Seri_3A Kitab Suci

Kitab Suci Perjanjian Lama

a. Abad pertama sampai abad ke dua

Selama abad pertama, Kitab Suci Perjanjian Lama adalah satu-satunya Kitab Suci Gereja. Para murid Kristus yang meyakini diri sebagai « Israel Baru » menemukan nubuat tentang Tuhan Yesus di setiap halamannya. Maka, kalau Yustinus martir misalnya menulis « seperti ada tertulis… », yang dimaksud adalah Kitab Suci Perjanjian Lama ini.

Namun demikian, ada perbedaan antara Kitab Suci Perjanjian Lama yang dipakai Gereja dan yang dipakai orang Yahudi di Palestina :

  • Yang dipakai Gereja adalah Kitab Suci Perjanjian Lama berbahasa Yunani seperti yang dipakai oleh orang-orang Yahudi di perantauan, yang sudah tidak tahu lagi bahasa Yahudi. Kitab Suci ini diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani di Alexandria pada abad ke tiga SM.
  • Sementara itu, yang dipakai oleh orang Yahudi Palestina adalah Kitab Suci Perjanjian Lama berbahasa Ibrani. Sidang di Yamnia, yang diadakan pada tahun 100 M, memutuskan secara definitif kitab-kitab mana saja yang dianggap sebagai perwahyuan ilahi. Daftar kitab-kitab yang diputuskan sebagai daftar resmi dan ukuran kebenaran suci (kanon) dalam sidang ini tidak sama dengan daftar kitab-kitab yang ada di dalam PL berbahasa Yunani. Ada tujuh kitab dalam PL Yunani yang tidak termuat di daftar resmi (kanon) tadi. Oleh karena itu, ke 7 kitab itu disebut deuterokanonika (kanon atau daftar resmi yang lainnya).

b. Akhir abad ke dua

Di akhir abad kedua, muncul keraguan tentang derajat kitab-kitab Deutero-kanonik. Apakah kitab-kitab itu juga merupakan perwahyuan ilahi ? Keraguan ini muncul ketika orang-orang Kristen berdebat dengan orang-orang Yahudi. Ada kecenderungan untuk mengikuti sikap orang-orang Yahudi yaitu dengan menganggap kitab-kitab Deutero-kanonik sebagai aprokrip, atau bukan bagian dari Kitab Suci. Origines punya sikap begini : dalam perdebatan dengan orang Yahudi, pakailah Kitab Suci menurut orang Yahudi ; tetapi dalam kehidupan Gereja sendiri, apa yang sudah ada tidak perlu diubah lagi, artinya  menerima kitab-kitab Deutero-kanonik sebagai buku-buku suci.

c. Abad ke empat

Di abad ke empat, di Gereja Timur secara resmi diterima bahwa kitab-kitab Deutero-kanonik tidak termasuk Kitab Suci Perjanjian Lama. Kitab-kitab itu bagus untuk pengajaran tetapi bukan termasuk wahyu ilahi. Secara khusus, hal ini dipertegas oleh sekolah teologi Alexandria. Tetapi ada dua catatan : pertama, beberapa teolog, khususnya dari sekolah Antiokia, tidak terlalu terikat dengan sikap resmi ini, misalnya Yohanes Krisostomus. Kedua, bahkan diantara mereka yang tegas mengikuti sikap resmi ini, ada juga yang masih mengutip kitab-kitab Deutero-kanonik dalam tulisan mereka.

Di Gereja Barat, kitab-kitab Deutero-kanonik tetap termasuk di dalam Kitab Suci Perjanjian Lama. Sikap ini secara resmi ditemukan misalnya dalam Sinode Hippo (393) dan Sinode Kartago (397). Agustinus juga bersikap demikian. Tetapi beberapa teolog Gereja Barat yang punya relasi erat dengan Gereja Timur, seperti Hieronimus dan Hilarius, menganggap kitab-kitab Deutero-kanonik bukanlah termasuk dalam bilangan buku-buku suci.

Permenungan :

  • Dalam hidup beragama, menentukan mana yang wahyu ilahi dan mana yang bukan ternyata membutuhkan campur tangan manusia. Kalau perwahyuan itu diterima dan disimpan bagi diri sendiri, tidak perlu ada sinode segala. Tetapi, ketika menyangkut kehidupan bersama, dibutuhkan pembicaraan banyak pihak.
  • Dalam konteks Kitab Suci Perjanjian Lama, dapat diamati bagaimana Gereja sebenarnya begitu erat dan ingin dekat dengan tradisi Yahudi. Apa yang dianggap sebagai buku suci oleh orang Yahudi, diterima juga oleh Gereja. Di satu sisi, kecenderungan ini dapat dimengerti karena Yesus dan para rasul sendiri adalah orang Yahudi dan Yesus datang untuk memenuhi harapan dan janji Allah yang pertama-tama ditujukan dan ditemukan dalam âgama Yahudi. Tetapi di sisi lain, ada kecenderungan untuk menjadi terbuka untuk semua orang juga. Hal ini dapat dilihat dari penggunaan Kitab Suci Perjanjian Lama berbahasa Yunani sebagai Kitab Suci Gereja, dan bukan yang berbahasa Yahudi. Dua kecenderungan ini senantiasa muncul dalam Gereja : berakar pada tradisi Yahudi dan terbuka pada dunia yang lebih luas. Sikap ini sekali lagi bukanlah sikap Gereja semata, tetapi Gereja belajar dari para rasul dan dari Tuhan Yesus sendiri : datang ke dunia sebagai orang Yahudi tetapi hidupNya untuk keselamatan seluruh umat manusia.
  • Perdebatan teologis punya peran dalam pembentukan sendi-sendi hidup Gereja. Perdebatan dengan gerakan Gnosis mematangkan pemahaman Gereja tentang Tradisi. Sekarang, perdebatan dengan orang Yahudi mendorong Gereja merenungkan sikap terhadap Kitab Suci Perjanjian Lama. Dan hal ini akan masih kita lihat bersama.
  • Bagi kita sekarang : buku yang sekarang kita kenal sebagai Kitab Suci Perjanjian Lama adalah saluran perwahyuan, sarana Allah berbicara kepada kita. Sejarah Gereja mengajarkan bahwa Kitab Suci (PL dan PB) adalah pertama-tama buku Gereja, dan bukan buku pribadi, dan oleh karena itu harus dibaca bersama dan dalam Gereja. Seperti Gereja Perdana, setiap murid Kristus juga hendaknya punya sikap akar dan sayap : berakar pada iman Gereja tetapi bersayap keterbukaan menyapa dan terlibat dalam hidup dunia yang lebih luas.

(Sumber: JND Kelly, Early Christian Doctrine, Continuum New York 2000, hlm. 52-56)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s