Aloysius Gonzaga

Dari segi usia, ia terbilang muda. Baru 21 tahun. Dengan kata lain, kesempatan masih luas terbentang untuk mengasah diri dan meniti jenjang kesuksesan duniawi. Dari segi kepandaian, ia tidak diragukan lagi. Penampilannya di depan umum dalam memaparkan persoalan filsafat memukau publik. Dari segi kekayaan, jelas tidak ada masalah. Ia dari keluarga Gonzaga, keturunan bangsawan kaya spanyol yang punya relasi dekat dengan keluarga-keluarga penting lainnya di seluruh Eropa.

Singkat kata, apa lagi yang kurang dari si Aloysius Gonzaga? Kebahagiaan dan kesuksesan duniawi tinggal dipetik semudah memetik buah jeruk yang menjuntai ke telapak tangan. Tetapi, Aloysius Gonzaga menjungkirbalikan perkiraan dunia.

Justru di tengah kesempatan meraih sukses dunia, ia meninggalkan lembaga pendidikan dan tanah kelahirannya untuk terjun ke tengah para penderita penyakit sampar yang memenuhi kota Roma. Pada tahun 1591, di Kota Abadi,  ia menemui ajalnya ketika tengah membantu orang-orang yang menderita.

Bagaimana seorang muda, kaya, pintar dan ternama seperti Aloysius Gonzaga memilih untuk mati dalam pelayanan bagi para penderita sampar dan bukannya memilih ketenaran dunia yang bisa ia raih? Ia memang sudah menjadi anggota Serikat Yesus waktu itu. Akan tetapi toh ia tetap bisa tinggal di Spanyol dan merintis karir akademis di sana. Yang jelas si Aloysius muda bukanlah anak manja. Lantas, dari mana “militansi” ini datang?

Semangat santo Ignatius pendiri Serikat Yesus pasti tertanam di hati mudanya. Dalam diri laskar Kristus dari Loyola ini, Aloysius muda menemukan gaya hidup yang dapat menyandingkan gelora muda dan ungkapan imannya. Bisa ditambahkan tokoh lainnya, yaitu santo Carolus Boromeus, uskup Agung Milan, yang menjadi pembimbing rohaninya. Santo yang terkenal karena semangat pastoral yang tiada mengenal lelah ini pasti juga menjadi inspirasi Aloysius muda.

Singkat kata, kemampuan Aloysius untuk mati demi Kristus dalam pelayanan bagi mereka yang menderita bukan sekedar anugerah yang datang dari langit. Ada tangan-tangan manusiawi milik mereka yang lebih tua yang ikut merawat benih panggilan yang Tuhan taburkan. Beato Yohanes Paulus II pernah menulis: masa muda adalah masa terbaik untuk mencari dan berjumpa dengan Kristus. Mereka, anak-anak muda ini, mencari figur yang lebih dewasa, yang berada di jalan yang sama dalam pencarian akan wajah Tuhan.

Di jaman ini, serentetan keluhan tentang anak muda dapat dijadikan satu “litani” yang panjang. Anak muda kurang tanggaplah, kurang inisiatif lah, bisanya cuma berleha-leha lah, cari jalan pintas, dan seterusnya. Akan tetapi, pernahkah direnungkan bahwa jalan yang mereka ambil saat ini adalah jalan yang telah dan sedang diambil oleh angkatan sebelumnya?

Tuhan Yesus memberkati dan Bunda Maria melindungi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s