Puasa

Jumat sesudah Rabu Abu , 11 Maret 2011

Yes 58:1-9a,  Mzm 51:3-45-6a18-19, Mat 9:14-15

Ada yang berpuasa tapi tidak bertobat (Yes 58 :4-5, engkau berpuasa sambil berbantah-bantahan, menindas sesamamu…), ada yang tidak berpuasa tetapi sungguh bertobat (Lukas 19 :2-8, kisah Zakheus).

Beberapa kisah yang terjadi pada awal masa puasa :

Seorang mahasiswa yang mencari tambahan uang saku dengan menjual makanan bikinannya sendiri bertanya tentang menu untuk keesokan harinya : bagaimana kalau besok saya buatkan spaghetti ?

Temannya yang memang doyan spaghetti spontan mengangguk senang. Tetapi tiba-tiba menyeruak satu suara protes : tidak bisa, besok kan hari Jumat, hari pantang.  Mahasiswa yang doyan spaghetti, yang juga orang Katolik, tertunduk lesu. Si penjaja makanan mendekatinya sambil berbisik : ya sudah, tidak apa-apa. Besok aku buatkan spaghetti khusus buatmu…

Kisah lainnya terjadi di sebuah âsrama para calon imam. Semua penghuni âsrama dikejutkan melihat menu siang hari itu : opor daging sapi. Mereka terkejut sebab hari itu adalah hari Rabu Abu, awal puasa. Bagaimana mungkin hal ini dapat terjadi di sebuah seminai? Jelas kepala dapur salah melihat kalender.

Diskusi pun berkembang di ruang makan : menyantap opor daging sapi yang terlanjur dimasak untuk ratusan kepala, atau tidak menyentuhnya sama sekali untuk menghormati peraturan pantang dan puasa ?

Entah disadari atau tidak, penghayatan kita akan pantang dan puasa masih harus menembus level peraturan dan hukum untuk sampai pada maknanya yang sejati.

Di zaman Yesus, kebiasaan mengadakan puasa secara rutin adalah tanda kesalehan. Orang-orang Farisi dan para murid Yohanes, golongan paling saleh di antara orang-orang Yahudi, melakukan puasa rutin dua kali setiap minggunya.

Para murid Yesus tampaknya tidak memiliki tanda kesalehan ini. Mereka tidak berpuasa secara rutin walau itu tidak berarti mereka selalu berkelimpahan makanan (para murid tidak selalu dapat memuaskan rasa laparnya secara wajar, lihat misalnya Markus 2 :23, para murid mengambil bulir-bulir gandum di hari sabat untuk santapan mereka).

Ketika orang Farisi dan para murid Yohanes mempertanyakan kesalehan para muridNya, Yesus berkata bahwa kesalehan mereka tidak diperlihatkan semata-mata dengan puasa. Kesalehan mereka nampak jelas dengan berada bersama Sang Mempelai, yaitu Sang Mesias, Yesus sendiri.

Kalau pun para murid berpuasa, mereka melakukannya bukan untuk pâmer kesalehan, tetapi sebagai sebuah kesaksian bahwa dunia masih harus menantikan sukacita yang paling besar yaitu hidup bersama Allah melalui Sang Putra di kehidupan kekal.

Maka, puasa orang Kristen bukanlah puasa dalam kesedihan tetapi justru dalam sukacita. Doa, puasa dan perbuatan amal adalah ungkapan wajar setiap orang yang telah disentuh Tuhan. Doa, puasa dan perbuatan amal juga sarana untuk dapat mengasihi Tuhan dan sesama lebih sungguh.

Tuhan Yesus memberkati dan Bunda Maria melindungi

 

2 pemikiran pada “Puasa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s