Thales

500 tahun sebelum Kristus, hiduplah Thales, seorang pemikir yang berdiri tegap sebagai sesepuh dan pendahulu para pemikir besar dunia Yunani yang muncul kemudian seperti Sokrates, Plato maupun Aristoteles. Ia dianggap agung karena satu hal: kemampuannya untuk kagum di hadapan keanekaragaman. Alam yang setia berubah rupa dalam musimnya dan kekayaan mahluk pengisi semesta mengantar sang Thales pada satu tanya: dari mana semua ini berasal?

 Pertanyaan ini menjadi langkah pertama menuju sebuah petualangan akalbudi dalam menelusuri lika-liku rahasia alam raga. Rasa kagum melahirkan tanya dan setiap tanya mendorong pemikiran yang selanjutnya menyodorkan kekaguman dan pertanyaan baru. Demikianlah seterusnya begitu. Dari mana semua ini berasal? Dari mana perbedaan ini datang?

Tenggelam dalam kekaguman akan alam jasmani yang begitu kaya dan terlebih akan keteraturan di balik keanekaragaman semesta, Thales sampai pada satu keyakinan: keanekaan ini pasti lahir dari satu mahluk tunggal yang mendasari semuanya. Dengan demikian, perbedaan dilihat oleh Thales sebagai keanekaragaman penampakan dari satu mahluk dasariah. Dan baginya, mahluk dasariah yang pasti dijumpai di setiap wujud yang berbeda-beda itu adalah air.

Ketika suhu menjadi lebih dingin, air memadat menjadi es yang akan kembali menjadi air ketika suhu berangsur-angsur hangat kembali. Tetapi ketika kehangatan menjadi panas, air menjadi asap uap yang akan menjadi air kembali ketika suhu pelan-pelan didinginkan. Entah dalam wujud padatnya sebagai es, entah dalam wujud asapnya sebagai uap, air tetap tinggal sebagai dasar di dalamnya. Lagi pula, tambahnya, makanan setiap mahluk itu bersifat lembab dan basah dan bahkan panas sendiri punya unsur kelembaban di dalamnya.

Dari sini, Thales menyumbangkan satu pemahaman yang menempatkannya sebagai satu sosok agung dalam jagad pemikir Yunani kuno: kesatuan dalam perbedaan dan perbedaan dalam kesatuan.

Kekaguman melahirkan tanya dan tanya melahirkan pemikiran dan mengolah pemikiran berarti melatih akal dan rasa untuk menjaga lentera daya kritis budi agar tetap menyala di tengah deraan topan khayalan dan prasangka.

Di jaman ini, keanekaan tidak melahirkan kekaguman tetapi ketakutan. Dunia hanya melihat ancaman di balik segala yang berbeda. Agama yang satu melirik curiga agama lainnya. Bangsa yang satu pasang kuda-kuda di hadapan bangsa lainnya. Suku yang satu main mata untuk melumatkan suku tetangga.

Tanggapan baliknya tidak kalah melumpuhkan: mengagungkan perbedaan sambil menyangkal kesatuan. Oleh karena itu, perbedaan menjadi komoditi yang mahal. Orang berlomba-lomba membeli barang limited edition. Oleh karena itu, kaum muda mengambil jarak dari masyarakat umum dengan menciptakan bahasa, penampilan dan tata nilai yang berbeda.

Akal budi telah dibius oleh mimpi iklan laksana mitos baru. Ciptaan manusia kini lebih memukau dari alam semesta. Tidak heran, rasa kagum yang ada saat ini adalah rasa kagum sintetik plastik, yang tidak menumbuhkan pemikiran kritis. Rasanya, jarak 2500 tahun dari Thales bukanlah rentang waktu yang lama.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s