semper, quod omnibus creditum est).
  • Para bidaah dan penantang ajaran iman juga dapat menggunakan Tradisi secara semena-mena demi membenarkan ajaran mereka. Oleh karena itu, menurut Vincensius dari Lérins, diperlukan Konsili para uskup yang akan menentukan tafsiran yang benar atas Kitab Suci dan tradisi. Mengingat Gereja hidup dalam ruang dan waktu, ajaran iman yang sama harus dipahami dalam jaman yang berbeda-beda. Oleh karena itu, Konsili Suci juga memiliki wewenang untuk ‘mengungkapkan ajaran yang sama dalam rumusan dan pemahaman yang baru, dan bukannya menciptakan ajaran yang baru sama sekali’ (non nova, sed nove).

 

Satu pemikiran pada “Seri 2c_Kitab Suci dan Tradisi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s